Wah, Pak. 
Menurut saya, jangan dipisahkan dong.
Saya justru berharap keduanya bisa ada. Maklum, ilmu saya "cetek" banget
dibandingkan bapak dan ibu disini. Tapi kok ya menurut saya, filsafat jangan
dipisah dengan teori. Walaupaun planner adalah disiplin praktis, kan
harusnya tetap praksis tokh? Saya membayangkan, sebuah bangunan tengah
dibangun. Fondasi, tetap yang utama dan harus kuat. Bisa sih dibilang
praktis saja, asal ada bangunannya, dan menarik dan seterusnya. Tapi tentu
tidak kuat. Saya pikir, prinsipnya dulu yang dipahami, pasti praktiknya jauh
lebih mudah dan jelas. (terbayang mengajarkan orang mempergunakan komputer,
untuk yang tahu prinsip-prinsipnya, gak akan sulit deh).
 
Selama kuliah dulu, saya sering pikir aduh ini sih terlalu filosofis,
walhasil sering jadi ilmunya cuman tau di ujung-ujung saja. Begitu ada trend
ini itu baru dengan segala kepraktisannya, sering kebawa kiri kanan tidak
jelas. Saya sih malah berharap bahwa diskusinya bisa ya... dia dua-duanya. 
 
Seperti soal spatial capital, kelihatan bahwa argumen umum mengatakan jangan
dilihat hanya capital-nya. Iya, itu benar. Nah, sekarang dengan normatif
seperti itu, pratiknya yang sulit ya, Pak?
 
Soal istilah, saya memang susah untuk bisa menerima istilah baru atau lama
kalau saya belum benar benar mengerti dan yakin, walaupun ada berbagai
artikel tentang social capital. Saya berharap ada diskusi yang bahkan
mungkin berseberangan, biar menarik :) Toh, hampir tiap teori selalu ada pro
dan kontra, teori baru yang menguatkan dan mematahkan, dan itu kan bagian
dari dialektikanya.
 
 
salam
melly,
yang memang masih belajar, lebih sering jadi "silent reader", jadi tidak
bisa terlalu banyak mengutip teori-teori tertentu tapi sangat berterimakasih
untuk bapak ibu yang berbaik hati berbagi ilmu dan teori-teori yang
dimiliki, lumayan jadi "trigger" untuk cari-cari lebih banyak lagi
 
 
 
 


  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Risfan M
Sent: Friday, January 18, 2008 4:46 PM
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: back to spatial capital ..


Rekan Referenciers,
 
Diskusi ini bisa dibawa ke level filsafat, bisa juga ke level praktis. apa
lagi kalau mau dibumbui 'asli Indonesia'.
 
Tetapi planner bukanlah disiplin yang sangat filosofis. Bukan basic science,
tapi teori atau konsep terapan, yang praktis-praktis saja. Wong yang praktis
saja masih belum difahami masayarakat, khususnya pengambil keputusan.
 
Pengalaman pribadi saya menggunakan pendekatan kualitatif, empiric (ala
anthropologi), memang ampuh untuk memahami masalah spesifik komunitas.
Memang mengasyikkan sebagai kajian, tetapi kalau sudah harus membawanya ke
policy, susahnya minta ampun untuk meyakinkan orang, terutama kalangan
kualitatif sendiri pendapatnya unik-unik. Jadi bukan hanya spesific
komunitas saja, tapi juga spesific ahlinya.
 
Sementara itu, mainstream, bukan hanya teori eks import (eh ...anthrop dan
ekologi juga import ya), di kalangan pengambil keputusan bahasanya memang
'ekonomi'. Biaya, hasil, manfaat, opportunity cost, GRDP, Green GRDP (?).
Suka tidak suka common language ini memang yang menjadi "lingua franca"
pengambil keputusan, kebijakan, program/ kegiatan apalagi anggaran. Kecuali
kalau bisa mengumpulkan dukungan massa, pressure media sehingga ada argumen
alternatif untuk meyakinkan para pengambil keputusan. Sehingga pengambil
keputusan akan memperhitungkan 'BIAYA sosial' nya kalau tidak mendengar
aspirasi massa.
 
Namun demikian ini 'masalah bahasa' kebijakan dan program, soal nilai,
norma, tujuan akan tetap menuju kepada 'kemanusiaan', 'keindonesiaan' dst. 
 
Sekali lagi, pada level mana kita diskusi, di level filsafat, theory
(kualitatif vs kuantitatif), atau di level praktis pekerjaan perencanaan
pembangunan wilayah dan kota yang harus meyakinkan pengambil keputusan
tentang kebijakan, program dan anggaran.
 
Salam,
Risfan Munir
Ecoplano <http://ecoplano.blogspot.com> 
 
 
 

abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ysh Pak BTS dan rekan lain,
Betul....menurut Stuart Chapin tapi tahun 1957 (yang mungkin masih bersamaan
dengan perkembangan pemikiran Regional Planning-nya Isard, dll)., Namun
bersamaan dengan itu kita melahirkan Deklarasi Djuanda (1957) yang mengkalim
Indonesia sebagai negara kepulauan dan baru diterima dalam UNCLOS 1992,
walau kita sendiri belum sadar kepada "lebih maju"nya gagasan pendahulu
kita. Juga sebelum konsep sustainable development (WCED), quality of life
(ICPQL), maupun  UUPR 26/2007 yang merevisi UUPR versi 1992 dan UUPWP3K 27
2007. Pembaharu terhadap pemikiran 50 tahun yll tsb tidak akan lahir kalau
kita selalu berpedoman kepada pemikiran import barang lawas tersebut. 
Mohon maaf, sengaja menyulut api...agar lebih dalam dan
up-to-datediskusinya. saya juga selalu masih belajar dan mencari .....
 
Wassalam,
 
Abimanyu

 
On 1/18/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> id> wrote: 

Kalau menurut Stuart Chapin, dalam bukunya yang lawas "Land Use Planning",
University of Illionis, Urbana, 1957 mengatakan bahwa ruang itu mempunyai 3
nilai yaitu : (1) Nilai Ekonomi; (2) Nilai Ekologis; dan (3) Nilai
Kepentingan Umum. Jadi ruang kalau dinilai sebagai uang ya tidak salah,
dianggap sebagai kapital itu ya  betul; dan ruang untuk meningkatkan
kualitas hidup itu juga benar. Yang penting, menurut saya, ruang itu jangan
dianggap sebagai nilai ekonomi saja - nanti sebuah kota isinya ruko melulu,
juga jangan untuk kepentingan ekonologis semua - nanti ruang tidak bisa
dimanfaatkan bagi kesejahteraan, dan juga jangan untuk kepentingan umum
semua - sehingga ruang menjadi tidak produktif. Seorang Planner adalah
merancang ruang itu mana yang bernilai ekonomi, mana untuk kepentingan
ekologis, dan mana untuk kepentingan masyarakat banyak. Rancangan persentase
luas dan hubungan fungsional antara nilai-nilai itu yang menjadi tugas pokok
Planner. 
 
Thanks. CU. BTS.
 


----- Original Message ----- 
From: Benedictus Dwiagus <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  
To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[email protected]> ps.com 
Sent: Friday, January 18, 2008 1:40 PM
Subject: back to spatial capital RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari
'Ditangan Ahlinya'....

 
Kalau kata mahatma Gandhi:

1.      "Capital as such is not evil; it is its wrong use that is evil.
Capital in some form or other will always be needed." Mahatma Gandhi
<http://en.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi>  

Saya sih tidak mengerti kenapa capital harus disederhanakan sekedar angka
ekonomi atau lebih sederhana lagi sekedar uang? Ketika social capital
dicetuskan, sebenarnya justru pingin mendobrak terminology capital yang
terdahulu dan mengajuka ide, bahwa ada factor produksi di luar tenagakerja
dan lahan (kalau ini bisa dengan sederhana "diuangkan"), yaitu nilai ikatan
kemasyarakatannya itu sendiri yang bisa menjadi factor produksi, dalam arti
membantu dia untuk lebih produktif. Begitu juga mungkin maksudnya pak Aby
ketika mencetuskan kata "spatial capital", memanfaatkan ruang sebagai factor
produksi, dalam arti untuk memproduksi sesuatu yang baik bagi semuanya yang
ada dalam ruang itu ... 

Jadi saya juga tidak berpikiran soal angka atau money terms ketika bicara
spatial capital,...  bukankah kita sadar,uang itu bukan capital,.. jadi
memang sepatutnya jangan disederhanakan ruang jadi uang,.. Ruang jadi
sekedar uang ketika ada distorsi ...   
Sama seperti melly bilang, ruang adalah sesuatu yang bisa digunakan utk
membuat kualitas hidup orang di dalamnya lebih baik. Saya pikir ini definisi
yang miripbukan dengan definisi spatial capital..  
Saya malah khawatir kalau orang gak sadar kalau ruang adalah sebuah capital
bersama (bukan sekedar dimiliki private secara semena-mena) , ruang malah
akan dieksploitasi abusively tanpa sadar, .. instead of making use
optimally, commonly and mutually. 
dan bukankah itu   peran penataan ruang??


Best regards,

Benedictus Dwiagus S. 
bdwiagus.blogspot. <http://bdwiagus.blogspot.com/> com  

Planning : Much works remain to be done before we can announce our total
failure to make any progress ,...


 
.
 








  _____  

Looking for last minute shopping deals? Find
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/c
ategory.php?category=shopping> them fast with Yahoo! Search.  

Kirim email ke