Melly dan rekan-rekan Referenciers ysh,
   
  Melanjutkan obrolan yang ditrigger Melly soal fondasi dan bangunan ilmu. 
Sebagai orang yang menekuni suatu ilmu tentunya ingin logika ilmunya berlaku 
'konsisten', dan punya 'daya prediksi'. Seperti semua insinyur mengandalkan 
rumus gravitasi. Yang konsisten berlaku dimana-mana. Dan punya daya prediksi. 
Kalau durian dilempar dari ketinggian sekian akan jatuh dititik mana dengan 
kecepatan sekian. (Bukan apelnya Newton lho, karena penemu aslinya ternyata 
orang kita, tapi keburu wafat karena yang jatuh di kepalanya durian bukan 
apel). Tanpa formula seperti ini ya kita akan merasa ragu-ragu sendiri.
   
  Dalam perjalanan saya menekuni ilmu perencanaan wilayah dan kota (PWK) ini, 
formula-formula yang konsisten itu yang saya coba cari. Karena ilmu planologi 
ini multi-disiplin maka formula yang sangat eksak dan sangat konsisten mungkin 
tak ada. Maka setidaknya yang mendekatilah.
   
  Yang saya temukan adalah geografi lingkungan, geografi ekonomi sebagai hukum 
”fisika”nya; lalu strategic planning sebagai metoda atau enjinering nya. Yang 
lain-lain adalah untuk penghalusan atau derivat dari apa yang dihasilkan dari 
formula dan alat tersebut.
   
  Dengan geografi lingkungan saya dapat menganalisis untuk segera memperoleh 
kelayakan peruntukan, potensi dan suitability nya. Hasilnya bisa diplot dipeta 
segera. 
  Dan berikutnya adalah geografi ekonominya, yaitu kegiatan apa yang paling 
potensial dan telah berkembang di lokasi atau wilayah itu. Bisa segera diplot 
diatas peta suitability di atas. Teori lokasipun bisa dipakai. Selain itu 
berikutnya adalah bermain angka-angka proyeksi, perubahan struktur kegiatan 
ekonomi, dan semacam gap analysis terhadap standar kebutuhan lahan, prasarana, 
utilitas, dst, dst.
  Dan seluruh proses itu menggunakan pendekatan strategic planning yang juga 
berlaku universal. Tinggal pendekatan penyusunannya bisa konvensional, bisa 
partisipatif. Dan tiap level punya ketajaman dan kedetailan yang berbeda.
   
  Rasanya dengan dua 'basic sciences' dan satu metode tersebut kok cukup punya 
pegangan begitu. Ini adalah back-bone dari struktur berfikir kita. Selebihnya 
adalah dagingnya, warna, modifikasi2, penajaman2. Yang paling penting kita 
punya pegangan sehingga tidak bingung, eklektik, kesana-kemari.
   
  Setidaknya kalau kita mendatangi suatu kabupaten/kota, dengan pengamatan 
cepat atau kondisi geografis, kita segera punya gambaran potensi utamanya apa. 
Dengan verifikasi atas peruntukan     lahan, sebaran permukiman  dan kondisi 
jaringan prasarana dan utilitasnya, segera kita bisa melihat prospeknya kan. 
Tentu saja arahnya tidak selalu untuk pertumbuhan dan pengembangan ya. Untuk 
wilayah tertentu bisa saja fokus utamanya pelestarian lingkungan, atau mitigasi 
bencana.
   
  Selebihnya biasanya masalah administrasi atau development management seperti 
programming dan analisis pembiayaannya serta sumber-sumbernya. Bisalah ini 
dipelajari dengan learning by doing.
   
  Kalau kemampuan atau pola dasar itu betul-betul kita pegang biar tiap tahun 
berganti planning style, dari masterplan ganti RIK, ganti RUTR, lalu muncul 
PJM, PJP dst, itu cuma modifikasi saja. Juga berbagai pendekatan pembangunan, 
kalau kita percaya, bisa diikuti untuk menajamkan pendekatan.
   
  Saya cenderung memegang pola berpikir tersebut, dan memilih hati-hati dalam 
menerapkan pendekatan kontemporer yang terlalu spesifik yang dikembangkan 
kelompok tertentu. Karena sekali pegangan pola berpikir itu goyah maka akan 
jadi layang-layang putus lah kita.
  Kalau bisa belajar lagi saya pikir public policy itu penting, karena sebuah 
produk rencana haruslah bisa digiring jadi kebijakan Publio, melewati proses 
konsultasi publik, ada risiko konflik dst. Dan pelaksanaannya dikawal oleh 
perangkat dan alat hukum, oversight dari legislatif, masyarakat dan media.
   
  Saya banyak lihat teman-teman yang menyusun rencana berdasarkan panduan, 
peraturan semata, tanpa memegang 'basic sciences' dan dan 'basic method' nya , 
akibatnya ganti peraturan hilang pegangan dia. Lha kalau ganti menteri, ganti 
policy terus planner ganti ilmu, ya bukan ilmu namanya. Setidaknya, kalau harus 
kerja untuk berbagai bidang, basic method 'strategic planning' nya, termasuk 
derivat nya, yang perlu kita pegang.
   
  Sekali lagi, Planning itu ada basic sciences dan basic method nya sebagai 
back-bone, bukan ilmu eklektik yang cuma mengandalkan doktrin, retorika, atau 
peraturan.
   
  Dan akhirnya perlu juga disadari bahwa ilmu Planning aslinya adalah memang 
Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Posisinya ada di bawah kebijakan 
pembangunan dan rencana tingkat nasional. Alat-alat analisisnya valid untuk 
skala kota dan wilayah. Boleh saja seorang planner merencana skala nasional, 
sektoral, tapi harus ingat bahwa ilmu dari sekolahnya kan PWK. Jadi kalau 
bermain diluar PWK itu boleh dibilang tanggung jawab pribadilah, kalau 
melenceng jangan disalahkan ilmunya. Karena ilmu apapun kan ada batasnya. Bukan 
mau-mau sendiri. Seorang insinyur mesin ya jangan sok jadi ahli komputer. Boleh 
saja, tapi kalau ada misjudge itu salah orangnya, bukan salah ilmu teknik 
mesinnya.
   
  Hal terakhir ini sering menjadi jebakan (atau kutukan) bagi planner. Karena 
mempelajari aspek sosial-ekonomi-fisik, sok menangani segala aspek kehidupan. 
Atau sebaliknya banyak orang lain menuntut planner bisa jadi ahli masalah 
sosial, ekonomi, atau enjineering. Jadinya seperti sasaran kritik saja. Dalam 
hal ini kita harus tahu diri jika masuk ke "level of incompetence". Kalau harus 
masuk ya belajar lagi ilmu tambahan tersebut. Sekali lagi, kita perlu 
menegaskan bahwa PWK itu ada ilmu dasarnya, bukan kumpulan dari wacana yang 
kiri kanan oke. Karena kalau ngaco-ngaco nanti hilang kepercayaan orang. 
   
  Harus dibedakan antara praktek dukun dengan disiplin ilmu kedokteran. 
Meskipun kadang dukun bisa menyembuhkan, tapi apakah 'konsisten' dan bisa 
'diprediksi' ampuh untuk semua pasien? Makin bisa menyembuhkan segala penyakit, 
makin layak diragukan.
   
  Sdri Melly, semua hal di atas terkait dengan pancingan anda tentang fondasi 
dan bangunan 'ilmu'. Saya tidak tahu pengalaman anda saat kuliah, tapi saat 
saya kuliah dulu terus terang bngung sekali, karena tiap hari menerima ilmu 
yang merupakan kumpulan tulisan macam2, readings tanpa satupun textbook yang 
utuh, diskusi2, di sela-sela itu ada alat2 (hitung, gambar peta) yang 
sepertinya eksak tapi ternyata makan diskusi dan beda pendapat lagi. Sehingga 
penemuan fondasi dan 'back-bone' itu menurut saya sangat diperlukan. Tulisan 
diatas dan posting sebelumnya adalah upaya atau ijtihad saya, yang jadi 
pegangan saya selama berprofesi. Tentu anda atau teman planner lain bisa punya 
kesimpulan lain.
   
  Tapi soal tanggung jawab profesi, mungkin lain lagi. Seorang insinyur mesin 
bisa saja jadi ahli kebijakan industri, pioneer industri mobil nasional. Itu 
sudah di luar konteks diskusi soal ilmu tadi. 
   
  Memang dalam milist ini diskusi berkembang berdasar latar belakang orang, 
hobby dan tempat kerjanya. Tapi mesti dibedakan antara diskusi 'fondasi ilmu 
planning' seperti yang Melly angkat, dengan diskusi bebas antar teman tentang 
soal macam-macam.
   
  PWK itu sekolahnya cuma 4,5 tahun, seperti sekolah teknik mesin, ekonomi, 
kedokteran. Janganlah  dituntut macam-macam, dan jangan pula merasa bisa semua 
hal. Kalau anda ketemu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional boleh lah tanya 
dia segala macam, karena punya deputi dan staf bidang yang banyak. Tapi seorang 
sarjana Planologi? Masa kegagalan 100 tahun kebangkitan nasional, kok planner 
yang dimaki...please deh...Planner juga manusia, kata kawan kita.
   
  Kembali soal ilmu, kadang saya iri kepada tetangga kantor saya di gedung 
Bursa Efek Indinesia, yaitu para ahli yang kerja di sekuritas, investment 
banking, dan berbagai lembaga keuangan terkaitnya itu. Teman-teman yang banyak 
dari matematika dan fisika ITB itu, kerja cuma dengan satu rumus saja, yaitu: 
F=P(1+r)t  , rumus ini saja dibolak balik pakai kalkulator seri HP-Business 
nya, sambil memantau pola-pola grafik turun-naik, kalau mirip clurit jual, 
kalau mirip tongkat golf  beli. ....Bayangkan cuma satu rumus?!, yang para 
planner juga biasa pakai untuk memproyeksi penduduk. Kalau mereka kenal 
rumitnya pikiran kita barangkali akan bilang...gitu saja kok repot. Dan lebih 
iri lagi karena tiap Tahun Baru yang buka kantor selalu Presiden sendiri, tidak 
diwakilkan.[rm]
   
  
  Salam,
  Risfan Munir
  Blog ecoplano

Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Melly dan rekan Referenciers ysh,
   
  Terkait dengan ajakan Sdri. Melly untuk juga mengembangkan praxis perencanaan 
wilayah dan kota, referensi di bawah ini mungkin menarik.
  
  Baru-baru ini saya baca buku yang ditulis oleh planolog tamatan ITB, Ria 
Fitriana. "1000 Hari di Bali Barat, sebuah Catatan Proses Belajar Bersama 
Masyarakat". WWF Indonesia. Nov 2007.
  


      Recent Activity
    
      3
  New Members

Visit Your Group 
      Ads on Yahoo!
  Learn more now.
  Reach customers
  searching for you.

    Get in Shape
  on Yahoo! Groups
  Find a buddy
  and lose weight.

    Self Improvement
  on Yahoo! Groups
  Connect with people
  and get support.



  .

 
                         

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke