halo bung Deden, terimakasih tanggapannya, saya baru membaca kilat 2 buku 
Florida, jadi penasaran gara2 bung Deden hehe... yg pertama Cities and the 
Creative Class, dan yg kedua the Flight of the Creative Class... sayang yg the 
Rise lagi gak ada diperpus, nunggu dibalikin sama yg minjem...
   
  komentar singkat saya, buku Cities and CC kelihatannya adalah jawaban Florida 
thd kritik yg meragukan teknik analisis yg dia gunakan...cukup meyakinkan 
walaupun ada yg tidak bisa dia jawab yakni kritik bahwa data yg dia gunakan utk 
buku the Raise adalah data 1990s di mana dotcom memang merajalela... adapun 
kota2 yg dia unggulkan seperti San Francisco dll sejak 2000s, terkait dengan 
menurunnya dotcom, malah kalah dg kota2 lain yg tidak diunggulkan Florida 
(performance ekonominya)...
   
  yg saya lihat adalah ide yg cukup menarik (walaupun tidak sama sekali baru) 
dan keberanian Florida dlm menarik kesimpulan... mungkin juga terlalu cepat 
kalau kita mengkritik bahwa migrasi utamanya didrive oleh jobs (people move to 
jobs), tetapi menyimpulkan bahwa jobs move to people seperti kata Florida juga 
terlalu men-generalisir fenomena, karena saya tetap berpendapat bahwa kondisi 
khusus yg ditawarkan Florida hanya berlaku di sektor khusus yg flexible dr segi 
ruang (seperti dotcom) atau negara/lokasi khusus (US yg job opportunities nya 
besar... di negara2 yg job opportunities nya lebih kecil seperti di Eropa 
(apalagi negara berkembang), rasanya lebih banyak people move to jobs...
   
  tetapi, bagaimanapun ide ini cukup menarik, terlepas dari banyak yg meragukan 
kesahihan teori dari segi data (1990s), banyak policy makers bisa mengambil 
resiko... kalau skala yg digunakan antar negara/ internasional, kita bisa lihat 
Spore dan NZ yg attract banyak pekerja creative class...sebetulnya Malaysia 
juga, tapi gara2 RELA jadi banyak yg takut ke sana hehe...
   
  komentar soal komentar bung Deden yg dulu ttg Indonesia/Jakarta sebagai sub 
Spore di region, saya kira kita sejak dulu memang sudah jadi periphery nya 
Spore, ini kan pertentangan sejak masa koloni antara Inggris yg mengarahkan 
perdagangan region berpusat di Spore dan Belanda yg mengarahkan ke Batavia...
   
  salam..
  

Deden Rukmana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Mas Eko dan referensiers, ysh:

Diskusi ttg Creative Class memang menarik utk disimak. Saya tidak akan 
mengambil posisi dalam diskusi ini. Hanya saja pengetahuan ttg Creative Class 
ini adalah menjadi salah satu materi wajib bagi yg mendalami economic 
development. Planning scholars sendiri telah membuat diskusi panel khusus utk 
membahas Creative Class ini dalam ACSP  Conference in 2004 dan kemudian secara 
istimewa juga diskusi tsb dimuat di JAPA edisi 71(2) tahun 2005.
  Saya pun mengambil pelajaran dari diskusi tersebut, begitu pula dg response 
yg disampaikan oleh Richard Florida yg dimuat oleh JAPA tsb. Bagi yg ingin 
membacanya silakan via japri saja, karena attachment melalui milis tidak 
diijinkan karena adanya perlindungan hak cipta. 
  Mengenai aplikasinya di Indonesia, sepertinya akan sangat menarik. Spt 
disampaikan Mas Eko, Bandung dan Jogja mungkin memiliki index yg tinggi 
ketimbang kota2 lainnya di Indonesia -tentunya setelah exclude Jakarta. 
  Di Savannah sendiri, Richard Florida sempat datang beberapa bulan yl. atas 
undangan KADINnya Savannah. Yg membuat paparan dia menarik adalah resep utk 
pengembangan ekonomi lokal agar Savannah bisa bersaing secara regional or even 
national yg tentunya menjadi input bermanfaat bagi KADIN Savannah. 
  Sementara sekian dulu dan terima kasih.
  Salam dari Savannah,
Deden.
  
--- In [email protected], eko budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Deden dan rekan2 ysh,
> 
> Saya memang mendengar gegap gempita yg terjadi di sisi lain dari Atlantik 
> akan konsep Creative Class nya Florida... tapi saya baru tertarik untuk 
> mencari tahu setelah Bung Deden menyebutnya... walaupun saya belum baca 
> bukunya, baru baca2 di webnya Florida yg link nya bung Deden berikan, ada 
> beberapa keraguan saya thd konsep keterkaitan pembangunan ekonomi kota dengan 
> creative class nya Florida, sbb:
> 
> 1. Kita tentu tidak meragukan bahwa dlm sistem kapitalisme yg dianut sebagian 
> besar negara di dunia ini bertumpu pada sektor swasta... jadi yg bersaing itu 
> sebetulnya "perusahaan", bukan ruang, dlm berbagai bentuk manifestasi maupun 
> skala nya, baik negara, region, maupun kota... Ruang hanyalah mampu bersaing 
> untuk menarik perusahaan2 tsb melakukan aktivitas ekonomi di wilayahnya, agar 
> mampu membawa kebaikan (jobs, facilities, etc) bagi warga yg terikat secara 
> politis atau kultural dengan ruang tsb, karena ruang adalah wadah dari proses 
> sosial ekonomi... demikian juga dengan individu, yg bergantung pada 
> "perusahaan2" tadi...
> 
> Namun suposisi yg diberikan oleh Florida seakan2 bahwa creative class itu 
> individu2 yg tidak bergantung pd "perusahaan2"... mereka bebas pindah ke 
> kota2 yg menyenangkan mereka, kemudian mereka menciptakan pertumbuhan 
> ekonomi, jobs, dll... untuk beberapa kasus saya setuju, seperti industri 
> software dan web based yg modal awalnya bisa kecil dan bisa dilakukan di mana 
> saja selama ada listrik, komputer, dan internet..bagian dari high tech 
> economy yg relatif flexible dari segi "ruang".... tapi banyak jenis pekerjaan 
> yg berada dlm list Florida dikategorikan sebagai creative class yg sangat 
> bergantung pada "pekerjaan yg ditawarkan oleh perusahaan, termasuk besaran 
> remunerasi, struktur karir, dsb"...
> Dengan demikian, mereka tidak bebas memilih tempat yg "toleran, banyak 
> museum, outdoor activities, dll"... bagaimanapun mereka bergantung pada 
> "lokasi" yg ditawarkan oleh si perusahaan sebagai tempat untuk dia bekerja... 
> jadi alasan migrasi masih alasan klasik, yakni "jobs"...
> 
> 2. Nampaknya Florida terlalu simple menyimpulkan dari kecenderungan 
> keterkaitan antara index creative people yg dia susun dengan pertumbuhan 
> ekonomi kota... yg bahkan secara statistik saya yakin korelasinya tidak 
> kuat... berapa sample kota US yg dia ambil dan berapa jenis independent 
> variables yg dia pakai? kalau saya lihat dari tabel di webnya kok kayaknya 
> kurang meyakinkan... tapi bisa saja saya salah, harus baca bukunya dulu...
> 
> 3. Bahwa creative class memilih lebih suka tinggal di creative cities yg 
> toleran thd gay dg banyak museum, theater, dll nampaknya disimpulkan tanpa 
> studi atau data yg kuat... bisa saja mereka memilih bukan karena hal2 tsb, 
> tapi karena banyaknya shopping center, kualitas lingkungan yg bagus, sekolah 
> anak2 yg bagus, dll disamping pertimbangan tawaran jobs yg lebih baik..
> 
> 4. Untuk masalah Indonesia, sebetulnya kita punya 2 creative cities yg 
> menarik banyak creative class di luar Jakarta, yakni Bandung dan 
> Yogyakarta.... tapi apakah selalu terkait dengan pertumbuhan ekonomi? kalau 
> Bandung saya kira lebih karena lokasi dekat dengan Jakarta, jadi creative 
> class nya banyak dapat job2an dari Jakarta... buktinya Yogyakarta bukanlah 
> kota yg memiliki income/capita yg tinggi disamping fakta bahwa kota ini 
> memiliki rasio creative class yg (saya kira) di atas rata2 kota Indonesia 
> lainnya yg performance ekonominya justru lebih baik... 
> 
> 5. Karena itu studi ttg ini di Belanda dan UK menghasilkan kesimpulan yg 
> berbeda dari Florida, yakni orang pindah tetap didrive oleh "job 
> opportunities" sebagai alasan utama...
> 
> salam,
> Eko.
> 

  

                           

       
---------------------------------
Like movies? Here's a limited-time offer: Blockbuster Total Access for one 
month at no cost.

Kirim email ke