kayaknya kalo sumbernya selain detik.com dimasukin juga kayaknya lebih mantep nih
diskusinya. mungkin sumbernya bisa ditambahkan yang lain juga seperti tempo.com atau
majalah/koran yang lain. jadi bisa rada2 valid.
faran
>Date: Wed, 21 Jun 2000 18:19:19 EDT
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: Beda ketua MPR dan Presiden (was: Re: Maluku....)
>To: [EMAIL PROTECTED]
>
>In a message dated 6/21/00 5:49:24 PM Eastern Daylight Time,
>[EMAIL PROTECTED] writes:
>
>> Kayaknya di sini nih belokannya.
>> Kalau saya sih mikirnya begini, karena MPR itu lembaga, maka omongan
>> satu atau dua orang anggota atau bahkan ketua lembaga tsb TIDAK BERARTI
>> sebagai atau mengatasnamakan lembaga ybs. Kalau 'omongan' lembaga tsb,
>> selalu akan disebut sebagai Keputusan MPR (tidak peduli siapapun anggota
>> MPR yang membacakannya). Dengan kata lain, biarpun ketua MPR ngomong apa
>> saja (di koran, di rumah, di warung, di pesantren, dll), tidak berarti
>> bahwa itu adalah 'produksi' lembaga MPR.
>> Kelihatan khan bedanya?
>> Saya rasa, hampir semua orang tahu posisi ini. Lha kok Irwan punya
>> pemikiran yang aneh gini?
>
>
>
>Apakah seperti itu pula pemikiran umum?
>Pernah lihat atau baca tulisan wawancara dengan Amien
>Rais? Saya beberapa kali menemukan hasil wawancara
>dengan Amien Rais dimana dia memposisikan dirinya
>seperti MPR itu sendiri, orang yg berkuasa alias bisa
>mengatur semua keputusan MPR dengan kata lain
>terdengar MPR seperti berada dibawah kekuasaannya.
>Nanti deh, kalau saya ketemu lagi wawancara yg bernada
>seperti itu akan saya kirimkan ke milis ini.
>
>Orang luar pun saya perhatikan sangat memperhatikan
>ucapan2 dari seorang Ketua MPR.
>
>Ngomong2, menurut anda lazim ngga sih seorang presiden
>mengeluarkan suatu pendapat ke publik dengan mengatas
>namakan pribadi misalnya Clinton ngomong "Maunya
>saya sih suku bunga jangan dinaikin lagi deh"
>tanpa memikirkan resiko bahwa ucapannya tersebut
>bisa membawa dampak karena membawa bobot
>atas siapa yg mengucapkannya.
>
>Oh ya, ngomong2 rekan Budi selama di AS pernah ngga
>mendengar seorang menteri dalam kabinet di AS
>mengomentari status hukum presidennya.
>
>Nah, di Indonesia sekarang mau jadi trend. Lihat saja,
>seorang menteri hukum dan perundang2an bisa
>ngomentari status hukum atas Gus Dur yg notabenet
>adalah atasannya....:)
>http://www.detik.com/peristiwa/2000/06/21/2000621-165613.shtml
>
>Khan ini jelas sudah diluar kapasitasnya sebagai seorang
>menteri. seharusnya yg boleh komentari hal2 seperti itu adalah
>pihak kejaksaan atau pun DPR. Bukan seorang menteri.
>
>Inilah salah satu contoh akibat sistem dan prosedur yg masih
>semrawut seperti yg sudah berkali2 saya ungkapkan di milis ini.
>
>Mudah2an kabinet baru yg akan dibentuk nantinya setelah SU
>oleh Gus Dur akan benar2 kabinet yg berisikan orang2 yg
>sungguh2 loyal terhadap kepemimpinan Gus Dur agar proses
>pemulihan ekonomi ini bisa berjalan dengan lebih baik.
>
>Saya dengar Mega dan Akbar Tandjung sudah setuju dengan
>rencana ini.
>
>Amien Rais juga sudah setuju menyerahkan hal tersebut
>kepada Gus Dur sepenuhnya, cuma saja kalau sampai
>ada orang dari poros tengah di depak, Amien Rais
>akan menagkisnya.....:)
>http://www.detik.com/peristiwa/2000/06/20/2000620-173227.shtml
>
>Lha, ini kira2 gaya bahasa apa ya? Ngancem?....:)
>
>ngomong2 anda suka mengikuti celetukan Wimar Witoelar
>di detik.com?
>Kalau belum, coba deh iseng2 lihat di:
>http://www.detik.com/kolom/wimar/soundbyte/
>Komentar2nya ditulis dengan sangat pendek,
>tapi menurut saya cukup mengena juga....:)
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
------------------------------------------------------------
Happy Summer from the staff at DCEmail.com
- FREE Email for the Community