Pak Djarot, alhamdulillah sebelum dan selama Ramadhan ini saya banyak
melakukan kunjungan safari, mulai dari Pekanbaru, Padang, Ambon, Sorong,
dan kemarin ke Yogya. Ternyata jalan-jalan selama bulan puasa ini
sungguh kenikmatan tersendiri, apalagi melihat banyak tradisi dan
kebiasaan setempat. Kemarin di Yogya sempat makan Bakmi Pele di
Alun-alun Lor, rencananya juga mau ke Bakmi Kading, tapi hanya lewat
saja. Serta buka puasa di saung ikan bakar Sunda-Yogya di Godean yang
sepertinya lagi nge-trend. Pulangnya tentu tak lupa bawa gudeg Bu Lies 2
kendi. Saya jadi mengerti dengan istilah: maknyus!

Saya ketinggalan hadiah buku dari Pak BSP, judulnya "6 Tahun di Yogya",
semacam catatan beliau tentang pelaksanaan otonomi daerah. Saya pikir
ini hebat dan dahsyat, karena Pak Harto saja cuma '6 Jam di Yogya'.
Kemarin di toko buku saya menemukan buku Fadel Muhammad berjudul
"Reinventing Local Government", cukup tebal, dan sepertinya berambisi
menjelaskan berbagai pernak-pernik kiat membangun daerah.

Berbicara masalah neraca, sebenarnya ada sedikit rumus yang baru
terungkap, yaitu: penyediaan (stock) dan kebutuhan (needs); dan
rumusannya belum tersedia secara kuantitatif. Muaranya memang pada
keselarasan dan harmoni, namun kalau ditambah dengan indikator ekonomi:
efisiensi. Para ahli baru berangkat pada pendekatan filosofi, dan belum
sampai pada pemodelan. Justru hal ini sangat dibutuhkan dalam menentukan
spm (standar pelayanan minimal) serta optimasi dan realisasi pemanfaatan
ruang.

Beberapa waktu yang lalu saya tidak sampai ke Kaenbaun, hanya
mengunjungi beberapa desa pengungsi ex-Timtim di timur Kota
Agropolitan(-nya Pak Sunu) Oesao. Pembangunan desa pengungsi ini
berbentuk klaster berdasarkan donaturnya (UNHCR, UNDP, dll). Memang
kondisi sangat memprihatinkan karena terbatasnya sumber-sumber ekonomi
dan permukiman yang buruk. Pada umumnya mereka menjadi buruh dari
lahan-lahan pertanian setempat. Karena keterbatasan ini mereka cenderung
menjadi lebih gigih dibandingkan penduduk asli. Saya sempat bertemu
dengan Kepala Desa yang berkenan memberikan lahannya yang luas untuk
permukiman itu; dan terharu dengan kebesaran hati beliau. Kita belum
berperan banyak untuk merangkul saudara-saudara baru kita itu.

Demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Ekadj, wah saya kehilangan kesempatan jumpa yang kedua ya. Mungkin
memang belum saatnya bisa jumpa darat, seperti para sahabat yang lain.
Matur nuwun saya masih selalu diingat.
>
> Pak tentang neraca tadi, kesan saya lebih bersifat kuantitatif ya.
Apakah ada kemiripan dengan konsep keselarasan atau harmoni ? Di Timor,
khususnya di Kaenbaun saya menemukan dugaan yang dominan adalah konsep
keselarasan atau harmoni keruangan, ya mungkin karena desa masih sangat
tradisional sehingga dimensi kualitatif lebih menonjol...atau kacamata
saya sendiri yang mengatakan demikian. Setelah saya cek berkali-kali,
memang dimensi kuantitatifnya kurang menonjol sementara kualitatifnya
lebih terlihat.
>
> Salam,
> Djarot
>
> --- On Fri, 9/19/08, ekadj08 [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Pak Djarot ysh,
> Saya baru kembali dari Yogya, dan maaf tidak sempat menghubungi karena
kehilangan nomor kontak. Kemarin sempat bertemu Pak BSP dan beberapa
rekan di Bulak Sumur. Salah satunya adalah Pak Latif, ahli perikanan dan
kelautan UGM, yang sudah bergabung dengan kita sekarang.
> Untuk Pak Latif, saya sangat terkesan dengan diskusi kemarin mengenai
neraca ruang, yang kelihatannya masih sulit menyatukan/menggene rikkan
terminologi karena sistem sumber daya yang berbeda-beda. Bila bapak
berkenan dapat membuka arsip diskusi terdahulu: 1 2 3 4, Saya kira ada
kesepahaman awal bila aspek 'neraca' adalah 'jantung permasalahan
penataan ruang', yang perlu diklarifikasi dalam kebijakan yang ada.
Mungkin bapak berkenan menjelaskan kembali aspek neraca ini untuk kasus
pesisir dan perikanan. Sekalian bapak diharapkan menanggapi juga RPP HP3
seperti yang diminta oleh Pak Ramses. Untuk rekan-rekan yang lain saya
mengharapkan pandangan mengenai konsep neraca ini, seperti misalnya:
neraca tanah, neraca air, neraca lingkungan, neraca udara, dst. Untuk
'neraca regional inequalities' sepertinya sedang dikunyah-kunyah Pak Aby
dkk.
> Salam,
> -ekadj



Kirim email ke