In a message dated 6/20/00 6:11:53 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Wah...., rasa-rasanya tulisan anda sekarang lebih 'merdu' dari
>  sebelumnya (tuh khan, jangan kuatir nggak ada yang appreciate terhadap
>  tulisan anda yang bagus....).

Rekan Budi, saya nulis bukan untuk dipuji tulisan bagus
atau tidak, merdu atau tidak....:)
Pujian atau hal2 seperti itu bagi saya akan datang dengan
sendirinya kelak setelah orang melihat dan merasakan
kebenaran dari tulisan kita dan juga dirasakan manfaatnya
oleh pihak yg berangkutan. Walau demikian, bagi saya
pro dan kontra terhadap suatu tulisan adalah hal yg wajar2
saja. Sekedar informasinya saja, beberapa waktu yg lalu
saya mendapatkan tawaran untuk menjadi pembicara dalam
suatu seminar di Jakarta/tanah air untuk bulan Juli/Agustus
dimana biaya akomodasi (tiket pulang pergi dan selama
di Jakarta) akan ditanggung oleh panitia dan masih dapat
bayaran lagi sebagai pembicara.
Walau demikian, saya menolak tawaran tersebut secara halus
dengan mengatakan bahwa saya tak lama lagi akan balik
ke tanah air. Jadi, lebih baik nanti saja pas saya kembali
ke tanah air. Pikir punya pikir, enak juga ya jadi pembicara
di suatu seminar. Dari kesediaan panitia tersebut mengeluarkan
biaya atas saya saja tampaknya saya perkirakan untuk satu
kali jadi pembicara bisa dapat bayaran minimal 10 juta.....:)

Kembali dalam soal menulis. Saya lebih cenderung menerapkan
konsistensi dalam bersikap ketika menulis. Karena saya dari
awalnya sudah memposisikan diri untuk membela kepentingan
rakyat kebanyakan, karenanya tulisan2 atau opini2 saya
kalau anda simak dengan baik intinya akan sering mengarah
ke hal tersebut.

>  Kalau begitu, kita kembali ke topik diskusi ini.
>  Saya jadi pingin tahu, dimana sebenarnya korelasi antara 'ulah' AR
>  dengan dibakarnya 200 orang Kristen di Maluku bbrp hari terakhir ini?

Masih ingat peristiwa awal Januari kemarin di silang monas?
AR kasih pidato apa?
Inilah salah satu dampak bila seorang ketua MPR tidak lagi
mementingkan kepentingan bangsa, grasak-grusuk seperti
orang cacingan, mabok demokrasi lupa kepentingan bangsa,
atau istilah Wimar Witoelar seperti orang yg dikasih motor
eh dipake kebut2an....:)


>  Saling menyapa dan membantu tanpa perlu tahu atau
>  peduli siapa agamanya apa. Hal yang sama juga saya rasakan ketika
>  beberapa kali mengunjungi Ambon (terakhir akhir tahun 1996). Ada
>  pendapat nggak, kenapa antar mereka sendiri menjadi sedemikian
>  membencinya, sampai-sampai berani membunuh dan rela mengorbankan jiwa?

Karena ada yg manas2in (provokasi), karena memang ada misi
tertentu (rebutan kekuasaan atau ladang di Maluku), karena dendam
yg tak bisa diredamkan, karena adanya kesulitan ekonomi yg
sepertinya tiada akhir, dan masih banyak lagi segudang alasan
yg bisa dituliskan.

Solusinya?
Impeach Amien Rais dan segera tuntaskan kasus Soeharto
agar bisa segera jelas hasilnya. Setelah itu, rakyat baru bisa
melihat pemerintahan berkonsentrasi pada pemulihan ekonomi
untuk kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan itu nantinya,
perlahan2, luka yg ada dihati rakyat Maluku bisa secara bertahap
diobati.

Rekan Budi, anda lihat sendiri bagaimana posting awal saya
tidak mengaitkan sama sekali ke masalah SARA, tapi seorang
netter mencoba menarik masalah ini ke masalah SARA
dengan lagi2 menuduh saya membela orang Kristen.
Padahal anda bisa baca sendiri posting saya atas topik
ini tidak ada secuilpun yg menyalahkan agama lain atau
mendukung satu agama. Tapi lagi2 orang tersebut membelokkan
apa yg saya tulis dengan menariknya ke masalah SARA.
Entah apa maksud orang tersebut dengan mencoba memancing
sentimen agama di milis ini.
Tapi lucunya dari orang ini adalah, dia telah berkali2 pamit
dari dari milis ini, tapi ujung2nya tetap saja menulis kembali....:)


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke