In a message dated 6/23/00 1:24:54 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Iya ya, rasa-rasanya diskusi kita nggak maju-maju. Apa yang tersirat
> dalam tulisan saya nggak banyak yang tertangkap oleh anda, sementara apa
> yang anda tuliskan menjadikan diskusi semakin melebar dan, yang
> terpenting, saya bertambah bingung.
Mungkin lain kali anda kalau diskusi ngga usah main sirat2an.
Ngomong jelas aja. Lha, orang yg diskusinya pakai bahasa jelas
dan langsung saja kadang2 bisa salah tangkap, apalagi yg pake
bahasa muter2 seperti anda. Jadi, akan lebih baik kalau pake
bahasa langsung saja. Paling tidak, baik untuk saya.
Bagi anda mungkin diskusi terasa semakin melebar.
Padahal saya lakukan itu sebagian besar hanya mencoba
menjelaskan dari sudut pandang yg lain agar anda bisa memahami.
Tapi, tampaknya pikiran anda sudah terpatri dengan satu hal
sehingga tidak mau lagi melihat kemungkinan lain.
Paling tidak, hal2 seperti inilah yg saya lihat dan rasakan
dari diskusi kita akhir2 ini.
Dan satu hal lagi yg menurut saya tidak baik adalah,
anda membuat komentar2 seperti obrolan yg seolah2
saya menuliskannya padahal saya tidak pernah menuliskan
komentar2 tersebut. Cara seperti ini menurut saya adalah
cara diskusi yg sangat tidak sehat.
> Mungkin ada baiknya kalau kita sudahi saja ya diskusinya, supaya saya
> nggak 'over asyik', dan anda nggak kehabisan energi.
Baguslah, akhirnya anda sadar dan mau mengerti akan
hal ini.
> > Andanya asik, sayanya yg merasa ngga asik
> > karena diskusi ini mengarah ke debat kusir khususnya
> > bagian kebut2an.....:
>
> Katanya membela kepentingan rakyat banyak, kenapa masih melecehkan
> profesi kusir? (Dahulu kala saya pernah kritik yang sama khan.....? Apa
> anda lupa bahwa anda adalah orang yang terbuka untuk dikritik dan bisa
> menerima masukan seperti yang selama ini anda gembar-gemborkan di milis
> ini...??).
Saya menggunakan istilah yg berlaku umum dan masih
digunakan dalam tata bahasa Indonesia. Silahkan berikan
informasi ke saya pengganti istilah "debat kusir" yg sudah
dibakukan. Nanti saya akan menggunakan istilah baru tersebut.
> Saya lebih suka mengatakannya kemungkinan mengarah ke 'debat bebek',
> artinya 'bebek-bebek'nya ribut, orang lain terganggu dan pening karena
> nggak ngerti yang diributkan. Apa iya...?
Anda mau menggantikan istilah "debat kusir" menjadi "debat bebek"
dengan alasan seperti di atas. Yang menjadi pertanyaan, kenapa harus
bebek? Kenapa bukan anjing, kucing, serigala, ayam, dll?
Padahal anda tahu bahwa antar binatang tersebut mereka sebenarnya
punya komunikasi yg bisa dimengerti antar mereka sendiri.
Bebek kalau melihat manusia yg lagi ngomong pun mereka tidak
akan mengerti. Jangankan bebek, banyak orang Indonesia (termasuk
saya) yg kalau memperhatikan orang Rusia lagi ngobrol, juga
ngga ngerti apa yg diobrolkan. Apa lalu kita mau menjadikan
istilah "debat Rusia"?
Intinya, silahkan beritahukan ke saya kalau sudah ada istilah
resmi pengganti istilah "debat kusir".
Oh ya, ngomong2 udah pernah tahu bebek AFLAC?....:)
Menurut anda yg bodoh itu laki2nya atau bebeknya yg
padahal sudah berkali2 ngasih tahu, AFLAC....:)
> > (Terus terang saya lagi ngga kepengen diskusi yg
> > bermain2 dengan kata.....:(
>
> Ya kalau diskusi tanpa kata-kata khan kayak pantomim....
> Gimana caranya coba memasukkan gerakan-gerakan pantomim ke dalam
> email.... (kecuali kalau kang Acu sudah menemukan formulanya...).
Inilah salah satu contoh komentar2 anda yg bagi
saya adalah bermain kata.
[kecuali bila pemaparan anda di atas maksudnya adalah hanya
becanda saja]
> Ini contoh kalau anda nggak menangkap dengan lengkap esensi tulisan
> saya. Kalau gitu saya coba jelaskan sedikit ya
--dihapus---
> Gini ya mas ya...., bagaimanapun, teman-teman mahasiswa UI tsb
> khan rakyat juga yang mengalami dan merasakan langsung segala fenomena
> buruk yang terjadi di tanah air (mereka 'pemain bolanya' dan anda 'hanya
> penontonnya').
Ohh.....jadi yg anda maksud dengan 'pemain bolanya' itu
adalah mahasiswa UI toh. Pantesan......
> Sehingga apa yang mereka raba-rasakan adalah sebagai
> dasar dari manifestasi yang mereka lakukan untuk mencari perbaikan
> fenomena-fenomena buruk di sekitar kehidupan mereka.
----dihapus------
> Nah, salah
> satu manifestasi ala mhs ini adalah polling opini diantara sesama mhs
> yang diakhiri dengan pemberian Soeharto Award. Unfortunately, dari hasil
> polling tsb, nama AR nggak muncul untuk termasuk sebagai 'juragan'
> pemerintah yang perlu 'diingatkan' perbuatan jeleknya. Bukankah ini bisa
> dijadikan indikator bahwa kenapa diantara 600 mhs UI secara acak nggak
> nyebut AR berbuat buruk. Sekali lagi, mereka-mereka ini benar-benar ada
> di lapangan, dan tahu persis di sebelah mana dari 'lapangan' tsb yang
> ada semut merahnya, sebelah mana yang ada (maaf) kotoran anjingnya
> (maklum, lapangan di tanah air khan nggak bebas kotoran anjing...), dan
> siapa saja yang ikutan 'main bola'.
Dari posting2 saya terdahulu bisa dilihat kembali bahwa
saya pada dasarnya tidak pernah mempermasalahkan
soal hasil polling mahasiswa UI tersebut. Silahkan saja
berpendapat dan beropini. Ini khan negara demokrasi.
[polling yg dilakukan oleh mahasiswa ini pun sebenarnya
perlu dipertanyakan lebih lanjut asumsi2 yg digunakan
dan cara data2 tersebut dikumpulkan termasuk latar
belakang responder agar bisa dilihat dan dianalisa tingkat
kevaliditasannya]
Yang saya permasalahkan sebenarnya adalah ucapan
anda yg memakai polling mahasiswa UI tersebut sebagai
suatu kebenaran sehingga komentar2 lain yg mempermasalahkan
Amien Rais anda abaikan dengan dasar pemikiran bahwa
jumlahnya hanya sekian saja dari ratusan juta penduduk
Indonesia.
Nah, saya mau nunjukkan inkonsistensi anda dalam
melihat sesuatu. Di satu sisi anda tidak permasalahkan
jumlah yg 600 itu, tapi disisi lain anda mempermasalahkan
jumlah yg terbilang kecil dengan pembanding ratusan
juta penduduk Indonesia.
Mudah2an bahasa yg saya gunakan sekarang cukup jelas
untuk dimengerti oleh anda.
> Bandingkan dengan anda yang sebagai 'penonton', hanya berdasarkan pada
> tulisan di koran, sukur-sukur bisa dengar siaran langsung dari radio,
> apa tahu letak kotoran anjing tadi?
