Ysh pak Benedictus D.S,
mungkin pernyataan saya agak nyeleneh bagi rekan-rekan yang sudah mengadopsi
bahasa "universal" yang telah "menguasai" pemikiran kita yang tidak semua
dari disiplin ekonomi (apalagi regional planner yang berbasis regional
economics). Saya maklum, karena istilah konsumsi dan produksi (yang berasal
dari istilah ilmu ekonomi) juga diadopsi dalam ekologi. Istilah dan cara
berfikir berbasis ekonomi sudah "mengakar" di benak sebagian besar kita.
Begitu juga banyak yang tidak setuju pendapat saya yang juga nyeleneh karena
beranggapan bahwa tiga pilar pembangunan : "ekonomi, ekologi dan sosial"
(atau sustainomic -nya yang antara lain dikemukakan Munasinghe) merupakan
konsep para ekonom untuk lebih concern terhadap masalah non-ekonomi (ekologi
dan sosial), sehingga keluar konsep bagaimana
memasukkan eksternalitas (dampak lingkungan dan sosial) menjadi internal.
Mungkin pendapat tersebut antara lain dapat di lihat dari sisi lain,
misalnya mengikuti uraian Miller, ekonomi cuma salah satu bagian dari aspek
manusia (human/social system) dibanding aspek alam (natural system). Artinya
ekonom melihat realita : ekonomi-ekologi-equity, teknolog :
buatan-alam-manusia, budayawan: budaya-alami-manusiawi, agamawan:
keimanan-alam-manusia, dll.
Mungkin begitu juga bagaimana kita melihat ruang, tidak selalu nilai suatu
lruang hanya dilihat dari aspek produksi/kapital atau konsumsi/keuntungan,
karena kalau menurut rent seeker, suatu lahan hanya memiliki nilai kalau dia
dimanfaatkan (dieksploitasi). Artinya: kalau suatu hutan distatuskan sebagai
hutan lindung, ada opportunity cost yang hilang bagi keuntungan masyarakat
yang tinggal di kawasan tersebut. Atau: kalau pasir laut sekitar kepulauan
Riau diselundpkan ke Singapura, propinsi Kepri akan kehilangan peluang
devisa sekian trilyun dolar, dsb. Padahal nilai suatu unsur lingkungan hidup
tidak dapat di"sederhanakan" menjadi elemen-elemen (ekonomi) yang parsial,
sebagai "sumber daya" (hutan, pasir, dsb sda) atau "kapital".
Hutan merupakan salah satu unsur utama sistem kehidupan maupuan peran
ekologisnya. Pasir laut merupakan bagian dari struktur habitat laut dan
posisi dan potensinya menunjang keberlanjutan keberadaan pulau-pulau di
dekatnya, dsb, dst. belum lagi kalau dilihat bahwa tata nilai berkembang
bersama berkembangan peradaban (termasuk kemampuan dan kebijakan) kita
sebagai bangsa kepulauan, yang kalau tidak ada upaya dari sekarang akan
kehilangan sekitar 2000 pulau.......Semoga kita tidak terkungkung oleh kotak
yang kita "selalu" beli dari bangsa daratan yang "maju", yang baru bereaksi
terhadap aspek lingkungan hidup setelah salah satu mantan wakil presidennya
"melek" atas betapa besar pengabaian mereka terhadap hari depannya
sendiri....(baru dari aspek unsur alam), atau terguncang bahwa ternyata
keberagaman (etnis) merupakan kenyataan di negaranya sendiri setelah salah
satu yang muncul sebagai calon presidennya ternyata bukan dari ras yang sama
dengan sebelumnya.
Mari keluar dari tempurung import yang selama ini menjajah pemikiran
kita.....
(silat lidah: jangan pernah sakit hati)

