Rekan Referenciers,
   
  Diskusi ini bisa dibawa ke level filsafat, bisa juga ke level praktis. apa 
lagi kalau mau dibumbui 'asli Indonesia'.
   
  Tetapi planner bukanlah disiplin yang sangat filosofis. Bukan basic science, 
tapi teori atau konsep terapan, yang praktis-praktis saja. Wong yang praktis 
saja masih belum difahami masayarakat, khususnya pengambil keputusan.
   
  Pengalaman pribadi saya menggunakan pendekatan kualitatif, empiric (ala 
anthropologi), memang ampuh untuk memahami masalah spesifik komunitas. Memang 
mengasyikkan sebagai kajian, tetapi kalau sudah harus membawanya ke policy, 
susahnya minta ampun untuk meyakinkan orang, terutama kalangan kualitatif 
sendiri pendapatnya unik-unik. Jadi bukan hanya spesific komunitas saja, tapi 
juga spesific ahlinya.
   
  Sementara itu, mainstream, bukan hanya teori eks import (eh ...anthrop dan 
ekologi juga import ya), di kalangan pengambil keputusan bahasanya memang 
'ekonomi'. Biaya, hasil, manfaat, opportunity cost, GRDP, Green GRDP (?). Suka 
tidak suka common language ini memang yang menjadi "lingua franca" pengambil 
keputusan, kebijakan, program/ kegiatan apalagi anggaran. Kecuali kalau bisa 
mengumpulkan dukungan massa, pressure media sehingga ada argumen alternatif 
untuk meyakinkan para pengambil keputusan. Sehingga pengambil keputusan akan 
memperhitungkan 'BIAYA sosial' nya kalau tidak mendengar aspirasi massa.
   
  Namun demikian ini 'masalah bahasa' kebijakan dan program, soal nilai, norma, 
tujuan akan tetap menuju kepada 'kemanusiaan', 'keindonesiaan' dst. 
   
  Sekali lagi, pada level mana kita diskusi, di level filsafat, theory 
(kualitatif vs kuantitatif), atau di level praktis pekerjaan perencanaan 
pembangunan wilayah dan kota yang harus meyakinkan pengambil keputusan tentang 
kebijakan, program dan anggaran.
   
  Salam,
  Risfan Munir
  Ecoplano
   
   
   
  
abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Ysh Pak BTS dan rekan lain,
  Betul....menurut Stuart Chapin tapi tahun 1957 (yang mungkin masih bersamaan 
dengan perkembangan pemikiran Regional Planning-nya Isard, dll)., Namun 
bersamaan dengan itu kita melahirkan Deklarasi Djuanda (1957) yang mengkalim 
Indonesia sebagai negara kepulauan dan baru diterima dalam UNCLOS 1992, walau 
kita sendiri belum sadar kepada "lebih maju"nya gagasan pendahulu kita. Juga 
sebelum konsep sustainable development (WCED), quality of life (ICPQL), maupun  
UUPR 26/2007 yang merevisi UUPR versi 1992 dan UUPWP3K 27 2007. Pembaharu 
terhadap pemikiran 50 tahun yll tsb tidak akan lahir kalau kita selalu 
berpedoman kepada pemikiran import barang lawas tersebut. 
  Mohon maaf, sengaja menyulut api...agar lebih dalam dan up-to-datediskusinya. 
saya juga selalu masih belajar dan mencari .....
 
  Wassalam,
   
  Abimanyu
  
 
  On 1/18/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:               
Kalau menurut Stuart Chapin, dalam bukunya yang lawas "Land Use Planning", 
University of Illionis, Urbana, 1957 mengatakan bahwa ruang itu mempunyai 3 
nilai yaitu : (1) Nilai Ekonomi; (2) Nilai Ekologis; dan (3) Nilai Kepentingan 
Umum. Jadi ruang kalau dinilai sebagai uang ya tidak salah, dianggap sebagai 
kapital itu ya  betul; dan ruang untuk meningkatkan kualitas hidup itu juga 
benar. Yang penting, menurut saya, ruang itu jangan dianggap sebagai nilai 
ekonomi saja - nanti sebuah kota isinya ruko melulu, juga jangan untuk 
kepentingan ekonologis semua - nanti ruang tidak bisa dimanfaatkan bagi 
kesejahteraan, dan juga jangan untuk kepentingan umum semua - sehingga ruang 
menjadi tidak produktif. Seorang Planner adalah merancang ruang itu mana yang 
bernilai ekonomi, mana untuk kepentingan ekologis, dan mana untuk kepentingan 
masyarakat banyak. Rancangan persentase luas dan hubungan fungsional antara
 nilai-nilai itu yang menjadi tugas pokok Planner. 
   
  Thanks. CU. BTS.
   
    ----- Original Message ----- 
  From: Benedictus Dwiagus 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, January 18, 2008 1:40 PM
  Subject: back to spatial capital RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 
'Ditangan Ahlinya'....
  
 
        Kalau kata mahatma Gandhi:
    
   "Capital as such is not evil; it is its wrong use that is evil. Capital in 
some form or other will always be needed." Mahatma Gandhi 
  Saya sih tidak mengerti kenapa capital harus disederhanakan sekedar angka 
ekonomi atau lebih sederhana lagi sekedar uang? Ketika social capital 
dicetuskan, sebenarnya justru pingin mendobrak terminology capital yang 
terdahulu dan mengajuka ide, bahwa ada factor produksi di luar tenagakerja dan 
lahan (kalau ini bisa dengan sederhana "diuangkan"), yaitu nilai ikatan 
kemasyarakatannya itu sendiri yang bisa menjadi factor produksi, dalam arti 
membantu dia untuk lebih produktif. Begitu juga mungkin maksudnya pak Aby 
ketika mencetuskan kata "spatial capital", memanfaatkan ruang sebagai factor 
produksi, dalam arti untuk memproduksi sesuatu yang baik bagi semuanya yang ada 
dalam ruang itu ….. 
  
  Jadi saya juga tidak berpikiran soal angka atau money terms ketika bicara 
spatial capital,…..  bukankah kita sadar,uang itu bukan capital,.. jadi memang 
sepatutnya jangan disederhanakan ruang jadi uang,…. Ruang jadi sekedar uang 
ketika ada distorsi …..   
  Sama seperti melly bilang, ruang adalah sesuatu yang bisa digunakan utk 
membuat kualitas hidup orang di dalamnya lebih baik. Saya pikir ini definisi 
yang miripbukan dengan definisi spatial capital….  
  Saya malah khawatir kalau orang gak sadar kalau ruang adalah sebuah capital 
bersama (bukan sekedar dimiliki private secara semena-mena) , ruang malah akan 
dieksploitasi abusively tanpa sadar, .. instead of making use optimally, 
commonly and mutually… 
  dan bukankah itu   peran penataan ruang??
  
  
        Best regards,
  
  Benedictus Dwiagus S. 
  bdwiagus.blogspot.com  
  
  Planning : Much works remain to be done before we can announce our total 
failure to make any progress ,...
  
  



   

  
  

  .
 
  
  






  

                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke