Pak Ekadj, wah saya kehilangan kesempatan jumpa yang kedua ya. Mungkin memang belum saatnya bisa jumpa darat, seperti para sahabat yang lain. Matur nuwun saya masih selalu diingat.
Pak tentang neraca tadi, kesan saya lebih bersifat kuantitatif ya. Apakah ada kemiripan dengan konsep keselarasan atau harmoni ? Di Timor, khususnya di Kaenbaun saya menemukan dugaan yang dominan adalah konsep keselarasan atau harmoni keruangan, ya mungkin karena desa masih sangat tradisional sehingga dimensi kualitatif lebih menonjol...atau kacamata saya sendiri yang mengatakan demikian. Setelah saya cek berkali-kali, memang dimensi kuantitatifnya kurang menonjol sementara kualitatifnya lebih terlihat. Salam, Djarot --- On Fri, 9/19/08, ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] neraca ruang To: [email protected] Date: Friday, September 19, 2008, 11:09 PM Pak Djarot ysh, Saya baru kembali dari Yogya, dan maaf tidak sempat menghubungi karena kehilangan nomor kontak. Kemarin sempat bertemu Pak BSP dan beberapa rekan di Bulak Sumur. Salah satunya adalah Pak Latif, ahli perikanan dan kelautan UGM, yang sudah bergabung dengan kita sekarang. Untuk Pak Latif, saya sangat terkesan dengan diskusi kemarin mengenai neraca ruang, yang kelihatannya masih sulit menyatukan/menggene rikkan terminologi karena sistem sumber daya yang berbeda-beda. Bila bapak berkenan dapat membuka arsip diskusi terdahulu: 1 2 3 4, Saya kira ada kesepahaman awal bila aspek 'neraca' adalah 'jantung permasalahan penataan ruang', yang perlu diklarifikasi dalam kebijakan yang ada. Mungkin bapak berkenan menjelaskan kembali aspek neraca ini untuk kasus pesisir dan perikanan. Sekalian bapak diharapkan menanggapi juga RPP HP3 seperti yang diminta oleh Pak Ramses. Untuk rekan-rekan yang lain saya mengharapkan pandangan mengenai konsep neraca ini, seperti misalnya: neraca tanah, neraca air, neraca lingkungan, neraca udara, dst. Untuk 'neraca regional inequalities' sepertinya sedang dikunyah-kunyah Pak Aby dkk. Salam, -ekadj

