Pak BTS dan rekan-rekan ysh, Saya salut kepada milis referensi tercinta karena wacana pemindahan ibukota dan pusat-pusat strategis lainnya dari Jakarta ke daerah lain tampaknya semakin konvergen. Saya tidak tahu apakah plan ini akan meningkat ke level politis atau tidak, namun saya cukup bahagia dan terhibur dengan diskusi rekan-rekan terakhir ini yang pro-keadilan pembangunan untuk daerah-daerah selain Jabodetabek, so many thanks for that.
Btw, Pak BTS, apabila BI mau dipindahkan ke Jayapura atau Tomohon, hendaknya juga diperhatikan aspirasi sebagian rekan di DPR yang tentu menginginkan lokasi transfer tunai yang berdekatan dan jauh dari terawangan KPK dan Ditjen Pajak. Begitu dulu dan selamat berdiskusi lagi. :) Salam, Andri "Medan pergi, Belawan datang", meaning, "nggak nyambung bok" On 3/6/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Dear referensier semuanya. > > Hampir semua sepakat > kalau Jakarta tidak sekedar kota besar, tetapi juga kota yang dominan. > Juga hampir semua kita berpandangan bahwa dominasi Jakarta perlu dikurangi > agar kota-kota lain juga berkembang pesat seperti Jakarta. Konsep dan > upaya telah dipikirkan dan dilakukan. Konsep Counter Magnet ala > Jabodetabek juga dipraktekkan. Hasilnya tidak efektif karena perkembangan > Jakarta tidak terganggu oleh kota-kota satelitnya (Bodetabek). Buktinya > sejak Counter Magnet itu dipraktekkan, Jakarta tetap berkembang pesat > hingga meluber (spill over). Fenomena meluber dan melubernya tidak ke > kota-kota satelitnya, tetapi ke periferi-nya yaitu Kabupaten Tangerang, > Bekasi, dan Bogor, ...bukan pada kota-kotanya, ini membuktikan kalau > "medan magnet" Jakarta jawara bertahan klas berat dibanding > dengan penantang-penantangnya klas kapas. > > JAKARTA KOQ DILAWAN? > Itulah subjek yang ingin saya wacanakan. Sebuah tantangan, dengan cara > (baca konsep) apa Jakarta mau dilawan? Kalau Pak Aby menawarkan relokasi > industri-industri footloose ke Makassar, kalau Bung Deden menawarkan agar > mempelajari kota-kota di US melawan New York, dan Bung Eka, Bung Anin, dan > lainnya usul untuk memindahkan fungsi ibu kotanya ke kota lain.... atau > KPPOD (Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah) menawarkan dengan > konsep daya saing, .. ya silakan aja tidak ada yang menghalangi... apakah > investor-investor industri footloose mau pindah ke Makassar? Pasti si > investor akan berhitung apa untungnya pindah ke Makassar? Kalau untung, > nggak disuruh juga akan pindah sendiri. Terus kalau belajar kota-kota di > US itu apakah benar mereka sudah mengalahkan New York? .......Bukankah New > York masih bergeming (tak beringsut) saja? Kalau fungsi pemerintahannya > dicabut (dipindah) apakah lantas diikuti fungsi ekonomi? .....Ini jelas > tak terbukti. Dan kalau masing-masing kota sudah berdayasaing tinggi, > seperti yang sudah diperingkatkan oleh KPPOD, sudahkan mampu menarik > investor? ......Ternyata tak juga terbukti. > > JAKARTA KOQ > DILAWAN? Mengapa Jakarta demikian kuatnya? Padahal sudah dihantam banjir, > sudah dibebani masalah lalu lintas, sudah dirusuhi oleh pengemis, rumah > liar, dan kriminal, mengapa Jakarta koq tetap primadona? Apakah betul > karena pengaruh orang-orang di Senayan? Apakah betul karena fungsi > ibukotanya? Apakah betul karena lokasinya? ... Bukanlah banyak > lokasi-lokasi lain yang juga strategis? Apakah karena punya pelabuhan > samudra? ... Bukankah Surabaya, Semarang, Medan, Bitung, dan Batam juga > punya pelabuhan samudra? Atau mungkin karena history?..... Kalau history, > mestinya Palembang dengan kerajaan Sriwijaya yang lebih dikenal di dunia > internasional jaman dulu, atau di Surabaya dengan Mojopahit yang mampu > mengalahkan wilayah-wilayah separo nusantara ini hingga ke Mandagaskar? > > > JAKARTA KOQ DILAWAN? Siapa (kota mana) yang mampu mengalahkan > Jakarta? Tidak siapa-siapa,... yang mampu mengalahkan Jakarta ya Jakarta > sendiri. Biarlah Jakarta berkembang semampunya, biarlah membesar...sampai > threshold-nya di mana? Ya,..lama-lama Jakarta akan beringsut secara > perlahan oleh kemampuannya sendiri. Kalau dulu Jakarta kota terpadat, > sekarang kepadatan itu sudah menurun. Kalau Jakarta dulu pusat industri, > sekarang tidak lagi. Dulu Jakarta kota pendidikan, sekarang sudah tidak > lagi (jumlah murid SD-SMP berkurang drastis). Dulu Jakarta sentral > pemerintahan, sekarang tidak lagi karena sudah otonomi daerah. Tapi fungsi > bisnis dan pusat keuangan adalah "titik apinya" yang tak bisa > dilawan, tepatnya gedung tinggi di Jl. Thamrin itulah intinya, yaitu Bank > Indonesia (Bang Sentral). Bukan fungsi industrinya, bukan fungsi > pemerintahannya, bukan pelabuhannya, apalagi orang-orang Senayan. Karena > BI inilah maka kantor-kantor headquarter ada di Jakarta karena bank-bank > koresponden seperti Citibank, HSBC-Bank, Dutch Bank, Bangkok Bank, Tokyo > Bank tak mau jauh dengan BI. Menteri Keuangan yang meng-girokan uang > negara juga ada di BI, bank-bank umum seperti BCA, Bank Niaga, BNI, Bank > Mandiri, BRI, dsb tak mau juga jauh kantor pusatnya dengan BI. Bukan hanya > itu, BPD-BPD yang seharusnya bercokol di daerah tak mau ketinggalan buka > cabang di Jakarta. Akhirnya gerombolan bisnis juga tak mau jauh dengan > kantor pusat bank-bank yang ada karena sistem keuangan virtual sentral > servernya juga di Jakarta dan bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu dan hanya > bisa ditransaksikan di Jakarta. > > JAKARTA KOQ DILAWAN? ...... > nah kalau mau melawan Jakarta ya pindahkan saja BI. Maukah BI pindah? > Tentu never...never...never..terlalu tinggi COST-nya. Apakah Jakarta mau > dominan, Jakarta mau mengalah dengan kota lain, atau mau mengecil, atau > agar kota lain bisa menjadi metropolitan,...BI tak ada urusannya dengan > kemauan umumnya planner atau yang mlaner . > > Hayo...dilawan > donk! > > Thanks. CU. BTS. > > > > > >

