Pak Ekadj, mungkin tema neraca ruang bisa menjadi diskusi baru, biar menyaingi 
kegigihan Eyang Aby...siapa tahu tidak kalah menarik dengan konsep yang sedang 
diperdebatkan selama ini....oh ya. apakah kompilasi diskusi beberapa topik 
masih digarap Pak....saya kira kekuatan milis ini ada di proses kristalisasinya 
itu...

Salam,
Djarot

--- On Sat, 9/20/08, ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: neraca ruang
To: [email protected]
Date: Saturday, September 20, 2008, 10:04 PM










    
            

Pak Djarot, alhamdulillah sebelum dan selama Ramadhan ini saya banyak

melakukan kunjungan safari, mulai dari Pekanbaru, Padang, Ambon, Sorong,

dan kemarin ke Yogya. Ternyata jalan-jalan selama bulan puasa ini

sungguh kenikmatan tersendiri, apalagi melihat banyak tradisi dan

kebiasaan setempat. Kemarin di Yogya sempat makan Bakmi Pele di

Alun-alun Lor, rencananya juga mau ke Bakmi Kading, tapi hanya lewat

saja. Serta buka puasa di saung ikan bakar Sunda-Yogya di Godean yang

sepertinya lagi nge-trend. Pulangnya tentu tak lupa bawa gudeg Bu Lies 2

kendi. Saya jadi mengerti dengan istilah: maknyus!



Saya ketinggalan hadiah buku dari Pak BSP, judulnya "6 Tahun di Yogya",

semacam catatan beliau tentang pelaksanaan otonomi daerah. Saya pikir

ini hebat dan dahsyat, karena Pak Harto saja cuma '6 Jam di Yogya'.

Kemarin di toko buku saya menemukan buku Fadel Muhammad berjudul

"Reinventing Local Government", cukup tebal, dan sepertinya berambisi

menjelaskan berbagai pernak-pernik kiat membangun daerah.



Berbicara masalah neraca, sebenarnya ada sedikit rumus yang baru

terungkap, yaitu: penyediaan (stock) dan kebutuhan (needs); dan

rumusannya belum tersedia secara kuantitatif. Muaranya memang pada

keselarasan dan harmoni, namun kalau ditambah dengan indikator ekonomi:

efisiensi. Para ahli baru berangkat pada pendekatan filosofi, dan belum

sampai pada pemodelan. Justru hal ini sangat dibutuhkan dalam menentukan

spm (standar pelayanan minimal) serta optimasi dan realisasi pemanfaatan

ruang.



Beberapa waktu yang lalu saya tidak sampai ke Kaenbaun, hanya

mengunjungi beberapa desa pengungsi ex-Timtim di timur Kota

Agropolitan( -nya Pak Sunu) Oesao. Pembangunan desa pengungsi ini

berbentuk klaster berdasarkan donaturnya (UNHCR, UNDP, dll). Memang

kondisi sangat memprihatinkan karena terbatasnya sumber-sumber ekonomi

dan permukiman yang buruk. Pada umumnya mereka menjadi buruh dari

lahan-lahan pertanian setempat. Karena keterbatasan ini mereka cenderung

menjadi lebih gigih dibandingkan penduduk asli. Saya sempat bertemu

dengan Kepala Desa yang berkenan memberikan lahannya yang luas untuk

permukiman itu; dan terharu dengan kebesaran hati beliau. Kita belum

berperan banyak untuk merangkul saudara-saudara baru kita itu.



Demikian dulu pak. Salam.



-ekadj



--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:

>

> Pak Ekadj, wah saya kehilangan kesempatan jumpa yang kedua ya. Mungkin

memang belum saatnya bisa jumpa darat, seperti para sahabat yang lain.

Matur nuwun saya masih selalu diingat.

>

> Pak tentang neraca tadi, kesan saya lebih bersifat kuantitatif ya.

Apakah ada kemiripan dengan konsep keselarasan atau harmoni ? Di Timor,

khususnya di Kaenbaun saya menemukan dugaan yang dominan adalah konsep

keselarasan atau harmoni keruangan, ya mungkin karena desa masih sangat

tradisional sehingga dimensi kualitatif lebih menonjol...atau kacamata

saya sendiri yang mengatakan demikian. Setelah saya cek berkali-kali,

memang dimensi kuantitatifnya kurang menonjol sementara kualitatifnya

lebih terlihat.

>

> Salam,

> Djarot

>

> --- On Fri, 9/19/08, ekadj08 [EMAIL PROTECTED] wrote:

>

> Pak Djarot ysh,

> Saya baru kembali dari Yogya, dan maaf tidak sempat menghubungi karena

kehilangan nomor kontak. Kemarin sempat bertemu Pak BSP dan beberapa

rekan di Bulak Sumur. Salah satunya adalah Pak Latif, ahli perikanan dan

kelautan UGM, yang sudah bergabung dengan kita sekarang.

> Untuk Pak Latif, saya sangat terkesan dengan diskusi kemarin mengenai

neraca ruang, yang kelihatannya masih sulit menyatukan/menggene rikkan

terminologi karena sistem sumber daya yang berbeda-beda. Bila bapak

berkenan dapat membuka arsip diskusi terdahulu: 1 2 3 4, Saya kira ada

kesepahaman awal bila aspek 'neraca' adalah 'jantung permasalahan

penataan ruang', yang perlu diklarifikasi dalam kebijakan yang ada.

Mungkin bapak berkenan menjelaskan kembali aspek neraca ini untuk kasus

pesisir dan perikanan. Sekalian bapak diharapkan menanggapi juga RPP HP3

seperti yang diminta oleh Pak Ramses. Untuk rekan-rekan yang lain saya

mengharapkan pandangan mengenai konsep neraca ini, seperti misalnya:

neraca tanah, neraca air, neraca lingkungan, neraca udara, dst. Untuk

'neraca regional inequalities' sepertinya sedang dikunyah-kunyah Pak Aby

dkk.

> Salam,

> -ekadj




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke