Seberapa jauh Indonesia baru
dapat terwujud jelas sangat tergantung pada seberapa efektif proses rekruitmen
politik dapat melahirkan kepemimpinan nasional dan elite politik yang memiliki
visi, integritas, dan kualitas negarawan. Tidak dapat dipungkiri kalau parpol
adalah saluran strategis bagi proses itu.
Tulisan abang adalah tamparan ketika kita semua mengharapkan laju negeri ini
menjadi kian lebih baik lagi. Sulit berharap adanya air segar di hilir bila
hulunya telah tercemar. Sulit menanti munculnya kebijakan-kebijakan populis,
bila proses rekrutmen itu sendiri sudah terjangkiti mitos uang pada awalnya.
Tapi optimisme wajib ditumbuhkan. Bukankah percaya diri adalah karakter
bangsa. Meskipun trias politikanya Mostesque makin kehilangan khitah, saya
yakin media massa dan masyarakat warga masih memiliki energi untuk mengawal
eksistensi bangsa dan negara ini.
Salam
Hendri Teja
--- Pada Rab, 14/10/09, Lies Suryadi <[email protected]> menulis:
Dari: Lies Suryadi <[email protected]>
Judul: Bls: [...@ntau-net] silakan urut dada, apa lagi yg anda banggakan dg
bangsa ini?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 14 Oktober, 2009, 9:16 AM
Nal,Ini memang sudah parah. Tapi ini jauh menyangkut pandangan dan filosofi
hidup, terutama kaitannya dengan UANG yang dalam bahasa Melayu banyak benar
padanannya--fulus, kepeng, pitis......
Budaya uang ini belum lama tumbuh dalam masyarakat kita. Tapi daya rusaknya
luar biasa.
Salam,Suryadi
--- Pada Rab, 14/10/09, nal naldi <[email protected]> menulis:
Dari: nal naldi <[email protected]>
Judul: [...@ntau-net] silakan urut dada, apa lagi yg anda banggakan dg bangsa
ini?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 14 Oktober, 2009, 4:05 PM
Ini catatan saya di facebook, yang kemudian saya gelar untuk
palanta.
Menteri, Calon Manteri dan Bibit Korupsi Sudah Disemai...
Seorang menteri, Rabu (14/12) siang, meminta saya datang ke ruang kerjanya.
Saya mengenalnya selama ini, karena program-programnya boleh dikatakan luar
biasa. Banyak keberhasilan, prestasi bangsa ini di bawah kepemimpinannya.
Banyak yang mengakui keberhasilannya.
Ditemani teh hangat, sang menteri yang ganteng itu (agak menjurus, supaya Anda
bisa menebak), tampak kurang semangat. Oleh daerah asalnya ia jadi tumpuan,
sehingga ia pun terpilih jadi anggota DPR RI periode 2009-2014. Cuma karena
komitmennya menuntaskan kerjanya di kementerian, akhirnya ia ikhlas mundur.
Masih berharapkah ia jadi menteri? Mungkin itu pertanyaan yang bisa kita
ajukan. Dengan mundur di DPR RI, mungkin saja. Yang pasti ia tak menawarkan
diri, tak mengajukan curriculum vitae. Semua diserahkan kepada Sang Presiden
yang punya hak prerogatif.
Lantas, karena tekanan dari partai semakin
memuncak. kecil kemungkinan Sang Presiden, SBY pasti, punya hak 100 persen
untuk memilih orang yang menurut dia pas jadi menterinya, pembantunya.
Pemerintahan ke depan, kabinet SBY, tak lebih dari bagi-bagi kekuasaan, balas
jasa (atas nama koalisi) dan sebagainya.
Kembali ke sang menteri. Melihat kondisi sekarang, menjelang Presiden dilantik
dan kabinet diumumkan, sang menteri mulai jengkel. Tidak ke pemerintah, tapi ke
pihak partai. Ternyata, untuk bisa nama diajukan jadi calon menteri, (pimpinan)
partai yang selama ini ia besarkan, meminta "sumbangan" sebesar Rp4 miliar.
Sekali lagi, Rp4 miliar.
"Uang sebesar itu, dari mana bisa didapatkan? Sesuatu yang mustahil, kecuali
kalau mau korup..." ujarnya.
Tapi saya yakin, hal seperti itu sangat jauh dari perilakunya.
Apa tak bisa tawar menawar?" saya balik bertanya.
"Tidak sama sekali," katanya."Tapi sudahlah, saya tidak menyangka...."
"Bagaimana dulu, apa juga sebesar itu?" saya kembali
bertanya.
"Dulu tidak ada keharusan menyumbang. Kalau pun menyumbang, itu di luar
kepentingan untuk jadi menteri," ujarnya.
Dan sang menteri itu, dulunya ketika terjun jadi fungsionaris partai, merupakan
penyumbang terbesar
Apakah hal seperti ini juga terjadi di partai lain?
"Saya kira sama saja. Semua partai saya kira akan seperti itu," cerita sang
menteri.
Angka Rp4 miliar, bagi calon menteri lain, dan atau dari partai lain, mungkin
sedikit. Yang penting kebanggaan jadi menteri. Apalagi, dengan jabatan itu,
nilai sumbangan akan bisa dikembalikan, bahkan bisa melebihi nilai sumbangan
itu yang bisa terkumpul selama jadi menteri. Bagaimana caranya, saya tak ingin
mencari tahu itu. Kecuali kalau saya berhadapan dengan menteri yang tidak punya
mental bersih, antikorupsi. Akan saya cecar dengan pertanyaan.
Sang menteri sempat melihatkan sebuah berita rumor di harian sore, yang
menyatakan ia hengkang ke partai....Ia kesal, kenapa rumor
bisa jadi berita? Kenapa tidak ada konfirmasi? Yang ia cemaskan, pimpinan
partai menganggap berita rumor tersebuat sebagai sebuah kebenaran, tanpa mesti
melakukan cek dan ricek.
Saya baca, pengurus pusat partai tersebut ikut berbicara, dengan pernyataan
yang pedas. "...Kalau hengkang, tau sendiri resikonya," begitu antara lain
kalimat yang seolah-olah telah memvonis.
Sebagai wartawan, saya mencoba koreksi diri. bagi saya, dan media saya, rumor
memang tak layak jadi berita. Terlihat benar betapa bodohnya wartawan yang
menjadikan rumor sebagai berita. Tapi, itu urusan media mereka. Tak tahu kalau
ada motif di balik itu, ingin merusak citra sang menteri tadi, sehingga ada
alasan ia tidak bisa diajukan lagi. Padahal, di balik pengajuan nama calon
menteri oleh partai itu, yang penting setoran sumbangannya.
Bisa dibayangkan kondisi bangsa ini kelak. Korupsi akan semakin merajalela.
Peran KPK dilemahkan, ternyata, tujuan akhirnya agar korupsi bisa
berjalan diam-diam. Kasihan Antasari, jadi korban "persengkongkolan"
pihak-pihak yang ingin korupsinya tidak diusik-usik....
Mengetahui kenyataan seperti ini, bagaimana sikap Anda?
Jakarta, 14 Oktober 2009
Salam prihatin
yurnaldi
>
>
>
>
>
>
>
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain
"Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com"
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---