Wassalam,

Abimanyu



On 1/18/08, Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Kalau kata mahatma Gandhi:
>
>    1. "Capital as such is not evil; it is its wrong use that is evil.
>    Capital in some form or other will always be needed." Mahatma 
> Gandhi<http://en.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi>
>
> Saya sih tidak mengerti kenapa capital harus disederhanakan sekedar angka
> ekonomi atau lebih sederhana lagi sekedar uang? Ketika social capital
> dicetuskan, sebenarnya justru pingin mendobrak terminology capital yang
> terdahulu dan mengajuka ide, bahwa ada factor produksi di luar tenagakerja
> dan lahan (kalau ini bisa dengan sederhana "diuangkan"), yaitu nilai ikatan
> kemasyarakatannya itu sendiri yang bisa menjadi factor produksi, dalam arti
> membantu dia untuk lebih produktif. Begitu juga mungkin maksudnya pak Aby
> ketika mencetuskan kata "spatial capital", memanfaatkan ruang sebagai factor
> produksi, dalam arti untuk memproduksi sesuatu yang baik bagi semuanya yang
> ada dalam ruang itu …..
>
>
>
> Jadi saya juga tidak berpikiran soal angka atau money terms ketika bicara
> spatial capital,…..  bukankah kita sadar,uang itu bukan capital,.. jadi
> memang sepatutnya jangan disederhanakan ruang jadi uang,…. Ruang jadi
> sekedar uang ketika ada distorsi …..
>
> Sama seperti melly bilang, ruang adalah sesuatu yang bisa digunakan utk
> membuat kualitas hidup orang di dalamnya lebih baik. Saya pikir ini definisi
> yang miripbukan dengan definisi spatial capital….
>
> Saya malah khawatir kalau orang gak sadar kalau ruang adalah sebuah
> capital bersama (bukan sekedar dimiliki private secara semena-mena) , ruang
> malah akan dieksploitasi abusively tanpa sadar, .. instead of making use
> optimally, commonly and mutually…
>
> dan bukankah itu   peran penataan ruang??
>
>
>
>
>
> Best regards,
>
>
>
> *Benedictus Dwiagus S.*
>
> bdwiagus.blogspot.com  <http://bdwiagus.blogspot.com/>
>
>
>
> *Planning**: Much works remain to be done before we can announce our total
> failure to make any progress ,...*
>
>
>
>
>  ------------------------------
>
> *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On
> Behalf Of *Mellyana Frederika
> *Sent:* 18 January 2008 10:38
> *To:* [email protected]
> *Subject:* RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan Ahlinya'....
>
>
>
> Wah, itu betul-betul ruang menarik ya. Sama, kalau jam segitu susah ya
> diikuti, jam penuh di kantor.
>
>
>
> Tapi, gus, satu hal yang selalu membuat saya gak sreg.... kenapa sih ruang
> harus dilihat sebagai "capital"?
>
>
>
>  Saya ingat, pembicaraan tentang "kapital" ini sudah pernah berlangsung
> beberapa kali di milis ini, dan Pak Abimanyu pernah menulis "...social
> capital, spatial capital, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa
> virus ekonomi telah menjangkiti sebagian dari kita, artinya budaya, sumber
> daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah ditransformasikan ke
> angka...agar dianggap "sah" dengan ukuran ekonomi...
>
> Saya juga ingat, ada tanggapan-tanggapan dari Pak Salahuddin Wahid, Pak
> Hengky dan kemudian diakhiri dengan kekuatiran Pak Abimanyu yang
> ditulis,"saya cuman khawatir penggunaan istilah "modal" dan "sumber daya"
> hanya mengacu kepada konsep ekonomi sempit, yg menyederhanakan suatu
> "entitas" yang hakiki menjadi "alat" atau "input" dalam konteks "produksi".
> Saya berbagi kekuatiran yang sama dengan Pak Abimanyu dalam hal ini.
>
>
>
> Jadi, tanggapan saya barangkali agak basi. Saya hanya kembali berpikir
> (setelah melihat email dibawah), ruang harusnya tidak dilihat sebagai
> kapital, tetapi sebagai media untuk membuat kualitas hidup orang2 didalamnya
> lebih baik. Ketika ruang dilihat sebagai capital (yang bisa dan sering
> sekali di-terlalusederhana-kan menjadi uang), sulit membuat ruang itu bukan
> tempat untuk mencari atau menghasilkan keuntungan. Ketika ruang=uang, akan
> sulit buat pengguna ruang yang tidak mampu memanfaatkan ruang tersebut (dan
> menghasilkan uang) untuk bisa bertahan. Katakanlah, seperti kasus pedagang
> pasar Barito.
>
>
>
> Kalau untuk peningkatan pemahaman bahwa ruang memegang peranan penting,
> saya sepakat.
>
>
>
>
>
> melly
>
>
>
> Salahuddin Wahid
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>  ------------------------------
>
> *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On
> Behalf Of *Benedictus Dwiagus
> *Sent:* Friday, January 18, 2008 7:19 AM
> *To:* [email protected]
> *Cc:* [EMAIL PROTECTED]
> *Subject:* RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan Ahlinya'....
>
> YSH Pak ABy dan rekan milister semuanya,
>
>
>
> Saya sering mendengar radio Trijaya, dan beberapa kali saya mendengar
> iklan "diskusi penataan ruang" yang memakai narasumber dari Dirjen Penataan
> ruang, kadang Pak Imam Sudrajat, kadang pak dirjen sendiri. Masalahnya acara
> diskusi dimulai kalau tak salah sekitar jam 08.30 atau jam 09.00 pagi,
> jadi saya gak bisa mengikuti, karena sudah keburu ada di kantor, jadi tidak
> bisa mendengarkan di perjalanan….
>
>
>
> Saya malah berpikir mengembangkan ide pak Aby bukan untuk sekedar memenuhi
> ruang media public dengan wacana-wacana, tapi meningkatkan awareness orang
> akan pentingnya ruang sebagai capital, kalau perlu dengan cara  membenturkan
> berbagai pemahaman, sehingga terjadi perombakan paradigma atau reorientasi
> pemahaman terhadap issue/permasalahan yang terkait dengan pemanfaatan ruang
> ….
>
>
>
>
>
>
>
> Best regards,
>
>
>
> *Benedictus Dwiagus S.*
>
> bdwiagus.blogspot.com  <http://bdwiagus.blogspot.com/>
>
>
>
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date:
> 17/01/2008 16:59
>
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date:
> 17/01/2008 16:59
>
> 
>

Kirim email ke