In a message dated 6/22/00 3:17:05 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Hehehe..... asyik lho diskusi dengan Irwan ini....

Andanya asik, sayanya yg merasa ngga asik
karena diskusi ini mengarah ke debat kusir khususnya
bagian kebut2an.....:(
Terus terang saya lagi ngga kepengen diskusi yg
bermain2 dengan kata.....:(


>  Dengan jawaban seperti ini, kelihatan kalau anda kurang menangkap dengan
>  lengkap maksudnya. Semestinya anda melengkapi masing-masing jawaban anda
>  tsb dengan proporsinya, sehingga kelihatan bobot di masing-masing
>  indikator tsb. Apakah ada artinya kalau hanya satu atau dua orang saja
>  dari sekian ratus juta jiwa orang Indonesia menyatakan menuntut AR
>  dicopot dari jabatannya? (misalnya nih......).

Betul, apa artinya Soeharto Award II yg hanya memiliki 600
suara saja (seperti informasi yg anda berikan sebelumnya)
dari sekian ratus juta jiwa Indonesia. Tapi diposting terdahulu,
jumlah 600 ini tampaknya sudah cukup representatif bahwa
Amien Rais bukan termasuk salah satu yg perlu "dibenerin"
[mengutip istilah anda dalam posting tersebut].
Mengutip penjelasan anda di atas, khan saya juga jadi bisa
bilang apa artinya polling atas 600 suara dibanding dengan
ratusan juta suara lainnya yg tidak ditanyai?

Ngomong2, emangnya anda tahu dari mana bahwa yg akan
berkeinginan mengimpeach Amien Rais itu cuma satu dua
orang saja? Apakah karena mereka belum bersuara lalu
dengan serta merta anda langsung mengambil kesimpulan
bahwa mereka tidak ingin mengimpeach Amien Rais?
Ini khan sama seperti dagelan logiknya Amien Rais dulu
yg mengatakan bahwa ada sekitar 65% yg tidak menginginkan
Megawati menjadi presiden [waktu jamannya mau SU MPR]
hanya karena PDIP mendapatkan suara sekitar 35%.
Ini khan logika paling aneh yg pernah saya dengar keluar
dari seorang yg seharusnya punya logika berpikir yg lebih baik.

Oh ya, ngomong2 anda pernah dengar ngga demo yg protes
Amien Rais karena terlalu banyak omong? Kalau ngga
salah sih demonya sekitar bulan Mei.

Rekan Budi, kalau cara diskusi seperti di atas diteruskan, kita ngga
akan kelar2 nantinya. Buntut2nya, ya kita perlu saban hari
pemilu terus aja biar tahu pendapat rakyat Indonesia
secara keseluruhan dan secara lebih pasti....:)

Oh ya, ngomong2 dulu yg minta Soeharto turun itu berapa
persen sih sebenarnya dari jumlah total seluruh rakyat
Indonesia? Yang numplek di gedung MPR/DPR Senayan
itu memang dulu berapa banyak jumlahnya?...:)


>  Munculnya pertanyaan saya tentang dasar anda ini justru karena saya
>  tidak pernah mendapatkan kejelasan dari alasan anda. Ingat khan
>  pertanyaan saya dalam "AR vs Maluku", yang menanyakan apa hubungan
>  antara AR dan kerusuhan Maluku, kenapa anda hilangkan dan tidak
>  menjawabnya?

Lho, jadi penjelasan saya atau jawaban saya atas pertanyaan
anda tersebut ngga dianggep toh?
Weleh, capek2 saya nulis kasih penjelasan eh malah dicuekin.
Gimana sih?...:)
Coba deh baca lagi, waktu itu saya singgung soal pidato
Amien Rais di silang monas awal januari lalu yg berkaitan
dengan kasus ambon.

>  Sekarang, coba anda beri contoh, tingkah dan ulah AR yang mana yang
>  membuat pemulihan ekonomi Indonesia terancam. Saya sulit mengerti ini.
>  Perekonomian yang memegang kendali adalah pemerintah, sementara AR
>  adalah orang DPR/MPR. Nyambungnya dimana nih?

Nyambungnya adalah ketika Amien Rais yg ketua MPR itu
bikin pernyataan2 ke publik yg kontra produktif yg membuat
pihak yg mendengarnya jadi bertanya2 akan kelangsungan
pemerintahan, kestabilan keamanan dan politik di tanah air.

Siapapun pemerintah yg menjabat, kalau ketua MPRnya
suka bikin pernyataan2 yg kontra produktif yg bisa
mengganggu kestabilan keamanan dan politik, dan meningkatkan
ketidakpastian akan keberlangsungan pemerintahan,
akan sulit melakukan pemulihan ekonomi.

Jangankan Gus Dur, Clinton pun kalau disuruh menjabat
sebagai presiden Indonesia dengan kondisi seperti di
Indonesia sekarang, dia akan sulit melakukan pemulihan
ekonomi. Sebentar2 direcoki.

Makanya, investor tuh pada ogah masuk dan lebih
memilih menunggu kepastian nanti setelah Agustus.
Investor dalam negeri yg ngabur pun juga jadi mikir2 untuk
balik. Mereka cenderung cari aman dan lihat2 dulu
perkembangan situasi.

Tinggal kita rakyat Indonesia yg bercoba bertahan dari
kucuran IMF.  Dan anda lihat sendiri, saking tergantungnya
Indonesia dengan kucuran IMF, sedikit tertunda, maka rupiah
langsung goyang. Ini satu pertanda bahwa kondisi kita
sekarang ini sudah sangat kepepet, susah. Untuk bisa
makan saja kita hanya bisa mengandalkan kucuran hutang
dari IMF. Coba deh bayangin, gimana saya ngga sakit
hati melihat semua ini terjadi. Sementara para elit politik
enak2an cuap2 sembarangan ngga perhatiin resiko atau
dampak negatifnya terhadap nasib bangsa.

Mungkin nanti pada bulan Agustus, Gus Dur tidak jadi
di impeach. Tapi, apa ya hal itu sifatnya sudah permanen?
Apa iya sudah ada jaminan ketua MPRnya ngga akan
lagi2 bilang akan mengimpeach pada bulan Agustus 2001?
Anda toh sudah baca juga pernyataan Amien Rais yg mencoba
meralat ucapannya soal impeachment dengan mengatakan
bahwa dialah yang paling pertama tampil untuk mempertahankan
Gus Dur sampai akhir masa jabatannya tahun 2004.
Anda lihat sendiri, belum lama keluar ucapan itu, lagi2
dia jilat air ludahnya sendiri dengan membuka kembali
kemungkinan untuk impeachment.
Jadi, apalagi yg bisa dipercaya dari janji2 Amien Rais?

Sekarang malah coba2 pake cara aneh yaitu dengan
mengusulkan agar presiden diperiksa kesehatannya oleh
dokter independen untuk memastikan Gus Dur sehat2 saja
mengingat katanya Gus Dur sudah sering mengeluarkan
pernyataan yg aneh2. Justru bagi saya Amien Rais lah
yg perlu diperiksa kesehatan otaknya.
Koq seorang ketua MPR lebih mendahulukan kepentingan
kelompok atau pun popularitas dirinya ketimbang kepentingan
bangsa.

Saya sempat ngobrol2 secara langsung dengan Pak
Marzuki Usman, seorang anggota MPR yg mengaku seorang
dari Muhamadiah yg juga mantan ketua Bapepam dan
mantan menteri pariwisata. Beliau sempat cerita pengalamannya
pada SU MPR tahun 1999 kemarin. Saat itu sedang terjadi
pembahasan cukup sengit karena ada usulan agar posisi
wakil presiden bisa lebih dari satu. Adu argumentasi pun
berlangsung cukup panas. Marzuki Usman bercerita dia
mendatangi Amien Rais dan bicara secara langsung layaknya
seorang teman. Dia coba mengingatkan bahwa mereka sebagai
anggota MPR hendaknya mendahulukan kepentingan bangsa
dan tanah air dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Jangan hanya karena mendahulukan kepentingan jangka pendek
dan ambisi tertentu kita sampai mempermalukan diri kita sendiri
dan mengorbankan kepentingan yg lebih luas. Dia masih
tambahkan lagi, bagaimana kita nantinya mempertanggung jawabkan
keputusan untuk menambah jumlah wakil presiden ke anak
cucu kita dan juga ke dunia internasional? Bukankah kita nantinya
malah jadi bahan tertawaan?
Ntah karena teguran ini atau tidak, akhirnya ide untuk menambah
jumlah wapres itu batal.

Nyimpang sedikit, ngomong2 soal Marzuki Usman. Setelah
saya ngobrol2 cukup panjang lebar, terus terang saya sangat
kagum atas visinya untuk Indonesia. Tampak sekali keprofesionalan
dia dalam menghadapi berbagai masalah setelah saya coba2
lempar beberapa pertanyaan dan sekaligus ngecek apakah
dia itu pro terhadap sesuatu kelompok atau tidak. Ternyata,
dari jawaban2 yg diberikan, saya sangat yakin Marzuki Usman
ini memang konsisten dengan visinya dan sangat profesional
dalam melihat permasalahan. Dalam bincang2 dengannya
tersebut, dia juga ada mengkritik beberapa hal atas Gus Dur
dan hal2 lain. Tapi selain kritik yg diberikan, dia juga melemparkan
pemikiran2 serta solusi2 yg menurut dia bisa membantu mengatasi
kemelut ini. Visinya atas Indonesia di masa mendatang sangat
jelas dan sangat reasonable.
Kalau rekan Faran sempat bertanya ke saya siapa yg pantas
untuk mengganti posisi Amien Rais dari posisi ketua MPR,
kalau memang wakil2 ketua MPR lainnya tidak ada calon atau
kandidat, cobalah tengok dan gali lebih dalam atas profil
seorang Marzuki Usman.


>  Anda terjerumus oleh omongan anda sendiri.
>  Anda bisa beropini karena punya dasar informasi dari sumber-sumber
>  berita (media cetak dan online). Sekarang anda menuduh sumber-sumber
>  berita ini 'menipu'. Lalu, sebenarnya anda dapat berita yang menurut
>  anda 'benar' dari mana sehingga anda mengatakan tidak tertipu? Dari
>  langit? Dari pangsit, eh...... wangsit?

Maksud dari "tertipu" itu adalah media massa bukannya
menampilkan berita bohong. Melainkan, seperti kita tahu media
massa memang seringnya menampilkan berita2 hangat
dan kemudian dikemas sesuai dengan selera mereka
lalu dibuat jor2-an.

Contohnya saja soal intervensi Gus Dur atas BI.
Saking hebatnya dan gencarnya pemberitaan ini,
sampai2 banyak orang yg terkecoh seolah2 memang
Gus Dur sudah melakukan intervensi atas BI.
Padahal yg dilakukan Gus Dur hanyalah mendahului
keputusan pengadilan dan mencoba melindungi
Syahril Sabirin karena Gus Dur sudah yakin benar
Syahril Sabirin ini bersalah berdasarkan informasi2 yg
dia terima. Bagi saya ini bukan bentuk intervensi.
Kalau yg namanya intervensi itu misalnya Gus Dur
meminta  BI  untuk menurunkan tingkat suku
bunga sebesar 1%. Atau Gus Dur meminta BI untuk
menambah jumlah uang beredar agar masyarakat
bisa punya duit lebih banyak. Atau Gus Dur meminta
BI untuk menyuntik dana ke Bank UDB (Udah Dong Bang)
agar terlepas dari krisis likuiditas.
Tapi apa hal ini dibahas atau diulas di media?
Khan ngga toh? Mereka banyak yg sudah terjebak
dengan pemikiran bahwa Gus Dur memang sudah
melakukan intervensi atas BI.......:)

Contoh lain lagi adalah kasus Gus Im di BPPN.
Sudah baca wawancara dengan Gus Im di Kompas?
Kalau belum, nanti saya coba2 cari artikelnya.
Atau mungkin ada rekan lainnya yg masih menyimpan
alamat URL nya?
Dari hasil wawancara itu saya baru tahu bahwa
persepsi yg selama ini sempat terbentuk di masyarakat
ternyata banyak yg tidak benar. Tadinya bayangan saya
Gus Im ini adalah seorang lulusan pesantren NU
yg tidak punya pendidikan universitas (S1) dan memang
seorang preman sejati. Anda tahu khan gambaran seseorang
kalau sudah dibilang preman?
Eh, pas baca wawancara tersebut, buyar semua bayangan
saya tentang Gus Im. Ternyata Gus Im ini seorang lulusan
S1 bidang ekonomi dari universitas negeri yg lumayan punya nama
di Indonesia. Visi dia tentang berbagai hal pun terlihat jelas
dan kuat. Ditambah lagi kesederhanaan dia dan niat berbuat
baik untuk kepentingan masyarakat luas.
Padahal, kalau kita baca sebelumnya dipemberitaan2
khan yg ada hanyalah hal2 buruk dari Gus Im dan segala
macam tuduhan KKN lah yg dikenakan pada dirinya.

Wah, koq jadi kepanjangannya nyimpangnya nih.....:)
Coba balik lagi deh....hehehe


>  Kalau penonton sepakbola, memang lebih jelas melihatnya, namun tidak
>  pernah tahu persis khan bola akan dibawa kemana, mau dikasih ke siapa,
>  dan mau diapakan?

Lha, emangnya keeper bisa tahu pemain gelandang mau
ngasih bola kemana? Lalu, apa juga seorang back kanan
bisa tahu apakah pemain kiri luar mau ngoper ke siapa?
Yang tahu bola mau dioper kemana khan cuma pembawa
bola itu saja. Setelah bola ditendang baru deh para
pemain tahu kemana bola itu ditujukan. Penonton?
Ya jelas lebih tahu dong karena bolanya terlihat jelas....:)
Ngomong2, apa keeper atau back yg lagi ada dibelakang
bisa tahu apa yg sedang terjadi di kotak penalti lawan?
Ngga toh? Tapi penonton khsusunya yg posisinya ditengah
atau VIP (ngga dikelas kambing) tahu apa yg sedang terjadi.
Sebaliknya, apakah seorang penyerang yg sedang berdiri di depan
bisa tahu dengan baik kemelut yg sedang terjadi di
kotak penaltinya? Khan ngga juga toh?
Dengan kata lain, pemain terkadang bisa tahu bisa ngga terhadap
situasi2 tertentu di lapangan sementara penonton bisa melihat
dengan baik kejadian2 dilapangan.


> Belum lagi, penonton sama sekali tidak bisa memutuskan
>  khan bola mau dimasukkan gawang atau di bawa pulang, eh..... dibuang ke
>  luar maksudnya. Artinya, penonton boleh bisa melihat dengan jelas, namun
>  SAMA SEKALI tidak pernah bisa meraba-rasakan yang terjadi di lapangan.
>  Kelihatan khan, kalaupun penonton beropini, masih jauh untuk bisa
>  dikatakan mendekati kenyataan yang sebenarnya.

Ah, masa? Penonton itu khan beragam. Ada yg amatir,
ada yg profesional, ada pelatik, dan ada juga yg mantan pemain
sepak bola terkenal yg umumnya tahu pola2 penyerangan atau
pertahanan suatu kesebelasan. Ditambah lagi dia punya
pengalaman di lapangan. Jadi bisa tahu seperti apa situasinya.

Tampaknya anda hanya melihat satu masalah atau
situasi dari satu sisi saja tanpa memberikan kesempatan
akan adanya kemungkinan2 lainnya.....:)


>  > >  Justru karena sejak dulu anda 'benci' AR-lah maka saya tergerak untuk
>  > >  mencari berita apa saja ttg AR untuk mencari tahu apa memang benar AR
>  > >  melakukan (ngomong) yang seperti anda tuduhkan.
>  >
>  > Tuh khan, dimulai lagi. Anda ini benar2 bebal atau ngga sih?
>  > Sudah saya kasih tahu dan anda bisa cek di arsip server
>  > syracuse, apakah saya ini orang yg benci AR atau tidak.
>  > Kalau saya benci, ngapain juga dulu saya dukung dia?
>  > Kalau saya termasuk orang yg benci Amien Rais, maka nanti pun
>  > setelah dia di impeach dari jabatannya sebagai ketua MPR
>  > dan hanya jadi anggota MPR biasa, apapun yg dia katakan
>  > dan lakukan kelak akan terus saya komentari.
>
>  Saya justru ingin tanya ke anda. Anda ngerti nggak sih maknanya kalau
>  ada kata ditaruh di dalam tanda petik ('..')? Anda mengartikannya di
>  sini seperti kata tsb tidak punya tanda petik. Apa hubungannya coba
>  dengan bebal?

Bebal itu pengertian saya adalah bila seseorang sudah dikasih
tahu, tapi masih tetap saja melakukan kesalahan/hal yg sama.
Saya sudah jelaskan bahwa saya tidak mempunyai rasa benci
dengan Amien Rais karena concern saya pada nasib
rakyat kebanyakan. Saya jelaskan pula bahwa hal yg sama
pernah saya lakukan kepada Soeharto dan Habibie ketika keduanya
menjabat sebagai presiden.
Dan tampaknya anda ngga peduli dengan penjelasan saya
tersebut dan tetap menyimpulkan bahwa apa yg saya lakukan
karena kebencian saya pada Amien Rais walau pun dipakai
embel2 tanda kutip. Emangnya, apa sih susahnya mengganti
istilah benci yg pake tanda kutip itu dengan istilah yg memang
sebenarnya anda mau katakan?
Khan ini sama saja menunjukkan anda tidak punya itikad
baik dalam berdiskusi karena anda kurang memperhatikan
lawan bicara anda.  Anda tidak menghargai penjelasan
yg saya berikan sebelumnya.

>  > Kalau anda mau diskusi dengan baik, tolong dong hargai
>  > penjelasan lawan diskusi anda sebelumnya.
>
>  Kalau anda mau diskusi dengan baik (niru ya, boleh khan....?), tolong
>  dong dibaca dengan baik tulisan lawan diskusi anda.

Sudah saya lakukan. Saya sudah baca dengan baik
tulisan anda dan saya mencoba menangkap artinya dengan
pengertian umum sejauh yg saya mampu.


> > MPR memang bersidangnya setahun sekali dan itu untuk
>  > Sidang Umum. Sementara pembahasan dalam komisi2 di MPR
>  > tidak dilakukan setahun sekali. Masa anda ngga tahu tentang
>  > hal ini?
>
>  Tahu.

Lho, sudah tahu koq anda sempat menulis seperti berikut ini?
"Lagian MPR khan sidangnya setahun sekali,
jadi 'produk'nya ya setahun sekali juga keluarnya)."
Mudah2an anda waktu menulis kalimat di atas hanya
karena lupa saja bahwa yg sidangnya sekali setahun itu
adalah acara Sidang Umum. Sementara sidang2 lainnya
bisa berkali2 dalam setahun tergantung kebutuhan.

>  Lho, apakah AR tidak konsentrasi ke situ?
>  Apakah ngomong lima menit atau sepuluh menit ngritik pemerintah akan
>  menghabiskan/menyita waktu kerjanya?

Ngritik sama berupaya menjatuhkan itu adalah dua hal yg berbeda.
Tapi ngomong2, tugas kontrol terhadap jalannya pemerintahan khan
itu tugas DPR. Dan itu pun ada prosedurnya, ada tatacaranya.
Ngga sembarangan teriak2 dijalanan bikin grasah grusuh sehingga
orang banyak yg pada bubaran karena takut terjadi apa2. Lihat tuh
dampaknya, Gus Dur udah capek2 coba yakinin investor untuk masuk
ke Indonesia, tapi kerja kerasnya diberantakin oleh Amien Rais dengan
cuap2nya yg saya sendiri ngga tahu maunya apa sih?
Ini khan pas sekali dengan perumpamaan Wimar yg mengatakan
seperti orang dikasih motor eh malah dipake untuk kebut2an.


>  > Tugas kontrol atas pemerintahan adalah tanggung jawab DPR,
>  > bukan MPR.
>
>  Oh........, kelihatannya di sini nih yang anda tidak tahu. AR itu ya mas
>  ya....., selain anggota/ketua MPR, juga anggota DPR.

Oh ya? Yang bener nih?
Setahu saya tuh ketua DPR adalah Akbar Tandjung.
Ketua DPR itu adalah pimpinan dari anggota2 DPR yg ada.
Kalau Amien Rais yg ketua MPR itu juga masih berstatus
anggota DPR, berarti khan sama saja Akbar Tandjung itu
membawahi Amien Rais yg hanya anggota DPR.
Nah, lho.....kalau memang benar Amien Rais statusnya masih
anggota DPR, ya pantes ajalah negara ini semrawut...wong
sistemnya berantakan gitu koq.

Tapi, ngomong2 apa anda yakin Amien Rais statusnya sebagai
anggota DPR masih valid? Dulu saya tahu memang dia terpilih
dan bisa duduk di senayan sekarang adalah berkat pemilu
dengan kata lain dia adalah anggota DPR. Tapi setelah terpilih
menjadi ketua MPR, apakah anda yakin 100% bahwa statusnya
sebagai anggota DPR masih tetap dan tidak berubah?
Coba deh anda check and rechek informasi atas hal ini.
Saya juga akan coba2 cari tahu.

Tapi kalau lihat dari idealnya, seharusnya seorang ketua MPR
itu tidak lagi menjadi anggota DPR. Soalnya, kalau ngga nanti
bisa rancu.

>  > Trus, kalau berita2 yg berhubungan dengan Gus Dur anda
>  > berkesimpulan bahwa berita2 tersebut adalah berita yg tidak
>  > sepotong2, berita yg sudah pasti pas dengan makna keseluruhan?
>  > Lha, koq bau standar ganda ya?.....:)
>
>  Apakah saya menyimpulkan seperti itu?
>  Itu khan kesimpulan anda sendiri. Terus dilanjutkan dengan nyalahin
>  orang..... Apa yang sedang anda lakukan mas....????

Saya sedang mempertanyakan pernyataan anda yg
mempertanyakan atau mengeluhkan media cetak yg
suka mengutip sepotong2 dan membuat headingnya
yg suka kurang pas dengan makna keseluruhan dari
omongan aslinya dengan pembanding yg anda gunakan
adalah siaran atau wawancara di televisi.

Siapapun juga tahu kalau di media cetak itu ada proses
editing (bahkan juga untuk media elektronik).
Dan hal tersebut tidak hanya menimpa Amien Rais tapi
juga Gus Dur, dan tokoh2 lainnya.
Dan buntut2nya anda menggunakan judgement anda
atas apa yg anda saksikan di televisi untuk memvonis
apa yg dilakukan oleh editor media cetak tersebut.


>  > Iya, sampai2 ada opini dimasyarakat kalau sekarang Amien Rais
>  > ngomong A, jangan kaget kalau besok dia ngomong B.
>
>  Apanya yang aneh?
>  Bukankah variasi omongan itu tidak terbatas. Dari A sampai Z dan segala
>  macam bentuk kombinasinya (tanya kang Acu, berapa kombinasi A - Z yang
>  bisa didapat). Dan nggak ada larangan khan kalau orang mau ngomong apa.


Wah, repot juga ya ngobrol dengan anda....semuanya
harus detil banget dan jelas banget.....:)
Maksudnya dari sekarang ngomong A besok ngomong B itu
adalah omongan A nya disangkal dikemudian hari atau pun
B nya itu adalah hal yg bertolak belakangan dengan A.
Gitu lho maksudnya.
Isitilah yg saya gunakan tsb adalah istilah umum untuk
menggambarkan hal yg saya jelaskan di atas ini.
Seharusnya anda sudah bisa menangkap maksudnya,
tapi tampaknya anda maunya yg detil2 dan spesifik,
seperti layaknya sebuat tulisan ilmiah/thesis.
Repot lah kalau gini cara diskusinya.....:)

>  > Coba deh iseng2 anda cari tahu, berapa banyak sudah orang
>  > yg tidak suka dengan ulah Amien Rais.
>
>  Lho ini seharusnya tugas anda. Jangan nyuruh saya.
>  Lha wong anda yang minta AR di-impeach, tentunya khan harus punya dasar
>  dan supporting data yang kuat dan akurat. Kelihatannya anda nggak punya
>  ya....????? Saya bisa memaklumi, namanya juga opini....

Ya sudah, kita lihat saja deh. Saya ngga punya dasar yg kuat
atau pun akurat (saya bukan orang BPS sih....hehehe).
Toh waktu saya nulis "buang" saja Syahril Sabirin ke Nusakambangan
khan juga ngga punya data yg kuat dan akurat, dan sekarang
anda sudah lihat sendiri dia masuk tahanan kejagung.
Nah, kalau dalam hari2 mendatang nanti muncul demo2 yg
meminta Amien Rais mundur, setidaknya anda sudah pernah
membaca opini saya di milis ini kenapa saya sampai
berpendapat bahwa demi lancarnya proses pemulihan
ekonomi dikemudian hari maka  Amien Rais perlu
di impeach dari posisinya sebagai ketua MPR.

Kalau anda minta datanya dalam bentuk prosentase yg
disupport dengan data yg memadai, silahkan anda minta
BPS atau badan sensus melakukannya di lapangan....:)

>  > Dan seorang ketua MPR omongannya jangan dikaitkan
>  > dengan jabatannya sebagai ketua MPR. Gitu maksud anda?....:)
>  > Boleh tahu, kesimpulan anda ini dasarnya apa?
>
>  Betul.
>  Dasarnya, MPR adalah lembaga. 'Omongan' atau 'produk' lembaga MPR adalah
>  Keputusan MPR. Sedangkan AR adalah individu (kebetulan ketua MPR), jadi
>  omongannya adalah omongan individu. SAMA SEKALI bukan 'omongan' atau
>  'produk' lembaga MPR.

Kalau memang demikian, jadi sebenarnya ngga masalah dong
ya Amien Rais di geser kedudukannya dari posisi ketua MPR.
Dia jadi anggota MPR biasa saja. Toh dia bisa tetap bicara
seperti yg anda sebutkan di atas sebagai seorang individu.
Biar pasar ngga rancu nantinya antara omongan ketua MPR
dengan omongan individu. Toh, buat Amien Rais sendiri kalau
mengikuti logika anda di atas, maka sebenarnya dia menjadi
ketua MPR atau pun tidak khan sebenarnya ngga ada masalah
toh. Lha ngga ada kelebihannya koq punya posisi sebagai
ketua MPR.  Betul, ngga? Ini kalau saya memakai penjelasan
anda di atas lho ya......:)
Kalau ngga betul, coba dong saya diterangin apa aja sih
kelebihannya jadi ketua MPR dibanding jadi anggota biasa.

Oh ya, ngomong2 menurut anda begitu juga ngga persepsi yg ada
di masyarakat dan juga orang luar bahwa kalau ketua MPR yg ngomong
diluaran itu adalah dilihat dalam kapasitasnya sebagai individu
dan bukan sebagai ketua MPR?


>  > Kasus yg cukup parah pertama adalah ketika dia
>  > melakukan pidato di silang monas awal Januari 2000.
>
>  Apa benar pasar beraksi negatif?

Yup!

>  Apakah karena omongan AR atau karena hal lain?

Di pasar tuh ngga ada hal2 yg detil seperti di atas.
Tapi orang bisa memperkirakan apa yg menjadi penyebab
suatu gerakan. Kalau saya bilang hanya karena pidato
Amien Rais saat itu disilang monas, akan ada nanti yg
protes bagaimana dengan ancaman laskah jihad, bagaimana
dengan pidato2 lainnya, dll. Jadi, saya ngga akan bilang
bahwa pidato Amien Rais lah yg menjadi penyebab satu2nya
tapi saya memperkirakan bahwa pidato seorang ketua MPR
yg mendukung gerakan laskah jihad itulah yg membuat
pasar kaget dan bereaksi negatif mengingat yg bicara itu
seorang ketua MPR yg notabene seharusnya melindungi
dan mengayomi seluruh elemen bangsa serta seharusnya
menjadi panutan dan teladan kepada warganya agar lebih
mendahulukan proses hukum ketimbang proses kekerasan.

Akibat peristiwa ini akan banyak pemikiran2 dan dugaan2
akan peristiwa2 dikemudian hari. Mereka pun perlu
melakukan antisipasi agar jangan sampai lagi melakukan
kesalahan investasi yg sama seperti tahun2 sebelumnya.


>  Sepengetahuan saya, dia mengatakan bahwa MUNGKIN SAJA sidang tahunan MPR
>  berubah menjadi sidang istimewa KALAU banyak fraksi-fraksi lain di MPR
>  menginginkannya. Apakah ngomong begini salah?

Wah, anda berarti tidak mengikuti dengan baik berita2
yg ada. Ucapan yg di atas sih itu waktu dia bertindak lembut...:)

Sekedar informasi saja, Amien Rais itu bahkan pernah
mengucapkan kata2 ancaman yg keras kepada Gus Dur.
Beruntunglah anda tidak membacanya.
Sayangnya saya membacanya, dan mungkin banyak
lagi pihak2 lainnya yg membacanya.
Saya yg membacanya hanya bisa sedih, mau sampai
kapan rakyat jadi korban karena pertikaian elit politik.


>  > Anda tampaknya salah dalam mengartikan.
>  > Saya coba jelaskan ya....:)
>  > Nah, coba deh anda naik motor 100-160 km/jam di Sudirman (Jakarta)
>  > atau Pramuka (Jakarta). Apa menurut anda tidak apa2, dibolehkan
>  > sama polisi, tidak membahayakan kepentingan umum?
>
>  Apakah Wimar menyebutkan bahwa sepeda motor tsb harus dikendarai di
>  jalan umum? Enggak khan?

Nah, cara diskusi yg nyari2 celah dalam bahasa begini
nih yg gue ngga demen.
Ngga perlu dijelasin secara detil, seharusnya anda sudah bisa
menangkaplah arahnya kemana.

>  > Nah, khan ketahuan banget anda tuh maksa banget cari
>  > pembenarannya. Bahasa kerennya, ngeles.
>  > Ya sudah jelas istilah kebut2an yg dimaksud oleh Wimar itu
>  > itu bukan dalam konteks lagi racing di sirkuit, eh anda coba2 cari
>  > pembenaran atas istilah kebut2an dengan mengatakan hal
>  > tersebut tidak masalah kalau lagi racing.
>  > Khan diskusi seperti ini yg sering menyebabkan banyak makan
>  > energi.
>
>  Emang siapa yang nyebut lagi racing di sirkuit?
>  Saya khan menyebutkan bahwa kalau yang nyetir 'confidence', ngebut khan
>  tidak masalah. Bisa saja khan orang lain berpendapat seperti ini dari
>  omongannya Wimar?
>  Sekali lagi, Wimar khan nggak nyebut di mana kebut-kebutan tsb
>  dilakukan.

Kalau anda mau maksain cari celah dari ungkapannya Wimar
sih, ya silahkan saja. Saya mah membaca komentarnya tersebut
dengan konteks mencoba menangkap apa yg ingin disampaikan
oleh Wimar bukan apa kira2 celah yg ada dari komentar Wimar.
Kita tampaknya berbeda cara dalam melihat sesuatu.
Apa boleh buat. Saya tidak bisa memaksa anda.


>  > Gini deh, gampangnya, agar ngga kepanjangan. Saya jelaskan
>  > bahwa kebut2an yg dimaksud itu adalah kebut2an di jalan
>  > umum. Artinya kebut2an disini adalah kecepatannya jauh di atas
>  > normal dan bawa motornya ugal2an karena biasanya kalau
>  > orang yg suka kebut2an itu suka nyalip kiri dan nyalip kanan
>  > untuk mendahului  kendaraan di depannya.
>
>  Ulah atau omongan AR yang mana yang bisa dikonversikan seperti situasi
>  tsb?

Sudah saya jelaskan berkali2 dalam posting2 terdahulu dan juga
dalam posting ini. Silahkan dibaca lagi. Masak sih anda semuanya
perlu ditulis sangat detil dan dipisah2kan mana jawabannya.
Saya sendiri yg nulis sampe bosen menulis berulang2 untuk
hal yg sama.


>  > Perspesinya Wimar yg kurang pas atau anda yg "kurang mampu"
>  > menangkap poin yg ingin diangkat oleh Wimar?.....:)
>
>  Bisa salah satu dan atau dua-duanya. Nggak susah khan milihnya.
>  Ada 4 kemungkinan jawaban. Bisa A benar B salah, A salah B benar, A dan
>  B benar, dan A dan B salah.

Ya sudah, pilih saja yg pas dengan anda kalau begitu.....:)

>  > Ngomong2, tahu dari mana anda bahwa Wimar belum pernah
>  > naik motor??
>
>  Bisa baca kata 'nggak yakin' dalam tulisan saya?
>  Apakah sama dengan yang anda tulis di atas, yang menyebut saya tahu?

Hehehehe....apakah anda menulis sebelumnya dalam konteks
seperti itu?....:)
Sudahlah, kita ngga usah berdebat kusir. Buang2 energi.
Mending juga diskusi yg lain deh atau kalau pun mau digali
lagi topik ini, sebisa mungkin jangan debat kusir.
Kasihan kudanya, rumputnya pada goyang terus ngga mau
dimakan karena kebanyakan ditanyain kali ya. Makanya,
mungkin kita ngga boleh lagi ngikutin anjuran untuk bertanya
pada rumput yg bergoyang......:)


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke