Rekan-rekan yang baik, Menanggapi ajakan dari Pak Abi untuk memberi pandangan alternatif, dan meneruskan email Pak BTS (sort of..), saya ingin nimbrung memberi alasan mengapa Jakarta sulit dikalahkan economic primacy-nya. Ini kaitannya bukan soal Jakarta sebagai ibukota, tapi sebagai pusat ekonomi.
Kebanyakan apa yang saya tulis ini me-refer ke pandangan planning scholars yang menganut aliran New Regionalism dan Marxist-Geography, macam Michael Storper (The Capitalist Imperative), Allen Scott (Global City-Regions), Ed Soja (Postmetropolis), Saskia Sassen (The Global City), dll. Salah satu premis mereka yang penting adalah "globalisasi = kapitalisme-isasi = urbanisasi/urban primacy/urban specificity". Ini adalah setali tiga uang. Kapitalisme membutuhkan sistem kerja yang efisien. Dan sistem yang efisien adalah kalau manusia dan aktivitasnya tidak tersebar di semua/sembarang tempat, tapi mengumpul di sedikit tempat yang strategis. Urbanisasi adalah strategi ruang yang dipilih oleh kapitalis untuk menjalankan kapitalisme secara efisien (Storper). Dan kapitalisme akan semakin berkembang kalau dia tidak dibatasi oleh sekat-sekat macam batas negara. Kalau kita lihat lebih detil lagi, ketika kita ngomongin globalisasi, sebenarnya bukan "seluruh dunia jadi lebih connected," tapi yang semakin connected hanyalah tempat-tempat strategis (dalam hal ini one global city with other global cities). Yang lain boleh dibilang "dilewat"... Tempat strategis/global cities semacam London, New York, Tokyo adalah yang disebut Sassen sebagai "command centers of world capitalism". Jakarta bukan termasuk command center di skala global (mungkin skala Indonesia). Dan selagi kita masih menganut sistem kapitalisme, kota-kota besar akan terus berkembang. Sebagian kota kecil mungkin akan berkembang, mungkin tidak. Daerah perdesaan akan tetap tertinggal. Mengapa kota besar akan terus berkembang? Karena kota mendapat "energi"nya dari dalam dirinya sendiri. Energi itu terutama berasal dari jumlah & kualitas orang/usaha yang ada di kota, serta jumlah & kualitas interaksi yang tercipta di antara orang-orang dan usaha-usaha itu. Contohnya (kembali ke kapitalisme), sebuah usaha di zaman sekarang tidak bisa lagi berdiri sendiri. Usaha macam Ford di zaman dulu, yang sangat vertically integrated (satu perusahaan mobil membuat semua bagian mobil sendiri: ban, kaca, mesin, bodi, dll - bahkan menjualnya!), sudah tidak zaman lagi. Sejak tahun 60-an, dimulailah era Post-Fordism. Hampir semua usaha, kalau mau efisien, harus memilih spesialisasi. Jadilah ada perusahaan yang bikin ban saja, ada yang bikin mesin saja, ada yang bikin kaca saja, ada yang meng-assemble dan memberi merek mobilnya saja. Perusahaan-perusahaan sekarang semakin butuh supplier (usaha lain), distributor (usaha lain), kontraktor/subkontraktor (usaha lain), dan pekerja (individu-individu yang sebenarnya merupakan unit usaha lain). Semakin banyak supplier berkumpul di suatu tempat, semakin senang usaha yang membutuhkan supply tersebut, karena antar supplier akan bersaing dan memberikan harga yang paling murah. Kalau di suatu tempat hanya ada sedikit supplier, harganya bisa lebih mahal (kurang persaingan). Demikian juga dengan kebutuhan akan tenaga kerja. Di kota kecil, tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan sedikit, sehingga kalau terjadi mogok, ada pegawai yang keluar, dll, perusahaan tersebut akan kesulitan mencari pegawai pengganti. Di kota besar, calon pegawai banyak. Bahkan pegawai berkualitas/terdidik pun banyak. Jadi perusahaan tidak usah banyak khawatir soal pergantian pegawai. Jadilah perusahaan memilih berada di kota. Terus, pegawai perusahaan butuh fasilitas umum, tempat hiburan, dll. Di kota kecil, jumlah orang sedikit, dan fasilitas umum/tempat hiburan sedikit (which is the chicken, which is the egg?). Di kota besar, sebaliknya: ada banyak orang, banyak usaha, banyak fasilitas, banyak transaksi ekonomi. It doesn't matter anymore which is the chicken and which is the egg. They all come together... Sebuah kota menjadi besar karena dia besar. Lalu, apakah tidak mungkin ada kota/daerah lain yang bisa menjadi besar, mengalahkan yang sudah besar? Mungkin saja. Lihat contoh "Silicon Valley" dan Detroit. Dulu Silicon Valley nothing, sekarang besar. Dulu Detroit besar, sekarang sekarat. Apa yang terjadi? Perubahan struktur industri di masing-masing kota. Unlike New York yang usahanya beragam, Detroit sangat fokus ke industri (otomobil). Ketika negara-negara maju mengalami de-industrialisasi (industri berat "dibuang" ke negara-negara dunia ketiga), Detroit menjadi bagian dari kota2 di utara/timur Amerika yang sekarang disebut "rust-belt". New York dulu juga berat ke industri, tapi tidak terlalu. Usaha dan orang2 di sana cukup variatif. Ketika jaman industri beralih jadi jaman jasa (finance, etc), New York siap. Detroit tidak. Bagaimana dengan kawasan Silicon Valley? Tumbuhnya kawasan itu juga disebabkan perubahan struktur industri yang penting, yaitu berkembangnya jaman informasi menjadi setara (bahkan mengalahkan) jaman jasa. Silicon Valley menjadi cradle tempat kelahiran jaman informasi. Dia tumbuh cepat bukan karena bersaing dengan kota-kota lain yang sudah maju, tapi karena dia menciptakan industri baru yang kemudian menjadi acuan dunia. Ketika kota-kota lain mulai sadar bahwa sekarang adalah jaman informasi, mereka berusaha meniru dan membuat Silicon Valley-nya sendiri. Tapi tetap Silicon Valley yang asli akan lebih besar. Karena apa? Ketika kota-kota lain baru berusaha menarik usaha-usaha ICT ke kotanya, Silicon Valley sudah memiliki banyak dan beraneka ragam usaha ICT. Kembali ke cerita yang pertama: Silicon Valley menjadi (semakin) besar karena dia sudah lebih dulu besar (in terms of ICT industry). Sorry sudah terlalu panjang. Mungkin pada intinya, selagi kita masih menganut sistem kapitalisme, yang besar akan tetap besar. Kecuali terjadi perubahan mendasar pada sistem industri. Sebuah kota (baik besar maupun kecil) yang menjadi leader dalam perubahan tersebut, akan menjadi besar dan mungkin saja mengalahkan kota lain yang sudah lebih dulu besar... Sampai terjadi perubahan mendasar berikutnya. Sekian dulu untuk sementara. Salam, Muli

