In a message dated 6/22/00 12:25:26 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Kalau pingin tahu opini umum, indikator yang bisa digunakan saat ini
>  khan ada, antara lain yaitu:
>  1. Ada nggak opini-opini yang menuntut AR dicopot dari jabatannya?

ada


>  2. Ada nggak demo-demo yang menuntut AR dicopot dari jabatannya?

seingat saya, ada.
dan biasanya nanti di milis ini langsung di cap sebagai
demo bayaran atau demo yg sudah jelas tujuan dibaliknya apa.
sementara, kalau demo yg sebaliknya, di milis ini suka
digolongkan sebagai demo yg murni, demo yg benar2 aspirasi
dari masyarakat.....hehehehehe....coba deh tanya sama
diri kita masing2, sudah cukup fair kah kita?
atau masih tetap melakukan standar ganda....:)

>  3. Ada nggak beberapa orang DPR/MPR yang kasak-kusuk untuk mencopot AR?

ada.

>  4. Dll.

ada lagi pertanyaan yg lain?......:)


>  Sebaliknya, darimana dan dengan dasar apa anda melontarkan ide untuk
>  meng-impeach-kan AR? Ini yang belum anda jawab dari posting saya
>  sebelumnya. 'Pelintiran' anda terhadap makna sebagian posting saya
>  sebelumnya terlalu kentara.

Saya sudah cukup jelas paparkan di posting2 saya sebelumnya.
Dasar saya adalah berdasarkan pengamatan saya selama ini
dan data2 yg saya miliki berdasarkan apa yg saya baca dan dengar,
Amien Rais sudah beberapa kali bertindak atau berucap tidak
selayaknya sebagai seorang ketua MPR. Akibat tingkah dan ulahnya
ini membuat pemulihan perekonomian Indonesia terancam dan
bahkan sempat beberapa kali mengancam keutuhan bangsa.
Ketidakpastian di dalam negeri semakin meningkat akibat ulah
dan ucapannya di depan publik.
Mudah2an sekarang cukup jelas.

>  Ada hal baru lagi yang mungkin bisa dijadikan indikator, yaitu hasil
>  polling adik-adik anda di UI yang memunculkan Soeharto Award II. Kenapa
>  nama AR nggak muncul sebagai orang yang perlu 'dibenerin'?

Karena banyak masyarakat kita yg kena "tipu" oleh
pemberitaan2 media cetak atau online. Saya yg merasa
tidak kena tipu mencoba menyampaikan pemikiran ini ke
umum/publik. Tinggal nanti kita lihat apakah pemikiran saya
ini akan "dibeli" atau tidak. Saya tidak sedang mengatakan
rekan2 mahasiswa UI tersebut gampang di tipu, tapi terkadang
penonton sepak bola suka lebih jelas melihat jalannya
pertandingan ketimbang pemain sepak bola itu sendiri.

Contohnya saja kasus Gus Dur dengan Sabirin yg
di blow up oleh media sebagai suatu bentuk intervensi
dari pemerintah terhadap BI.
Lha, apanya yg intervensi?
Wong Sabirin diduga melakukan tindakan kriminal dan
disarankan untuk mundur koq malah dibilang intervensi
pemerintah ke BI. Khan aneh toh?
Bentuk intervensi pemerintah atas BI itu misalnya
Gus Dur meminta BI menurunkan tingkat suku bunganya
sebesar 1% [lihat contoh saya tentang Clinton yg
sebenarnya implisit mengarah kesini, tapi kurang anda
tangkap]. Nah, tindakan2 seperti inilah yg jelas2
bentuk dari intervensi pemerintah terhadap kebijakan2 BI.
Kalau ada gubernur BI yg melakukan kriminal, khan
seharusnya sudah otomatis toh dia diminta mundur.
Nah, Gus Dur ini cuma kegatelan aja pengen mencoba
melindungi Syahril Sabirin. Kalau saya jadi Gus Dur mah,
saya diamkan saja. Biarin saja Syahril Sabirin dikirim
ke Nusakambangan. Itulah sebabnya saya postingkan
dulu dengan judul pake Nusakambangan.
Contoh lain, lihatlah bagaimana baiknya Gus Dur mencoba
melindungi Wiranto dari kemungkinan pengadilan
mahmakah internasional. Untunglah Wiranto tahu diri dan
mau menerima saran Gus Dur.

Intinya, dengan atau tanpa saran Gus Dur agar Syahril Sabirin
mengundurkan diri, sudah seharusnya jauh2 hari Syahril
Sabirin ini dipecat dari jabatannya sebagai gubernur BI.

>  Lalu, coba dilihat dan ditimbang-timbang, apakah opini orang banyak yang
>  salah (anda yang benar) atau sebaliknya? Anda mengatakan berkali-kali di
>  milis ini bahwa anda adalah orang yang terbuka akan kritik dan masukan.
>  Saya kira, saatnyalah sekarang anda untuk menunjukkannya.

Betul, saya terbuka akan kritikan. Tapi bukan berarti saya
akan terima begitu saja kritikan yg tidak beralasan atau pun
yg tidak bisa diterima dengan logika.
Sebaliknya, selama saya memiliki argumentasi yg kuat
jangan pula lalu dianggap saya bukan orang yg tidak mau
menerima kritikan. Kritikan itu bisa dua arah, saya dikritik
atau pun anda yg dikritik. Saya dan anda disini posisinya
bukan sebagai wasit, bukan sebagai juri yg menilai
benar atau tidaknya suatu argumentasi. Mohon dalam
hal ini anda juga mengerti. Anda bisa lihat, walau pun
saya suka adu argumentasi, tapi saya bukan seperti rekan
FNU Brawijaya yg suka menggombalkan atau langsung
menyalahkan informasi dari orang lain.
Informasi atau pendapat dari orang akan saya hargai
walau hal itu bukan berarti otomatis saya telan bulat2.
Saya pun juga tidak ingin rekan2 disini menelan bulat2
informasi yg saya berikan. Kita semua diberikan kemampuan
berpikir untuk bisa melihat permasalahan dengan lebih baik.
Apa yg saya pikir dan lihat, saya sharingkan disini.
Demikian juga dengan rekan2 yg lain.

Kali kemarin, saya menyampaikan pemikiran2 saya atas
Syahril Sabirin. Belum sampai berhari2, toh kita sudah lihat
akhirnya Syahril Sabirin ditahan pihak kejaksaan.

Pemikiran atas Amien Rais masih dalam proses. Tunggu
saja tanggal mainnya. Amien Rais perlu di IMPEACH agar
pemulihan ekonomi di Indonesia bisa berjalan lebih baik
dan cepat.


>  Justru karena sejak dulu anda 'benci' AR-lah maka saya tergerak untuk
>  mencari berita apa saja ttg AR untuk mencari tahu apa memang benar AR
>  melakukan (ngomong) yang seperti anda tuduhkan.

Tuh khan, dimulai lagi. Anda ini benar2 bebal atau ngga sih?
Sudah saya kasih tahu dan anda bisa cek di arsip server
syracuse, apakah saya ini orang yg benci AR atau tidak.
Kalau saya benci, ngapain juga dulu saya dukung dia?
Kalau saya termasuk orang yg benci Amien Rais, maka nanti pun
setelah dia di impeach dari jabatannya sebagai ketua MPR
dan hanya jadi anggota MPR biasa, apapun yg dia katakan
dan lakukan kelak akan terus saya komentari.
Khan saya sudah bilang diposting terdahulu bahwa saya
tidak punya minat sama sekali untuk melakukan hal seperti itu.
Dan ini sudah saya buktikan dan lakukan dengan konsisten
atas Soeharto dan Habibie yg dulu sewaktu masih menjabat
sebagai presiden sering saya komentari negatif di milis ini.

Kalau anda mau diskusi dengan baik, tolong dong hargai
penjelasan lawan diskusi anda sebelumnya.


>  Fortunately, AR sering
>  masuk dalam wawancara di Liputan 6 SCTV, sehingga saya benar-benar tahu
>  apa yang diomongkannya, yang saya simpulkan sebagai datar-datar saja,
>  dan opininya adalah opini individu (tentu saja, 'produk' dari MPR khan
>  harus dikeluarkan di gedung MPR secara resmi. Lagian MPR khan sidangnya
>  setahun sekali, jadi 'produk'nya ya setahun sekali juga keluarnya).

MPR memang bersidangnya setahun sekali dan itu untuk
Sidang Umum. Sementara pembahasan dalam komisi2 di MPR
tidak dilakukan setahun sekali. Masa anda ngga tahu tentang
hal ini? Saat ini beberapa anggota MPR yg bertugas sedang
membicarakan dan membahas hal2 yg berkaitan dengan
amandemen UUD 45. Nah, bukankah seharusnya Amien Rais
lebih mengkonsentrasikan diri dengan tanggung jawabnya
ini ketimbang melakukan "intervensi" atas pemerintah?
Tugas kontrol atas pemerintahan adalah tanggung jawab DPR,
bukan MPR.

>  Namun, di koran-koran kemudian banyak yang mengutipnya
>  sepotong-sepotong, dan membuat 'heading' yang 'eye catching', yang
>  justru kurang pas dengan makna keseluruhan dari original omongannya
>  (bahasa umumnya mungkin 'dipelintir' atau 'terpelintir').

Trus, kalau berita2 yg berhubungan dengan Gus Dur anda
berkesimpulan bahwa berita2 tersebut adalah berita yg tidak
sepotong2, berita yg sudah pasti pas dengan makna keseluruhan?
Lha, koq bau standar ganda ya?.....:)


>  Memang, dalam mengartikan dan menyikapi berita kita perlu ekstra
>  hati-hati dan nggak perlu terburu-buru, karena seringkali pula berita
>  hari berikutnya yang keluar isinya berbeda atau bahkan sangat berlawanan
>  dengan hari sebelumnya dalam topik yang sama.

Iya, sampai2 ada opini dimasyarakat kalau sekarang Amien Rais
ngomong A, jangan kaget kalau besok dia ngomong B.
Coba deh iseng2 anda cari tahu, berapa banyak sudah orang
yg tidak suka dengan ulah Amien Rais.
Bahkan disatu milis saya sempat baca dari seorang
rekan yg mengatakan pramuwisma nya sampai muak
melihat Amien Rais kalau muncul di televisi.

>  Sebenarnya pula, semakin
>  tinggi sekolah (kalau serius sekolahnya), semakin 'matang' pola berpikir
>  yang dipunyai karena semakin 'banyak dan bervariasi' pengetahuan dan
>  pengalaman yang didapat.
>
>  Dengan kata lain, opini anda di atas adalah tidak tepat.

Dan opini andalah yg tepat karena sekolah anda sudah tinggi
dan pola berpikir anda sudah lebih matang.....:)
Weleh, ini diskusi model apa ya?.....heheheee


>  Inilah kesulitannya seorang presiden. Karena presiden adalah individu,
>  artinya dirinya tidak bisa dilepaskan dari jabatan yang disandangnya
>  (lihat, sama sekali berbeda dengan lembaga), maka, segala omongannya
>  (yang menyangkut negara dan pemerintahan), baik di forum resmi maupun
>  tidak, akan menjadikan itu sebagai 'omongan' presiden (Tengok tawaran GD
>  kepada Syahril untuk jadi dubes atau DPA yang sebenarnya adalah
>  'omongan' dalam forum 'tidak resmi'). Untuk itulah, seorang presiden
>  harus tahu benar kapan dan apa yang sepatutnya di'omong'kan.

Dan seorang ketua MPR omongannya jangan dikaitkan
dengan jabatannya sebagai ketua MPR. Gitu maksud anda?....:)
Boleh tahu, kesimpulan anda ini dasarnya apa?
Saya ngga tahu, apakah anda cukup memperhatikan reaksi2
pasar atas ucapan2 yg dikeluarkan Amien Rais?
Kalau sampai reaksi yg muncul adalah negatif, menurut
anda kira2 yg bisa disimpulkan apa? Apakah karena pasar
melihat bahwa Amien Rais berucap hal tersebut karena
dia sebagai individu ataukah karena melihat posisi dia
yg sebagai ketua MPR?
Kasus yg cukup parah pertama adalah ketika dia
melakukan pidato di silang monas awal Januari 2000.
Kasus yg cukup parah kedua adalah ketika dia melontarkan
pemikiran impeachment atas Gus Dur pada SU Agustus mendatang
yg dia ucapkan sekitar akhir April atau awal Mei (saya lupa tepatnya).

Mau sampai kapan rakyat Indonesia harus menjalani ketidak
pastian ini? Mau sampai kapan rakyat Indonesia harus
hidup dengan ekonomi yg naik turun akibat ulah elit politik?
Mereka para elit politik sih enak, sudah kebanjiran uang dan
hidup berkecukupan kalau tidak boleh dibilang mewah.
Lha, rakyat kecil itu gimana nih nasibnya? Kelaparan, saling
bunuh, saling aniaya. Masih bagus kalau mereka anteng nonton
sinetron.....:)


>  Sering saya ikuti. Namanya juga celetukan, kadang-kadang tepat, namun
>  tidak jarang pula yang nggak pas, contohnya yang anda postingkan
>  terakhir, yaitu tentang 'dikasih sepeda motor malah di pakai
>  kebut-kebutan'. Kenapa tidak pas?

Anda tampaknya salah dalam mengartikan.
Saya coba jelaskan ya....:)


>  Dilihat dari fungsinya:
>  Sepeda motor adalah salah satu alat transportasi, yang mempunyai
>  kecepatan 0 km/jam sampai 160 km/jam. Artinya, alat transportasi ini
>  terbuka untuk digunakan dalam range kecepatan yang tersedia. Jadi, nggak
>  ada salahnya khan kalau pengemudinya mau jalan pelan kek, setengah pelan
>  kek, atau ngebut sekalipun. Lha wong sepeda motornya memadai.

Nah, coba deh anda naik motor 100-160 km/jam di Sudirman (Jakarta)
atau Pramuka (Jakarta). Apa menurut anda tidak apa2, dibolehkan
sama polisi, tidak membahayakan kepentingan umum?


>  Dilihat dari pengendaranya:
>  Pengendara alat transportasi ini sangat besar variasinya, ada yang baru
>  bisa nyetir, ada yang takut ngebut, dan atau ada yang pembalap juga.
>  Sehingga, gaya mengendarainya terserah pengendaranya khan. Mau jalan
>  dipinggiran pelan-pelan, mau zig-zag, mau kebut-kebutan...... Semua gaya
>  tsb khan paling tidak sesuai dengan 'confidence' dari pengendaranya.
>  Jadi apa salah kalau pembalap mengendarai sepeda motor ngebut?


Nah, khan ketahuan banget anda tuh maksa banget cari
pembenarannya. Bahasa kerennya, ngeles.
Ya sudah jelas istilah kebut2an yg dimaksud oleh Wimar itu
itu bukan dalam konteks lagi racing di sirkuit, eh anda coba2 cari
pembenaran atas istilah kebut2an dengan mengatakan hal
tersebut tidak masalah kalau lagi racing.
Khan diskusi seperti ini yg sering menyebabkan banyak makan
energi.

Gini deh, gampangnya, agar ngga kepanjangan. Saya jelaskan
bahwa kebut2an yg dimaksud itu adalah kebut2an di jalan
umum. Artinya kebut2an disini adalah kecepatannya jauh di atas
normal dan bawa motornya ugal2an karena biasanya kalau
orang yg suka kebut2an itu suka nyalip kiri dan nyalip kanan
untuk mendahului  kendaraan di depannya.
Nah, apa anda masih mau bilang bahwa hal itu tidak apa2
walau kita sama2 tahu bisa membahayakan keselamatan
orang lain?

>  Dilihat dari konversinya:
>  Sepeda motor dimaksudkan untuk 'demokrasi'. Dibagian mananya nih yang
>  sesuai? Saya nggak yakin kalau Wimar pernah naik motor. Persepsinya
>  terhadap sepeda motor kelihatannya kurang pas.

Perspesinya Wimar yg kurang pas atau anda yg "kurang mampu"
menangkap poin yg ingin diangkat oleh Wimar?.....:)
Ngomong2, tahu dari mana anda bahwa Wimar belum pernah
naik motor??


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke