Pak Eka, Mas Risfan dan rekan milister ysh; Mengikuti pembahasan tentang 'neraca ruang' atau 'neraca lahan' yang sepertinya berawal dari 'neraca air', saya jadi tergelitik untuk ikut urun rembuk. Mungkin ini dasarnya ada kesalahan prinsip yaitu antara 'planner' dengan 'engineer'. Kita mungkin menyamakan keduanya, karena seorang 'planner' disini bergelar 'insinyur' atau 'engineer', padahal itu lain. 'Engineer' seperti 'civil engineer', mechanical engineer' atau 'chemistry engineer' disiplin ilmunya memang sangat teknis, seperti menghitung 'neraca air'. Nah, menurut saya 'planner' disiplin ilmunya agak lain mikro - mezzo - makro dan bersifat kebijaksanaan yang mengait ke politik, sehingga kurang tepat kalau harus ngitung teknis sampai detail sekrup segala, mungkin cukup kepada perkiraan 'daya dukung' saja. Mungkin sebaiknya seorang 'planner' tidak bergelar 'insiyur' tetapi 'planolog' saja, sehingga tidak harus tahu semuanya termasuk disiplin teknik irigasi segala yang jadi domainnya 'civil engineer'. Mumpung masih puasa, mohon maaf kalau saya salah ya... