Wah, hebat juga anda ini. Dapat undangan untuk menjadi pembicara di
suatu seminar di tanah air dan dibayari. Berarti anda sudah mulai
terkenal dong sekarang. Numpang ngetop dong saya ....., bagian bawain
transparant sheet-nya juga boleh deh........ Khan gaya dong, bisa
dilihat orang banyak....
Oh ya, kalau boleh tahu, dalam bidang apa nih seminarnya?

Irwan Ariston Napitupulu wrote:

> Masih ingat peristiwa awal Januari kemarin di silang monas?
> AR kasih pidato apa?
> Inilah salah satu dampak bila seorang ketua MPR tidak lagi
> mementingkan kepentingan bangsa, grasak-grusuk seperti
> orang cacingan, mabok demokrasi lupa kepentingan bangsa,
> atau istilah Wimar Witoelar seperti orang yg dikasih motor
> eh dipake kebut2an....:)

Sepertinya kok nggak berhubungan antara pidato AR di Monas dengan
kerusuhan Ambon saat ini. Jauh banget ya kalau mau dihubung-hubungkan.
Apalagi kejadiannya berbeda waktu cukup jauh (Januari dengan Juni).
Kalau mempelajari gaya orang kita selama ini, reaksi yang muncul selalu
segera (dari hitungan jam sampai hari) setelah adanya suatu aksi, dan
itu nggak perlu nunggu sampai berminggu-minggu atau bahkan bulanan. Lha
wong orang Indonesia itu gampang lupaan lho (ops.... maaf, maksud saya,
saya yang gampang lupa). Lagian isi pidato Amien khan cuman datar-datar
saja, yaitu ngingetin GD agar konsentrasi sebagai juragan pemerintahan
rather than sebagai politisi. Terus, yang bereaksi setelah itu khan
cuman beberapa elit politik (di koran-koran). Masyarakatnya mah
tenang-tenang saja. Lha wong memang nggak menyangkut kepentingan banyak
orang.

> Solusinya?
> Impeach Amien Rais dan segera tuntaskan kasus Soeharto
> agar bisa segera jelas hasilnya. Setelah itu, rakyat baru bisa
> melihat pemerintahan berkonsentrasi pada pemulihan ekonomi
> untuk kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan itu nantinya,
> perlahan2, luka yg ada dihati rakyat Maluku bisa secara bertahap
> diobati.

Lha ya ini pertanyaan saya sejak awal. Kalau AR-nya nggak punya salah
yang berarti, lalu ngapain harus melakukan impeachment. Lagian, kata
impeachment thd AR ini saya tidak pernah dengar dari anggota DPR/MPR
(lembaga yang berwenang untuk melakukannya). Justru saya dengarnya baru
dari anda saja. Apakah Wimar mengatakannya explicitely?

Kalau Clinton khan memang melakukan hal 'tidak senonoh' di ruang kerja
kepresidenan-nya. Nah, ke'tidak senonoh'-an AR itu yang mana, sehingga
anda mengatakan layak untuk di'impeach'khan?

Soal luka hati masyarakat Ambon dan Maluku, dan daerah lainnya, kayaknya
susahlah menyembuhkannya, apalagi kalau itu menyangkut nyawa yang
'hilang'. Masih ingat nggak kasus Madura-Dayak di Kalbar dan Kalteng.
Baru-baru saja orang tahu ketika terjadi lonjakan jumlah korban yang
besar. Padahal, masalah sakit hati dan dendam (atau istilah seremnya
'hutang nyawa') mereka telah terjadi puluhan tahun yang lalu. Setiap
tahun selalu saja gantian bunuh-membunuh ini terjadi. Hanya saja karena
yang terbunuh nggak sampai hitungan lima setiap tahunnya, orang-orang
nggak pada ribut dan nggak banyak di-expose. Nah, perasaan tsb nggak
akan jauh berbeda dengan di Ambon dan Maluku. Bagaimana mungkin
menyembuhkan penyakit 'hutang nyawa' ini? Pernahkah membayangkan (sekali
lagi, hanya membayangkan) ada anggota keluarga anda (yang tentunya anda
sayangi dan cintai) yang terbunuh oleh kelompok lain di dekat ataupun di
depan mata anda? Kecuali kalau anda memang sangat-sangat penakut, tentu
anda sangat-sangat tidak bisa merelakannya, iya khan...? Dan tentunya
anda akan mencari kesempatan untuk membalas dendam, iya khan....?
Demikian juga halnya perasaan orang-orang di kelompok 'seberang'. Lalu,
sampai kapan hal ini bisa diakhiri....??

Mungkin anda punya ide?

Salam,
Budi

Kirim email ke