Betul Pak Agus, Pak BTS dan Pak BSP mohon jangan japri2an... saya sendiri turut sangat menikmati pembelajaran soal keuangan daerah di sini...
Mas Koko, saya kira bagaimanapun seorang planner suka atau tidak suka pasti terikat pd ideologi yg dianut negara tempat dia membuat rencananya... Indonesia misalkan by constitution sebetulnya banyak menganut prinsip2 keadilan sosial yg dapat dikategorikan negara sosialis non komunis.. tapi dlm perkembangannya banyak juga kebijakan yg bersifat liberal, semi liberal, dst... semua campur aduk... jadi memang bukan salah planner negeri ini kalau tdk punya ideologi sebingung elit2 politiknya (rasanya ada artikel detik.com yg menyatakan dlm masa datang parpol harus menganut ideologi liberalisme atau sosialisme karena nasionalisme memang bukan ideologi)... salam. --- Haryasetyaka <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Bank adalah bank... lembaga keuangan yg fitrahnya adalah mendapatkan > untung dari bunga pinjaman.. > > profit atau untung adalah bagian yg tidak terpisahkan dari > keberlangsungan dan keberlanjutan Bank.. > > saya selalu percaya bahwa kita tidak bisa mengharapkan suatu lembaga > utk berbuat selain apa yg menjadi fitrah-nya... > > Planner ditantang utk bisa menyelesaikan masalah... bukan berlindung > dibawah alasan 'tidak ada duit...' > > tepat kalau pak BTS menyebutkan (minimal) 2 versi Planner, kapitalis/ > bervisi sosial... > karena pilihan tersebut mutually exclusive dengan keprofesian. > artinya, tidak selalu planner di'wajibkan memeluk ideology tertentu.. > (hare gene mewajibkan ideologi???) > > kalau saya cenderung melihat dari 'efektifitas' seorang planner... > kalau kapitalis (apapun itu) tapi efektif, dan tidak melanggar norma > maupun hukum, mengapa tidak? > > Saya semakin yakin; bahwa karut-marut di sektor finansial bisa > berdampak pada lingkungan fisik... namun sebaliknya, mungkin tidak > terlalu signifikan... > > -K- > > > Harya Setyaka > Duren Tiga Selatan 89 > Jakarta INDONESIA > > ----- Original Message ---- > From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Tuesday, August 28, 2007 10:08:07 PM > Subject: Re: [referensi] kata SBY soal PENEMPATAN SBI: Ironi di > tengah kebutuhan dana utk pembangunan > > > > > > > > > > > > > > > > > > Ysh Bung Dwiagus dan milister lainnya > > > > Tenang, tenang, belum ke japri koq sepanjang > isunya masih hal-hal yang populer. Memang Pemerintah mengais-ngais > dana dari > World Bank, ADB, IDB, dan lainnya untuk menutupi defisit. Sekarang > defisit sudah > mendekati angka 1% dari PDB (maksimum 3%). Mengapa duit daerah tidak > dipinjam > saja oleh Pemerintah daripada di SBI-kan? > > > > Soalnya adalah jangka waktu. Kalau pinjam ke ADB, > WB, Obligasi Pemerintah, ORI, dan sebagainya, itu berjangka panjang > (10-20 > tahun) dan bunganya masih sekitar 10%; sedangkan kalau pinjam di > bank, atau BPD > (sebagai bank umum biasa) itu jangka pendek (maksimum 5 tahun) dan > bunganya bisa 17%. Mengapa BPD memilih meletakkan dana pemda ke SBI? > Karena > berjangka pendek dan sewaktu-sewaktu bisa dicairkan atau ditarik. Nah > Pemerintah > sekarang sedang menerbitkan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang > berjangka pendek. Ini kesempatan bagi pemda untuk membeli SPN. Dengan > membeli > SPN (dibandingkan menempatkan di SBI), maka dana itu tidak nganggur > di BI dan > mendapat bunga, tetapi dana itu dipakai oleh Pemerintah untuk > membangun dan > tetap mendapat bunga (kupon) yang sama dengan yang diperoleh di > SBI. > > > > Tentang BPD, memang namanya "pembangunan" , tetapi > prakteknya bank umum biasa. Sebelum tahun 1980, ada 3 jenis bank > yaitu Bank > Sentral, Bank Pembangunan, dan Bank Umum. Catatan bahwa yang dimaksud > dengan > Bank Sentral adalah Bank Indonesia yang mengatur kebijakan moneter, > Bank > Pembangunan adalah bank yang memberi kredit jangka panjang untuk > proyek > berjangka panjang, misalnya perkebunan, sedangkan Bank Umum adalah > bank kredit > biasa. Setelah itu (UU yang baru tentang perbankan, tahun 1983), Bank > > Pembangunan tidak ada lagi, jadi tinggal Bank Sentral dan Bank Umum, > termasuk > Bapindo dan BPD menjadi bank umum biasa. Sekarang ada lagi Bank > Syariah. Dulu > pembentukan BPD hanya berdasarkan perda, sekarang pembentukannya > diperbarui > menjadi PT biasa sesuai dengan UU tentang Perseroan Terbatas. > > > > Sepengetahuan saya, belum ada bank yang melongok > masterplan terus kemudian mempromosikan masterplan untuk dibiayai. > Yang ada baru > berupa aplikasi calon debitor yang berkaitan dengan lokasi. Misalnya > pengusaha > realestat dan properti mengajukan proposal kredit. Di sini baru bank > mempelajari > prospek lokasi dan masterplan. Bila propek lokasi bagus dan sesuai > dengan > masterplan, baru kredit itu bisa disetuji. Jadi memang bank itu butuh > planner, > tetapi planner yang berpikiran bisnis atau planner kapitalis, bukan > planner yang > bervisi sosial..wah bank bisa bangkrut nanti. > > > > Thanks. CU. BTS. > > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: > B. Dwiagus > Stepantoro > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > Sent: Tuesday, August 28, 2007 5:11 > PM > > Subject: Re: [referensi] kata SBY soal > PENEMPATAN SBI: Ironi di tengah kebutuhan dana utk pembangunan > > > > > > Pak BSP+BTS, > > 1. Kok jadi mau japrian? Bagi-bagi ilmunya,dong, pak. > Jangan disimpen berduan. hehehehe > > 2. Sebuah ironi apabila Dana di BPD > di parkir di SBI, ketika masih ada orang-orang di pusat,propinsi, > atau > daerah yang masih mengais-ngais (atau mengemis-ngemis? ) dana dari > ADB, > WorldBank/IBRD, atau bank2 pembangunan di luar sana untuk > proyek-proyek > pembanungan, .... > Saya sih masih belum mengerti kenapa BPD masih mau > menyandang kata "PEMBANGUNAN" di namanya, tap ibelum bisa serius > menjadikan > "development" sebagai core businessnya, .... atau saya masih > bermimpi BPD-BPD ini bisa seperti ADB,IBRD dan lain-lain yang bisa > saja > memberikan loans ke Pemda-Pemda lainnnya,... .. > toh bisa ajah dia > melongok masterplan pembangunan propinsi/kabupaten tetangganya dan > mencari-cari kemungkinan "development business" yang bisa di > berikan,.. > memberikan loan dengan interest menarik untuk propinsi/kabupaten > tetangganya > yang m emang membutuhkan dana itu ... > BUkan kah seperti itu, para > "agen-agen ADB,WB,dll" yang melongok2 program,renstra nasional atau > daerah > untuk mencari kemungkinan2 loan2,... ?? > Apakah saya bermimpi ketika > mengharapkan BPD punya agen-agen yang lebih pro-aktif mencari > kemungkinan loan > untuk pembiayaan pembangunan di berbagai daerah,.. > > 3. Ya, sangat > normalkalau BPD menaruh dananya diSBI,..... tapi sebuah kesia-siaan > kalau itu > nganggur di SBI hanya sekedar mendapatkan bunga saja,.... dan harus > ada > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Luggage? GPS? Comic books? Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

