Hehehe..... asyik lho diskusi dengan Irwan ini....

Irwan Ariston Napitupulu wrote:

> ada
> seingat saya, ada.
> ada.
> ada lagi pertanyaan yg lain?......:)

Dengan jawaban seperti ini, kelihatan kalau anda kurang menangkap dengan
lengkap maksudnya. Semestinya anda melengkapi masing-masing jawaban anda
tsb dengan proporsinya, sehingga kelihatan bobot di masing-masing
indikator tsb. Apakah ada artinya kalau hanya satu atau dua orang saja
dari sekian ratus juta jiwa orang Indonesia menyatakan menuntut AR
dicopot dari jabatannya? (misalnya nih......).

> Saya sudah cukup jelas paparkan di posting2 saya sebelumnya.
> Dasar saya adalah berdasarkan pengamatan saya selama ini
> dan data2 yg saya miliki berdasarkan apa yg saya baca dan dengar,
> Amien Rais sudah beberapa kali bertindak atau berucap tidak
> selayaknya sebagai seorang ketua MPR. Akibat tingkah dan ulahnya
> ini membuat pemulihan perekonomian Indonesia terancam dan
> bahkan sempat beberapa kali mengancam keutuhan bangsa.

Munculnya pertanyaan saya tentang dasar anda ini justru karena saya
tidak pernah mendapatkan kejelasan dari alasan anda. Ingat khan
pertanyaan saya dalam "AR vs Maluku", yang menanyakan apa hubungan
antara AR dan kerusuhan Maluku, kenapa anda hilangkan dan tidak
menjawabnya?

Sekarang, coba anda beri contoh, tingkah dan ulah AR yang mana yang
membuat pemulihan ekonomi Indonesia terancam. Saya sulit mengerti ini.
Perekonomian yang memegang kendali adalah pemerintah, sementara AR
adalah orang DPR/MPR. Nyambungnya dimana nih?

> Ketidakpastian di dalam negeri semakin meningkat akibat ulah
> dan ucapannya di depan publik.

Ketidak pastian yang mana?

> Mudah2an sekarang cukup jelas.

Anda lagi menjelaskan atau menambah kebingungan?

> Karena banyak masyarakat kita yg kena "tipu" oleh
> pemberitaan2 media cetak atau online. Saya yg merasa
> tidak kena tipu mencoba menyampaikan pemikiran ini ke
> umum/publik. Tinggal nanti kita lihat apakah pemikiran saya
> ini akan "dibeli" atau tidak. Saya tidak sedang mengatakan
> rekan2 mahasiswa UI tersebut gampang di tipu, tapi terkadang
> penonton sepak bola suka lebih jelas melihat jalannya
> pertandingan ketimbang pemain sepak bola itu sendiri.

Anda terjerumus oleh omongan anda sendiri.
Anda bisa beropini karena punya dasar informasi dari sumber-sumber
berita (media cetak dan online). Sekarang anda menuduh sumber-sumber
berita ini 'menipu'. Lalu, sebenarnya anda dapat berita yang menurut
anda 'benar' dari mana sehingga anda mengatakan tidak tertipu? Dari
langit? Dari pangsit, eh...... wangsit?

Kalau penonton sepakbola, memang lebih jelas melihatnya, namun tidak
pernah tahu persis khan bola akan dibawa kemana, mau dikasih ke siapa,
dan mau diapakan? Belum lagi, penonton sama sekali tidak bisa memutuskan
khan bola mau dimasukkan gawang atau di bawa pulang, eh..... dibuang ke
luar maksudnya. Artinya, penonton boleh bisa melihat dengan jelas, namun
SAMA SEKALI tidak pernah bisa meraba-rasakan yang terjadi di lapangan.
Kelihatan khan, kalaupun penonton beropini, masih jauh untuk bisa
dikatakan mendekati kenyataan yang sebenarnya.

> Contohnya saja kasus Gus Dur dengan Sabirin yg
> di blow up oleh media sebagai suatu bentuk intervensi
> dari pemerintah terhadap BI.
> Lha, apanya yg intervensi?

Anda terlalu banyak memuat porsi hanya untuk sebuah contoh. Diskusinya
khan bisa menyimpang kalau saya nanggepin juga contoh anda ini.

