Iya ya, rasa-rasanya diskusi kita nggak maju-maju. Apa yang tersirat
dalam tulisan saya nggak banyak yang tertangkap oleh anda, sementara apa
yang anda tuliskan menjadikan diskusi semakin melebar dan, yang
terpenting, saya bertambah bingung.
Mungkin ada baiknya kalau kita sudahi saja ya diskusinya, supaya saya
nggak 'over asyik', dan anda nggak kehabisan energi. Namun (hehehe....
masih ada namun-nya...), boleh dong untuk terakhir kalinya dalam diskusi
ini saya mengkomentari tulisan anda...... (Irwan: boleh saja, dan
tentunya saya juga boleh dong mengkomentari komentar anda). (Budi:
boleh.... boleh.....). GR lagi juga boleh khan.....?!
Irwan Ariston Napitupulu wrote:
> Andanya asik, sayanya yg merasa ngga asik
> karena diskusi ini mengarah ke debat kusir khususnya
> bagian kebut2an.....:
Katanya membela kepentingan rakyat banyak, kenapa masih melecehkan
profesi kusir? (Dahulu kala saya pernah kritik yang sama khan.....? Apa
anda lupa bahwa anda adalah orang yang terbuka untuk dikritik dan bisa
menerima masukan seperti yang selama ini anda gembar-gemborkan di milis
ini...??).
Saya lebih suka mengatakannya kemungkinan mengarah ke 'debat bebek',
artinya 'bebek-bebek'nya ribut, orang lain terganggu dan pening karena
nggak ngerti yang diributkan. Apa iya...? Kalaupun toh benar, berarti
'bebek'nya tambah satu dong, yaitu kang Acu. Lha wong dia juga ngerti
yang didebatin 'para bebek' ini. Iya nggak kang Acu..?? Atau,
sebaliknya. Kalau orang yang lain juga ngerti yang didebatin, berarti
ini bukan 'debat bebek'. Anda bukan 'bebek' dan saya juga bukan 'bebek'.
Hehehe......, jadi kita nggak perlu repot-repot nyari dedak untuk
breakfast, lunch, dan dinner.
> (Terus terang saya lagi ngga kepengen diskusi yg
> bermain2 dengan kata.....:(
Ya kalau diskusi tanpa kata-kata khan kayak pantomim....
Gimana caranya coba memasukkan gerakan-gerakan pantomim ke dalam
email.... (kecuali kalau kang Acu sudah menemukan formulanya...).
> Betul, apa artinya Soeharto Award II yg hanya memiliki 600
> suara saja (seperti informasi yg anda berikan sebelumnya)
> dari sekian ratus juta jiwa Indonesia. Tapi diposting terdahulu,
> jumlah 600 ini tampaknya sudah cukup representatif bahwa
> Amien Rais bukan termasuk salah satu yg perlu "dibenerin"
> [mengutip istilah anda dalam posting tersebut].
> Mengutip penjelasan anda di atas, khan saya juga jadi bisa
> bilang apa artinya polling atas 600 suara dibanding dengan
> ratusan juta suara lainnya yg tidak ditanyai?
Ini contoh kalau anda nggak menangkap dengan lengkap esensi tulisan
saya. Kalau gitu saya coba jelaskan sedikit ya (Irwan: ogah ah, emang
gue kagak ngerti..?! Budi: ya terserah aja, wong saya pingin nulis
ini....). Gini ya mas ya...., bagaimanapun, teman-teman mahasiswa UI tsb
khan rakyat juga yang mengalami dan merasakan langsung segala fenomena
buruk yang terjadi di tanah air (mereka 'pemain bolanya' dan anda 'hanya
penontonnya'). Sehingga apa yang mereka raba-rasakan adalah sebagai
dasar dari manifestasi yang mereka lakukan untuk mencari perbaikan
fenomena-fenomena buruk di sekitar kehidupan mereka (Irwan: elu jangan
banyak makai kata-kata susah gitu dong.... Budi: ya gimana lagi,
kata-kata itu saya dapat dari pelajaran Bhs Indonesia...). Nah, salah
satu manifestasi ala mhs ini adalah polling opini diantara sesama mhs
yang diakhiri dengan pemberian Soeharto Award. Unfortunately, dari hasil
polling tsb, nama AR nggak muncul untuk termasuk sebagai 'juragan'
pemerintah yang perlu 'diingatkan' perbuatan jeleknya. Bukankah ini bisa
dijadikan indikator bahwa kenapa diantara 600 mhs UI secara acak nggak
nyebut AR berbuat buruk. Sekali lagi, mereka-mereka ini benar-benar ada
di lapangan, dan tahu persis di sebelah mana dari 'lapangan' tsb yang
ada semut merahnya, sebelah mana yang ada (maaf) kotoran anjingnya
(maklum, lapangan di tanah air khan nggak bebas kotoran anjing...), dan
siapa saja yang ikutan 'main bola'.
Bandingkan dengan anda yang sebagai 'penonton', hanya berdasarkan pada
tulisan di koran, sukur-sukur bisa dengar siaran langsung dari radio,
apa tahu letak kotoran anjing tadi? Namun, sebagai 'penonton' tentu anda
ngamuk-ngamuk dan teriak-teriak: "Hei...., kamu giring bolanya lewat
situ, situ kosong ....... (maaf) goblog...!!!"
Coba kalau pemainnya denger teriakan anda......, tentu anda akan tahu
kira-kira apa jawaban mereka.
> Ngomong2, emangnya anda tahu dari mana bahwa yg akan
> berkeinginan mengimpeach Amien Rais itu cuma satu dua
> orang saja? Apakah karena mereka belum bersuara lalu
> dengan serta merta anda langsung mengambil kesimpulan
> bahwa mereka tidak ingin mengimpeach Amien Rais?
Katanya anda mau jadi pembicara di seminar nasional dan dibayari ticket
pp Cleveland-Jakarta, lha kok baca tulisan lagi-lagi nggak ngerti. Di
sini anda khan mengkomentari contoh proporsi yang saya kasihkan. Baca
khan kalau dibelakang tulisan saya tsb ada kata: (misalnya nih...)?
Dugaan saya, anda memang sering nggak ngerti baca berita, namun
geregetan untuk langsung saja menuliskan ide anda di milis agar semua
anggota milis tahu bahwa anda memang seorang pejuang rakyat jelata,
pembela kepentingan rakyat kebanyakan, penyelamat ekonomi nasional,
dll.... wow.....wow...wow..... Luhur dan mulianya cita-cita anda....
> Rekan Budi, kalau cara diskusi seperti di atas diteruskan, kita ngga
> akan kelar2 nantinya. Buntut2nya, ya kita perlu saban hari
> pemilu terus aja biar tahu pendapat rakyat Indonesia
> secara keseluruhan dan secara lebih pasti....:)
Ngomong soal buntutnya, saya kira nggak perlu. Kita khan bisa dapat dari
'agregat'. Artinya, nggak perlu sampai menggelar survey atau jajak
pendapat besar ke seluruh Indonesia. Kalau isu yang beredar di
masyarakat santer dan datangnya dari berbagai variasi massa (tidak
partisan dan tidak punya afiliasi thd kelompok tertentu), kita bisa saja
pakai data itu untuk bereaksi. Hal ini pulalah yang selama ini telah
dilakukan oleh sebagian besar mhs kita di Indonesia.
> Lho, jadi penjelasan saya atau jawaban saya atas pertanyaan
> anda tersebut ngga dianggep toh?
> Weleh, capek2 saya nulis kasih penjelasan eh malah dicuekin.
> Gimana sih?...:)
> Coba deh baca lagi, waktu itu saya singgung soal pidato
> Amien Rais di silang monas awal januari lalu yg berkaitan
> dengan kasus ambon.
Lho juga, jadi itu jawabannya ya.....?!
Waktu itu saya khan nanya, apa hubungan AR dengan kasus Ambon. Nah,
kalau jawaban anda itu saya khan semakin ragu, sehingga saya bertanya
ulang sampai ke "kata-kata AR yang mana yang bisa mengakibatkan Ambon
rusuh". Betapa tidak, sedemikian hebatnya kata-kata AR di Monas JKT bisa
mengakibatkan Ambon perang saudara dengan mengorbankan sekian ribu jiwa.
Relevan nggak sih? Lalu anda masih saja mengkaitkan kata-kata di Monas
Januari itu dengan kejadian di Ambon dan Maluku beberapa hari ini. Lho
kok.....???
> Nyambungnya adalah ketika Amien Rais yg ketua MPR itu
> bikin pernyataan2 ke publik yg kontra produktif yg membuat
> pihak yg mendengarnya jadi bertanya2 akan kelangsungan
> pemerintahan, kestabilan keamanan dan politik di tanah air.
>
> Siapapun pemerintah yg menjabat, kalau ketua MPRnya
> suka bikin pernyataan2 yg kontra produktif yg bisa
> mengganggu kestabilan keamanan dan politik, dan meningkatkan
> ketidakpastian akan keberlangsungan pemerintahan,
> akan sulit melakukan pemulihan ekonomi.
Kata-katanya yang kontraproduktif itu yang mana?
Inilah yang sebenarnya saya pingin tahu, sehingga kalau benar saya bisa
mendukung anda untuk meneriakkan 'impeach' AR.
> Jangankan Gus Dur, Clinton pun kalau disuruh menjabat
> sebagai presiden Indonesia dengan kondisi seperti di
> Indonesia sekarang, dia akan sulit melakukan pemulihan
> ekonomi. Sebentar2 direcoki.
Jangan pakai perumpamaan seperti ini mas, selain nggak cocok, susah
untuk bisa diterima akal sehat.
> Makanya, investor tuh pada ogah masuk dan lebih
> memilih menunggu kepastian nanti setelah Agustus.
> Investor dalam negeri yg ngabur pun juga jadi mikir2 untuk
> balik. Mereka cenderung cari aman dan lihat2 dulu
> perkembangan situasi.
>
> Tinggal kita rakyat Indonesia yg bercoba bertahan dari
> kucuran IMF. Dan anda lihat sendiri, saking tergantungnya
> Indonesia dengan kucuran IMF, sedikit tertunda, maka rupiah
> langsung goyang. Ini satu pertanda bahwa kondisi kita
> sekarang ini sudah sangat kepepet, susah. Untuk bisa
> makan saja kita hanya bisa mengandalkan kucuran hutang
> dari IMF. Coba deh bayangin, gimana saya ngga sakit
> hati melihat semua ini terjadi. Sementara para elit politik
> enak2an cuap2 sembarangan ngga perhatiin resiko atau
> dampak negatifnya terhadap nasib bangsa.
Ini khan pelencengan arah diskusi (lihat kembali subyek diskusi mas...).
> Mungkin nanti pada bulan Agustus, Gus Dur tidak jadi
> di impeach. Tapi, apa ya hal itu sifatnya sudah permanen?
> Apa iya sudah ada jaminan ketua MPRnya ngga akan
> lagi2 bilang akan mengimpeach pada bulan Agustus 2001?
> Anda toh sudah baca juga pernyataan Amien Rais yg mencoba
> meralat ucapannya soal impeachment dengan mengatakan
> bahwa dialah yang paling pertama tampil untuk mempertahankan
> Gus Dur sampai akhir masa jabatannya tahun 2004.
> Anda lihat sendiri, belum lama keluar ucapan itu, lagi2
> dia jilat air ludahnya sendiri dengan membuka kembali
> kemungkinan untuk impeachment.
> Jadi, apalagi yg bisa dipercaya dari janji2 Amien Rais?
Saya mulai mengerti sekarang. Pandangan anda tsb adalah berdasarkan
'serial-crossectional' berita, artinya anda mencoba melihat suatu berita
dalam SATU WAKTU tertentu, kemudian MEMBANDINGKANnya dengan berita yang
sama di WAKTU LAIN dan waktu yang lain lagi, sehingga anda mendapatkan
dan menyimpulkan berita-berita tsb menjadi bahan opini anda. Tentu saja,
hasil analisa anda tsb akan berbeda kalau anda melakukan pengamatan
terhadap berita-berita tsb dengan menggunakan pendekatan 'longitudinal'
analisis atau mungkin 'comprehensive' analisis, artinya menjadikan suatu
berita yang sama seperti suatu rangkaian (dari awal munculnya hingga
akhir) atau mungkin istilahnya kang Acu adalah 'disain operasional
informasi'. Di sini, anda akan bisa menganalisis lebih dalam kenapa
(misalnya) terjadi perubahan nuansa dari waktu ke waktu.
Soal 'impeachment' GD, sepanjang yang saya tahu, karena 'ulah'nya GD
maka AR pernah ngomong bahwa MUNGKIN SAJA sidang tahunan akan menjadi SI
KALAU fraksi-fraksi di MPR sepakat dan menginginkannya dan BISA SAJA
dalam SI tsb terjadi penggatian kepala pemerintahan (di sini AR melihat
bahwa cukup banyak fraksi yang kecewa dengan kinerja GD). Kemudian
dengan berjalannya waktu dan perubahan kinerja GD ke arah lebih baik, AR
pernah ngomong bahwa KEMUNGKINAN BESAR sidang tahunan nggak akan menjadi
SI (setelah melihat bahwa banyak fraksi sudah mulai 'melunak').
Sementara itu, secara pribadi, AR tetap akan mempertahankan GD sampai
akhir masa jabatannya, sebagai konsekuensinya dulu yang paling getol
menjagokan GD untuk jadi presiden. Namun bukan berarti dia akan
menentang keputusan MPR kalau ternyata nanti fraksi-fraksi lain
sedemikian ngototnya untuk menggantikan GD (misalnya).
> Sekarang malah coba2 pake cara aneh yaitu dengan
> mengusulkan agar presiden diperiksa kesehatannya oleh
> dokter independen untuk memastikan Gus Dur sehat2 saja
> mengingat katanya Gus Dur sudah sering mengeluarkan
> pernyataan yg aneh2. Justru bagi saya Amien Rais lah
> yg perlu diperiksa kesehatan otaknya.
> Koq seorang ketua MPR lebih mendahulukan kepentingan
> kelompok atau pun popularitas dirinya ketimbang kepentingan
> bangsa.
Melenceng jauh......
> Saya sempat ngobrol2 secara langsung dengan Pak
> Marzuki Usman, seorang anggota MPR yg mengaku seorang
> dari Muhamadiah yg juga mantan ketua Bapepam dan
> mantan menteri pariwisata. Beliau sempat cerita pengalamannya
> pada SU MPR tahun 1999 kemarin. Saat itu sedang terjadi
> pembahasan cukup sengit karena ada usulan agar posisi
> wakil presiden bisa lebih dari satu. Adu argumentasi pun
> berlangsung cukup panas. Marzuki Usman bercerita dia
> mendatangi Amien Rais dan bicara secara langsung layaknya
> seorang teman. Dia coba mengingatkan bahwa mereka sebagai
> anggota MPR hendaknya mendahulukan kepentingan bangsa
> dan tanah air dalam jangka pendek dan jangka panjang.
> Jangan hanya karena mendahulukan kepentingan jangka pendek
> dan ambisi tertentu kita sampai mempermalukan diri kita sendiri
> dan mengorbankan kepentingan yg lebih luas. Dia masih
> tambahkan lagi, bagaimana kita nantinya mempertanggung jawabkan
> keputusan untuk menambah jumlah wakil presiden ke anak
> cucu kita dan juga ke dunia internasional? Bukankah kita nantinya
> malah jadi bahan tertawaan?
> Ntah karena teguran ini atau tidak, akhirnya ide untuk menambah
> jumlah wapres itu batal.
Ya, anda hebat bisa ngobrol dengan anggota MPR, tapi, apa relevan anda
masukkan ini ke dalam diskusi kita......??
Anda ternyata membuang-buang energi anda sendiri, tetapi anda
menyalahkan diskusi kita ini untuk itu.
> Nyimpang sedikit, ngomong2 soal Marzuki Usman. Setelah
> saya ngobrol2 cukup panjang lebar, terus terang saya sangat
> kagum atas visinya untuk Indonesia. Tampak sekali keprofesionalan
> dia dalam menghadapi berbagai masalah setelah saya coba2
> lempar beberapa pertanyaan dan sekaligus ngecek apakah
> dia itu pro terhadap sesuatu kelompok atau tidak. Ternyata,
> dari jawaban2 yg diberikan, saya sangat yakin Marzuki Usman
> ini memang konsisten dengan visinya dan sangat profesional
> dalam melihat permasalahan. Dalam bincang2 dengannya
> tersebut, dia juga ada mengkritik beberapa hal atas Gus Dur
> dan hal2 lain. Tapi selain kritik yg diberikan, dia juga melemparkan
> pemikiran2 serta solusi2 yg menurut dia bisa membantu mengatasi
> kemelut ini. Visinya atas Indonesia di masa mendatang sangat
> jelas dan sangat reasonable.
> Kalau rekan Faran sempat bertanya ke saya siapa yg pantas
> untuk mengganti posisi Amien Rais dari posisi ketua MPR,
> kalau memang wakil2 ketua MPR lainnya tidak ada calon atau
> kandidat, cobalah tengok dan gali lebih dalam atas profil
> seorang Marzuki Usman.
Iya, iya, melencengnya kejauhan ooeeeeeiiiiiii.......
> Maksud dari "tertipu" itu adalah media massa bukannya
> menampilkan berita bohong. Melainkan, seperti kita tahu media
> massa memang seringnya menampilkan berita2 hangat
> dan kemudian dikemas sesuai dengan selera mereka
> lalu dibuat jor2-an.
>
> Contohnya saja soal intervensi Gus Dur atas BI.
> Saking hebatnya dan gencarnya pemberitaan ini,
> sampai2 banyak orang yg terkecoh seolah2 memang
> Gus Dur sudah melakukan intervensi atas BI.
> Padahal yg dilakukan Gus Dur hanyalah mendahului
> keputusan pengadilan dan mencoba melindungi
> Syahril Sabirin karena Gus Dur sudah yakin benar
> Syahril Sabirin ini bersalah berdasarkan informasi2 yg
> dia terima. Bagi saya ini bukan bentuk intervensi.
> Kalau yg namanya intervensi itu misalnya Gus Dur
> meminta BI untuk menurunkan tingkat suku
> bunga sebesar 1%. Atau Gus Dur meminta BI untuk
> menambah jumlah uang beredar agar masyarakat
> bisa punya duit lebih banyak. Atau Gus Dur meminta
> BI untuk menyuntik dana ke Bank UDB (Udah Dong Bang)
> agar terlepas dari krisis likuiditas.
> Tapi apa hal ini dibahas atau diulas di media?
> Khan ngga toh? Mereka banyak yg sudah terjebak
> dengan pemikiran bahwa Gus Dur memang sudah
> melakukan intervensi atas BI.......:)
>
> Contoh lain lagi adalah kasus Gus Im di BPPN.
> Sudah baca wawancara dengan Gus Im di Kompas?
> Kalau belum, nanti saya coba2 cari artikelnya.
> Atau mungkin ada rekan lainnya yg masih menyimpan
> alamat URL nya?
> Dari hasil wawancara itu saya baru tahu bahwa
> persepsi yg selama ini sempat terbentuk di masyarakat
> ternyata banyak yg tidak benar. Tadinya bayangan saya
> Gus Im ini adalah seorang lulusan pesantren NU
> yg tidak punya pendidikan universitas (S1) dan memang
> seorang preman sejati. Anda tahu khan gambaran seseorang
> kalau sudah dibilang preman?
> Eh, pas baca wawancara tersebut, buyar semua bayangan
> saya tentang Gus Im. Ternyata Gus Im ini seorang lulusan
> S1 bidang ekonomi dari universitas negeri yg lumayan punya nama
> di Indonesia. Visi dia tentang berbagai hal pun terlihat jelas
> dan kuat. Ditambah lagi kesederhanaan dia dan niat berbuat
> baik untuk kepentingan masyarakat luas.
> Padahal, kalau kita baca sebelumnya dipemberitaan2
> khan yg ada hanyalah hal2 buruk dari Gus Im dan segala
> macam tuduhan KKN lah yg dikenakan pada dirinya.
>
> Wah, koq jadi kepanjangannya nyimpangnya nih.....:)
> Coba balik lagi deh....hehehe
Baru sadar khan........, padahal sudah sejak jaman onta belum bongkok
anda lakukan ini. Lihatlah sekarang, onta sudah pada bongkok semua....
> Lha, emangnya keeper bisa tahu pemain gelandang mau
> ngasih bola kemana? Lalu, apa juga seorang back kanan
> bisa tahu apakah pemain kiri luar mau ngoper ke siapa?
> Yang tahu bola mau dioper kemana khan cuma pembawa
> bola itu saja. Setelah bola ditendang baru deh para
> pemain tahu kemana bola itu ditujukan. Penonton?
> Ya jelas lebih tahu dong karena bolanya terlihat jelas....:)
> Ngomong2, apa keeper atau back yg lagi ada dibelakang
> bisa tahu apa yg sedang terjadi di kotak penalti lawan?
> Ngga toh? Tapi penonton khsusunya yg posisinya ditengah
> atau VIP (ngga dikelas kambing) tahu apa yg sedang terjadi.
> Sebaliknya, apakah seorang penyerang yg sedang berdiri di depan
> bisa tahu dengan baik kemelut yg sedang terjadi di
> kotak penaltinya? Khan ngga juga toh?
> Dengan kata lain, pemain terkadang bisa tahu bisa ngga terhadap
> situasi2 tertentu di lapangan sementara penonton bisa melihat
> dengan baik kejadian2 dilapangan.
Saya sudah tanggapin di awal.
Yang lainnya nggak usah ditanggapin ya, masak satu topik diskusi bisa
mempunyai seabreg sub-topik lain.
Salam,
Budi