Pak Risfan, Mbak Melly dan rekan referenciers ysh, Saya setuju sekali untuk mengembangkan pendekatan tersebut, karena disitu kita tidak mulai dengan generalisasi tetapi pengenalan yang lebih mendalam atas konteks lokal. Namun demikian pada tahap ini "pengalaman Ria" tersebut jangan terburu-buru digeneralisasi metodanya, namun learning-proses nya. Pendekatan-pendekatan sejenis di berbagai kawasan di tanah air ini, baik yang masuk kategori inovasi baru, pengembangan action planning, "kearifan lokal", dll, memang perlu diinventarisasi keunggulan dan permasalahannya. Ditambah pelajaran bersama yang semakin terkomunikasi dalam dakade terakhir: realita "place" (lingkungan hidup/habitat) kita yang selain beragam unsurnya juga jenis resiko bencananya, perlu menjadi masukan, pelajaran, bahkan tantangan untuk lebih mengenal dan mampu mengantisipasinya. Dari pengalaman melaksanakan training Coastal Commnity Resilience di beberapa daerah pesisir dan mantan korban bencana, ternyata dalam satu pulau dan/atau etnik yang sama, permasalahan lokalnya dapat sangat berbeda.
Wasalam, Abimanyu 2008/1/19 Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>: > Melly dan rekan Referenciers ysh, > > Terkait dengan ajakan Sdri. Melly untuk juga mengembangkan praxis > perencanaan wilayah dan kota, referensi di bawah ini mungkin menarik. > > Baru-baru ini saya baca buku yang ditulis oleh planolog tamatan ITB, Ria > Fitriana. "*1000 Hari di Bali Barat, sebuah Catatan Proses Belajar Bersama > Masyarakat"*. WWF Indonesia. Nov 2007. > > Buku ini mengisahkan pengalaman Ria dalam pendampingan untuk pengelolaan > sumber daya alam pesisir, pengembangan ekonomi rakyat, dan pengorganisasian > masyarakat di kawasan Bali Barat. Walau tujuan utamanya adalah terkait upaya > peletarian Taman Nasional Bali Barat, tapi aspek yang digarap, dan solusi > yang dirumuskan komunitas terkait pengembangan ekonomi rakyat dan aspek > penguatan kerja sama antar anggota komunitas, dan lintas kelompok dengan > pembentukan Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir (FKMPP). Membaca buku > ini seolah menyegarkan ingatan pada doktrin Geddes "*Folk-Place-Work*". > > Buku yang merupakan catatan dan refleksi pengalaman ini dimulai dengan > upaya memahami apa yang terjadi, sebagai pendahuluan untuk mengantarkan > pembaca pada situasi yang memprihatinkan bagi lingkungan dan kelangsungan > hidup, antara lain akibat penggunaan 'potas' untuk menangkap ikan. Dampaknya > mengancam kelestarian ikan dan terumbu karang, dan nantinya kehidupan > komunitas nelayan sendiri. Jelasnya ada konflik kepentingan ekonomi dan > pelestarian lingkungan. > > Pembahasan selanjutnya mengikuti alur berturut-turut: Memahami Kawasan > Bali Barat, Merumuskan Strategi Bersama, mewujudkan tindakan, mengerahkan > dan mengembangkan kemampuan, isu keberlanjutan, serta memantau proses dan > mengkaji manfaat. > > Dibaca sepintas lalu seperti sistematika dokumen penyusunan strategic/ > action plan, namun seperti pada judulnya, ini merupakan rekaman proses > belajar bersama masyarakat. Ini mengingatkan pada apa yang disebut John > Friedman sebagai *'planning as a learning process'*. > > Pemahaman dan pengumpulan informasi diperoleh melalui kunjungan dan > serangkaian diskusi informal bersama masyarakat, bersama kelompok pengaruh > dan tentu dengan pengumpulan data sekunder pendukung. > > Proses pemetaan masalah dan rencana pengentasan, potensi dan harapan, dan > penentuan kelompok sasaran juga dilakukan bersama masyarakat, yang diarahkan > untuk mendorong tindakan nyata. Yang terakhir ini bedanya dengan planning > umumnya yang berakhir dengan penganggaran pemerintah. > > Dalam implementasi *action plan* itu dilakukan pengerahan dan pengembangan > kemampuan masyarakat, sehingga mereka lebih berdaya secara ekonomi, sosial, > dan kesadaran akan pelestarian lingkungan. > > Yang menarik dari buku ini, karena bahasanya menggunakan bahasa cerita > realita dan proses yang terjadi di tingkat komunitas. Penulis juga > menggunakan kata saya, sehingga kesannya bercerita. Maka menjadi bahasa yang > hidup, bebas dari sekat bahasa teknis ekonomi, sosial, tata ruang. > Folk-Place-Work digarap sebagai satu kesatuan utuh, tidak dipisah-pisah. > Tidak juga anti ekonomi, anti sosial, atau anti fisik. > > Apakah buku ini mewakili genre baru dari planning sebagaimana diantisipasi > oleh Friedman sebagai '*planning as a learning process*' itu? Entahlah. > Tapi seperti ajakan sdri Melly untuk mengembangkan praxis Planning, maka > buku sejenis ini adalah tepat sebagai acuan.@@@ > > Salam, > *Risfan Munir* > Blog *Ecoplano <http://ecoplano.blogspot.com>* > > *Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Melly, terima kasih atas tanggapannya. Juga para referensier ysh, > Saya setuju dengan ajakan mengembangkan praksis yang Melly ajukan. Saya > kira harusnya memang begitu. Ada konsep, diterapkan, lakukan refleksi, ada > pengembangan/ modifikasi/ pendalaman konsep, dst berputar lagi. Saya hanya > mengingatkan, dalam diskusi atau praktek mesti disadari kita sedang main di > level mana. Kalau lagi praktis, ya praktis. Kalau lagi kontemplasi, mereview > yang praktis, ngecharge ke basis theory, bahkan lebih dalam (atau lebih > tinggi) ke basis filsafat, ya kesana. > . > > > ------------------------------ > Never miss a thing. Make Yahoo your > homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs> > >