> >  Justru karena sejak dulu anda 'benci' AR-lah maka saya tergerak untuk
> >  mencari berita apa saja ttg AR untuk mencari tahu apa memang benar AR
> >  melakukan (ngomong) yang seperti anda tuduhkan.
>
> Tuh khan, dimulai lagi. Anda ini benar2 bebal atau ngga sih?
> Sudah saya kasih tahu dan anda bisa cek di arsip server
> syracuse, apakah saya ini orang yg benci AR atau tidak.
> Kalau saya benci, ngapain juga dulu saya dukung dia?
> Kalau saya termasuk orang yg benci Amien Rais, maka nanti pun
> setelah dia di impeach dari jabatannya sebagai ketua MPR
> dan hanya jadi anggota MPR biasa, apapun yg dia katakan
> dan lakukan kelak akan terus saya komentari.

Saya justru ingin tanya ke anda. Anda ngerti nggak sih maknanya kalau
ada kata ditaruh di dalam tanda petik ('..')? Anda mengartikannya di
sini seperti kata tsb tidak punya tanda petik. Apa hubungannya coba
dengan bebal?

> Kalau anda mau diskusi dengan baik, tolong dong hargai
> penjelasan lawan diskusi anda sebelumnya.

Kalau anda mau diskusi dengan baik (niru ya, boleh khan....?), tolong
dong dibaca dengan baik tulisan lawan diskusi anda.

> MPR memang bersidangnya setahun sekali dan itu untuk
> Sidang Umum. Sementara pembahasan dalam komisi2 di MPR
> tidak dilakukan setahun sekali. Masa anda ngga tahu tentang
> hal ini?

Tahu.

> Saat ini beberapa anggota MPR yg bertugas sedang
> membicarakan dan membahas hal2 yg berkaitan dengan
> amandemen UUD 45. Nah, bukankah seharusnya Amien Rais
> lebih mengkonsentrasikan diri dengan tanggung jawabnya
> ini ketimbang melakukan "intervensi" atas pemerintah?

Lho, apakah AR tidak konsentrasi ke situ?
Apakah ngomong lima menit atau sepuluh menit ngritik pemerintah akan
menghabiskan/menyita waktu kerjanya?

> Tugas kontrol atas pemerintahan adalah tanggung jawab DPR,
> bukan MPR.

Oh........, kelihatannya di sini nih yang anda tidak tahu. AR itu ya mas
ya....., selain anggota/ketua MPR, juga anggota DPR.

> Trus, kalau berita2 yg berhubungan dengan Gus Dur anda
> berkesimpulan bahwa berita2 tersebut adalah berita yg tidak
> sepotong2, berita yg sudah pasti pas dengan makna keseluruhan?
> Lha, koq bau standar ganda ya?.....:)

Apakah saya menyimpulkan seperti itu?
Itu khan kesimpulan anda sendiri. Terus dilanjutkan dengan nyalahin
orang..... Apa yang sedang anda lakukan mas....????

> Iya, sampai2 ada opini dimasyarakat kalau sekarang Amien Rais
> ngomong A, jangan kaget kalau besok dia ngomong B.

Apanya yang aneh?
Bukankah variasi omongan itu tidak terbatas. Dari A sampai Z dan segala
macam bentuk kombinasinya (tanya kang Acu, berapa kombinasi A - Z yang
bisa didapat). Dan nggak ada larangan khan kalau orang mau ngomong apa.

> Coba deh iseng2 anda cari tahu, berapa banyak sudah orang
> yg tidak suka dengan ulah Amien Rais.

Lho ini seharusnya tugas anda. Jangan nyuruh saya.
Lha wong anda yang minta AR di-impeach, tentunya khan harus punya dasar
dan supporting data yang kuat dan akurat. Kelihatannya anda nggak punya
ya....????? Saya bisa memaklumi, namanya juga opini....

> Dan opini andalah yg tepat karena sekolah anda sudah tinggi
> dan pola berpikir anda sudah lebih matang.....:)
> Weleh, ini diskusi model apa ya?.....heheheee

Wow, ini khan kesimpulan anda. Hehehe juga......

> Dan seorang ketua MPR omongannya jangan dikaitkan
> dengan jabatannya sebagai ketua MPR. Gitu maksud anda?....:)
> Boleh tahu, kesimpulan anda ini dasarnya apa?

Betul.
Dasarnya, MPR adalah lembaga. 'Omongan' atau 'produk' lembaga MPR adalah
Keputusan MPR. Sedangkan AR adalah individu (kebetulan ketua MPR), jadi
omongannya adalah omongan individu. SAMA SEKALI bukan 'omongan' atau
'produk' lembaga MPR.

> Kasus yg cukup parah pertama adalah ketika dia
> melakukan pidato di silang monas awal Januari 2000.

Apa benar pasar beraksi negatif?
Apakah karena omongan AR atau karena hal lain?

> Kasus yg cukup parah kedua adalah ketika dia melontarkan
> pemikiran impeachment atas Gus Dur pada SU Agustus mendatang
> yg dia ucapkan sekitar akhir April atau awal Mei (saya lupa tepatnya).

Sepengetahuan saya, dia mengatakan bahwa MUNGKIN SAJA sidang tahunan MPR
berubah menjadi sidang istimewa KALAU banyak fraksi-fraksi lain di MPR
menginginkannya. Apakah ngomong begini salah?

(Saya mau GR saja nih.....)
[(Irwan) Tentu saja salah. Yang ngomong khan ketua MPR.]
[(Budi) Lho, AR khan ngomong tidak mengatasnamakan MPR, dia ngomong
sebagai individu.]
[(Irwan) Anda ini bebal apa nggak sih?]
Hehehe........

> Anda tampaknya salah dalam mengartikan.
> Saya coba jelaskan ya....:)
> Nah, coba deh anda naik motor 100-160 km/jam di Sudirman (Jakarta)
> atau Pramuka (Jakarta). Apa menurut anda tidak apa2, dibolehkan
> sama polisi, tidak membahayakan kepentingan umum?

Apakah Wimar menyebutkan bahwa sepeda motor tsb harus dikendarai di
jalan umum? Enggak khan?

> Nah, khan ketahuan banget anda tuh maksa banget cari
> pembenarannya. Bahasa kerennya, ngeles.
> Ya sudah jelas istilah kebut2an yg dimaksud oleh Wimar itu
> itu bukan dalam konteks lagi racing di sirkuit, eh anda coba2 cari
> pembenaran atas istilah kebut2an dengan mengatakan hal
> tersebut tidak masalah kalau lagi racing.
> Khan diskusi seperti ini yg sering menyebabkan banyak makan
> energi.

Emang siapa yang nyebut lagi racing di sirkuit?
Saya khan menyebutkan bahwa kalau yang nyetir 'confidence', ngebut khan
tidak masalah. Bisa saja khan orang lain berpendapat seperti ini dari
omongannya Wimar?
Sekali lagi, Wimar khan nggak nyebut di mana kebut-kebutan tsb
dilakukan.

Kalau kehabisan energi, ya udah, sambil makan sana, biar energinya
nambah lagi.

> Gini deh, gampangnya, agar ngga kepanjangan. Saya jelaskan
> bahwa kebut2an yg dimaksud itu adalah kebut2an di jalan
> umum. Artinya kebut2an disini adalah kecepatannya jauh di atas
> normal dan bawa motornya ugal2an karena biasanya kalau
> orang yg suka kebut2an itu suka nyalip kiri dan nyalip kanan
> untuk mendahului  kendaraan di depannya.

Ulah atau omongan AR yang mana yang bisa dikonversikan seperti situasi
tsb?

> Perspesinya Wimar yg kurang pas atau anda yg "kurang mampu"
> menangkap poin yg ingin diangkat oleh Wimar?.....:)

Bisa salah satu dan atau dua-duanya. Nggak susah khan milihnya.
Ada 4 kemungkinan jawaban. Bisa A benar B salah, A salah B benar, A dan
B benar, dan A dan B salah.

> Ngomong2, tahu dari mana anda bahwa Wimar belum pernah
> naik motor??

Bisa baca kata 'nggak yakin' dalam tulisan saya?
Apakah sama dengan yang anda tulis di atas, yang menyebut saya tahu?

Salam,
Budi

Kirim email ke