Mas Muli, ysh:

Well written! Sempet dulu ketemu dg Storper, Scott and Soja di UCLA?
Mereka memang geographers wahid (meskipun Storper and Soja dosen
planning department, tapi background mereka adalah geography).

Buat yang lain juga:

Tambahan dari saya adalah analisa mereka adalah applicable utk skala
global atau international. Globalisasi dan kapitalisme adalah sama2
menganut azas survival of the fittest. Siapa yg kuat dia yg menang dan
yg lemah akan binasa dan korban dari kompetisi. Dan ini juga menjelaskan
dalam skala Southeast Asia kenapa Singapore menjadi pemenang dan Jakarta
menjadi supporter kalau kita tidak mau bilang the loser.

Kalau kita mau terapkan teori mereka dalam skala national pun adalah
relevan juga. Hanya saya ingin menjelaskan peran planning dalam skala
national utk mengurangi dampak negatif dari kapitalisme tsb. Di
Indonesia yg menganut sistem perencanaan di tingkat nasional, mestinya
planning berperan for mitigating the impacts of capitalism. Planning
bisa berperan for addressing the failure of laissez-faire. Dalam salah
satu mata kuliah disini, saya sering sampaikan bahwa tradisi planning
dikenal baik in American society sejak Great Depression in 1930s.
Terdapat banyak proyek nasional dan planning berperan besar utk
mengatasi dampak dari Great Depression tsb.

Kembali kepada diskusi kedigjayaan Jakarta, inipun adalah the failure of
laissez-faire. Dalam jangka panjang fenomena ini adalah tidak
sustainable. Banjir tahunan adalah salah satu indikasinya. Demikian juga
dg migrasi yg tidak kunjung berkurang ke Jakarta yg menambah beban
pemerintah DKI. Kemacetan, berkurangnya green areas, bertambahnya slums
adalah sebagian masalah ibukota yg tak akan kunjung tuntas tanpa ada
perubahan dalam sistem perkotaan di Indonesia. Di sinilah planning
ditunggu perannya for turning around the direction of urban system in
Indonesia.

Dalam konteks sistem kota-kota di US, apa yg ditawarkan oleh Richard
Florida melalui creative class-nya banyak "dibeli" oleh pengamat
perkotaan disini. Ini pun turut menjelaskan mengapa kota A perkembangan
kotanya tidak selaju kota B. Konsep Richard Florida ini pun banyak
diaplikasikan di negara2 lain. Kembali lagi ke dalam konteks Indonesia,
menurut saya akibat kedigjayaan Jakarta, konsep creative class tidaklah
terlalu relevan utk Indonesia. Berikut saya kutipkan email saya yg
dikirim utk rekan2 saya di PL 88  bulan November 2006 mengenai creative
class and sistem kota di Indonesia:

"Apa yg telah digagaskan oleh Richard Florida on creative class, membuat
planning scholars di Amrik berbangga hati. Secara khusus, JAPA, the
leading planning journal in the US, membuat forum tersendiri utk
diskusikan bukunya Florida (The Rise of the Creative Class). There has
been very few planning scholars who is able to author a hot book among
urban policy-makers. Richard Florida is the man! There is little
question that Florida's book has become the most popular book in urban
economics, urban sociology, urban politics and, indeed, urban planning,
in the last decade.

Konsep creativity index-nya, banyak menarik perhatian urban
policy-makers in the US. Konsep ini memberikan dimensi baru dalam
memahami pertumbuhan kota/metropolitan di US. In his sequential book
(The Flight of the Creative Class), he expands his concept to a global
context and asserts the growing global competition for creative people.

As cited by Agus, the key components of his creativity index include
technology, talent and tolerance. Technology and talent have long been
seen as driving forces of economy growth. He describes tolerance as
"openness to self-expression and wide range of social groups". From
these components, he develops four indexes, which make up of the
creativity index, include creativity class concentration, high-tech
index, innovation index and diversity index. The last one is based on
the fraction of the population that is gay!)

Nah, sekarang bgm kita (sbg orang yg pengen negaranya maju) bisa
memaknai konsep yg digagas sama si Florida ini. Di US, regional
disparities is not a hot issue as we have in Indonesia. Ketimpangan
antara New York dg North Dakota, misalnya tidaklah jadi masalah besar.
Hanya buat mayor in any city in North Dakota, Florida's concept will
shed light on his city's economy growth problem. Otherwise, the major of
San Francisco will be proud much more of his accomplishment of
attracting, retaining and developing creative people.

Di Indonesia, we should be able to rank cities based on Florida's
creativity index. (As he did in European countries, please check his
snazzy website at www.creativeclass. org <http://www.creativeclass.org/>
), but then what?

Kota2 di kita, mohon dikoreksi kalo salah, masih banyak tergantung
kepada pusat. Desentralisasi tanpa didukung sumber daya lokal yg kuat,
membuat kota2 kita crippled. Kalo kebanyakan kota2 kita seperti Kutai,
tentunya dinamika desentralisasi akan lebih vibrant! Kompetisi antar
kota spt digagas oleh Florida for attracting, retaining and developing
creative people seem irrelevant to our cities. Menurutku, salah satunya
berakar dari peran Jakarta yg terus menguat sbg central dari berbagai
sektor kehidupan di Indonesia dan melemahkan peran kota2 lainnya utk
berkompetisi dg Jakarta.

There is little doubt that Jakarta is able to attract and develop
creative people. Its tolerance to diversity is also one of driving
forces of economic growth. Nonetheless, kedigjayaan Jakarta mengerdilkan
kota2 lainnya dan membuat Jakarta be an outlier in our urban system.

Dg mengasumsikan bahwa Jakarta diluar our urban system, kita mungkin
bisa aplikasikan konsepnya si Florida di Indonesia. Buatlah Bandung
bersaing dg Surabaya, Medan, Ujung Pandang for attracting, retaining and
developing creative people. Kota2 lainnya pun bersaing dg kota
sekelasnya. Hanya sekali lagi, karena Jakarta yg terus membesar, maka
kota spt Tangerang, Bekasi, Bogor tak bisa kita masukkan pula dalam
model kita ini. Kedigjayaan Jakarta ini yg bikin aku gemes dg konsep
pengembangan kota di Indonesia."

Terima kasih dan salam dari Savannah,

Deden.


--- In [email protected], "Mulya Amri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Rekan-rekan yang baik,
>
> Menanggapi ajakan dari Pak Abi untuk memberi pandangan alternatif, dan
> meneruskan email Pak BTS (sort of..), saya ingin nimbrung memberi
alasan
> mengapa Jakarta sulit dikalahkan economic primacy-nya. Ini kaitannya
bukan
> soal Jakarta sebagai ibukota, tapi sebagai pusat ekonomi.
>
> Kebanyakan apa yang saya tulis ini me-refer ke pandangan planning
scholars
> yang menganut aliran New Regionalism dan Marxist-Geography, macam
Michael
> Storper (The Capitalist Imperative), Allen Scott (Global
City-Regions), Ed
> Soja (Postmetropolis), Saskia Sassen (The Global City), dll.
>
> Salah satu premis mereka yang penting adalah "globalisasi =
> kapitalisme-isasi = urbanisasi/urban primacy/urban specificity". Ini
adalah
> setali tiga uang. Kapitalisme membutuhkan sistem kerja yang efisien.
Dan
> sistem yang efisien adalah kalau manusia dan aktivitasnya tidak
tersebar di
> semua/sembarang tempat, tapi mengumpul di sedikit tempat yang
strategis.
> Urbanisasi adalah strategi ruang yang dipilih oleh kapitalis untuk
> menjalankan kapitalisme secara efisien (Storper). Dan kapitalisme akan
> semakin berkembang kalau dia tidak dibatasi oleh sekat-sekat macam
batas
> negara.
>
> Kalau kita lihat lebih detil lagi, ketika kita ngomongin globalisasi,
> sebenarnya bukan "seluruh dunia jadi lebih connected," tapi yang
semakin
> connected hanyalah tempat-tempat strategis (dalam hal ini one global
city
> with other global cities). Yang lain boleh dibilang "dilewat"...
Tempat
> strategis/global cities semacam London, New York, Tokyo adalah yang
disebut
> Sassen sebagai "command centers of world capitalism". Jakarta bukan
termasuk
> command center di skala global (mungkin skala Indonesia).
>
> Dan selagi kita masih menganut sistem kapitalisme, kota-kota besar
akan
> terus berkembang. Sebagian kota kecil mungkin akan berkembang, mungkin
> tidak. Daerah perdesaan akan tetap tertinggal.
>
> Mengapa kota besar akan terus berkembang? Karena kota mendapat
"energi"nya
> dari dalam dirinya sendiri. Energi itu terutama berasal dari jumlah &
> kualitas orang/usaha yang ada di kota, serta jumlah & kualitas
interaksi
> yang tercipta di antara orang-orang dan usaha-usaha itu.
>
> Contohnya (kembali ke kapitalisme), sebuah usaha di zaman sekarang
tidak
> bisa lagi berdiri sendiri. Usaha macam Ford di zaman dulu, yang sangat
> vertically integrated (satu perusahaan mobil membuat semua bagian
mobil
> sendiri: ban, kaca, mesin, bodi, dll - bahkan menjualnya!), sudah
tidak
> zaman lagi. Sejak tahun 60-an, dimulailah era Post-Fordism. Hampir
semua
> usaha, kalau mau efisien, harus memilih spesialisasi. Jadilah ada
perusahaan
> yang bikin ban saja, ada yang bikin mesin saja, ada yang bikin kaca
saja,
> ada yang meng-assemble dan memberi merek mobilnya saja.
>
> Perusahaan-perusahaan sekarang semakin butuh supplier (usaha lain),
> distributor (usaha lain), kontraktor/subkontraktor (usaha lain), dan
pekerja
> (individu-individu yang sebenarnya merupakan unit usaha lain). Semakin
> banyak supplier berkumpul di suatu tempat, semakin senang usaha yang
> membutuhkan supply tersebut, karena antar supplier akan bersaing dan
> memberikan harga yang paling murah. Kalau di suatu tempat hanya ada
sedikit
> supplier, harganya bisa lebih mahal (kurang persaingan). Demikian juga
> dengan kebutuhan akan tenaga kerja. Di kota kecil, tenaga kerja yang
> dibutuhkan perusahaan sedikit, sehingga kalau terjadi mogok, ada
pegawai
> yang keluar, dll, perusahaan tersebut akan kesulitan mencari pegawai
> pengganti. Di kota besar, calon pegawai banyak. Bahkan pegawai
> berkualitas/terdidik pun banyak. Jadi perusahaan tidak usah banyak
khawatir
> soal pergantian pegawai. Jadilah perusahaan memilih berada di kota.
>
> Terus, pegawai perusahaan butuh fasilitas umum, tempat hiburan, dll.
Di kota
> kecil, jumlah orang sedikit, dan fasilitas umum/tempat hiburan sedikit
> (which is the chicken, which is the egg?). Di kota besar, sebaliknya:
ada
> banyak orang, banyak usaha, banyak fasilitas, banyak transaksi
ekonomi. It
> doesn't matter anymore which is the chicken and which is the egg. They
all
> come together... Sebuah kota menjadi besar karena dia besar.
>
> Lalu, apakah tidak mungkin ada kota/daerah lain yang bisa menjadi
besar,
> mengalahkan yang sudah besar? Mungkin saja. Lihat contoh "Silicon
Valley"
> dan Detroit. Dulu Silicon Valley nothing, sekarang besar. Dulu Detroit
> besar, sekarang sekarat. Apa yang terjadi? Perubahan struktur industri
di
> masing-masing kota. Unlike New York yang usahanya beragam, Detroit
sangat
> fokus ke industri (otomobil). Ketika negara-negara maju mengalami
> de-industrialisasi (industri berat "dibuang" ke negara-negara dunia
ketiga),
> Detroit menjadi bagian dari kota2 di utara/timur Amerika yang sekarang
> disebut "rust-belt". New York dulu juga berat ke industri, tapi tidak
> terlalu. Usaha dan orang2 di sana cukup variatif. Ketika jaman
industri
> beralih jadi jaman jasa (finance, etc), New York siap. Detroit tidak.
>
> Bagaimana dengan kawasan Silicon Valley? Tumbuhnya kawasan itu juga
> disebabkan perubahan struktur industri yang penting, yaitu
berkembangnya
> jaman informasi menjadi setara (bahkan mengalahkan) jaman jasa.
Silicon
> Valley menjadi cradle tempat kelahiran jaman informasi. Dia tumbuh
cepat
> bukan karena bersaing dengan kota-kota lain yang sudah maju, tapi
karena dia
> menciptakan industri baru yang kemudian menjadi acuan dunia. Ketika
> kota-kota lain mulai sadar bahwa sekarang adalah jaman informasi,
mereka
> berusaha meniru dan membuat Silicon Valley-nya sendiri. Tapi tetap
Silicon
> Valley yang asli akan lebih besar. Karena apa? Ketika kota-kota lain
baru
> berusaha menarik usaha-usaha ICT ke kotanya, Silicon Valley sudah
memiliki
> banyak dan beraneka ragam usaha ICT. Kembali ke cerita yang pertama:
Silicon
> Valley menjadi (semakin) besar karena dia sudah lebih dulu besar (in
terms
> of ICT industry).
>
> Sorry sudah terlalu panjang. Mungkin pada intinya, selagi kita masih
> menganut sistem kapitalisme, yang besar akan tetap besar. Kecuali
terjadi
> perubahan mendasar pada sistem industri. Sebuah kota (baik besar
maupun
> kecil) yang menjadi leader dalam perubahan tersebut, akan menjadi
besar dan
> mungkin saja mengalahkan kota lain yang sudah lebih dulu besar...
Sampai
> terjadi perubahan mendasar berikutnya.
>
> Sekian dulu untuk sementara.
>
> Salam,
> Muli
>


Kirim email ke