Yang menulis di koran atau yg berkomentar di koran itu
apa anda pikir bukan orang2 yg ada dilapangan?
Makanya, sering2lah perhatikan tulisan2 di media surat kabar
atau pun media online yg sudah banyak pula mempermasalahkan
atas tingkah dan ulah Amien Rais. Mereka2 itu khan juga
berlokasi di tanah air yg juga bisa merasakan langsung atau
pun melihat/mendengar apa yg ada di tanah air.
Coba deh anda sekali2 cari tahu komentar orang di tanah air
tentang Amien Rais. Tentunya jangan cari komentar
dari pendukung fanatik Amien Rais ya. Percuma saja,
soalnya yg keluar ya kata2 yg bagus saja tentang
Amien Rais. [hal sama berlaku pula untuk pendukung fanatik
Gus Dur, Mega, Akbar Tandjung, dll]
Yang namanya sudah fanatik tuh, orang cenderung jadi
buta. Beruntunglah saya bukan termasuk orang yg
memfanatiki seseorang atau pun tokoh.
> Lho juga, jadi itu jawabannya ya.....?!
> Waktu itu saya khan nanya, apa hubungan AR dengan kasus Ambon. Nah,
> kalau jawaban anda itu saya khan semakin ragu, sehingga saya bertanya
> ulang sampai ke "kata-kata AR yang mana yang bisa mengakibatkan Ambon
> rusuh". Betapa tidak, sedemikian hebatnya kata-kata AR di Monas JKT bisa
> mengakibatkan Ambon perang saudara dengan mengorbankan sekian ribu jiwa.
> Relevan nggak sih? Lalu anda masih saja mengkaitkan kata-kata di Monas
> Januari itu dengan kejadian di Ambon dan Maluku beberapa hari ini. Lho
> kok.....???
Pidato Amien Rais di silang monas tempo hari tersebut
khan berkaitan dengan rencana pengiriman laskar jihad
ke Ambon? Anda khan sudah tahu kapan waktunya
pengiriman laskar jihad itu terjadi.
Dan anda saya asumsikan juga sudah mengikuti perkembangan
situasi yg terjadi di Maluku akhir2 ini.
Sekedar menyegarkan ingatan anda saja, tidak lama setelah
Amien Rais melakukan pidato di silang monas awal Januari
lalu tersebut, dubes AS sampai perlu meluangkan waktu khusus
datang menemui Amien Rais di ruang kerjanya sebagai ketua
MPR, untuk mencoba mencari klarifikasi langsung ke Amien
Rais atas pidatonya di silang monas tersebut.
Nah, silahkan saja anda cermati peristiwa tersebut.
Kalau memang tidak dianggap serius ucapan Amien Rais,
dan tidak dilihat statusnya Amien Rais yg ketua MPR saat itu,
ngapain juga dubes AS itu repot2 datang langsung menemui
Amien Rais ke gedung MPR.
Silahkan lagi deh anda buka2 media nasional pada periode
tersebut. Apa komentar2 yg ada seputar pidatonya Amien Rais
di silang monas tersebut.
> Kata-katanya yang kontraproduktif itu yang mana?
> Inilah yang sebenarnya saya pingin tahu, sehingga kalau benar saya bisa
> mendukung anda untuk meneriakkan 'impeach' AR.
Sudahlah, saya sudah malas nerangin secara detil
satu per satu akan hal ini. Silahkan saja deh anda
ikuti komentar2 dan tulisan2 di media nasional.
Ntar juga anda nemuin sendiri. Kalau saya yg ngomong
khan nanti anda bilang saya ini ngga berada dilokasi.
Tapi nanti kalau ada orang yg dilokasi ngomong,
bisa2 anda bilang bahwa itu hanya komentar simpatisan saja,
atau orang yg memang sudah tidak suka dengan Amien Rais.
Ya, susahlah kalau cara pikir seperti ini terus dipegang.
Komentar selebihnya tidak perlu saya tanggapi.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu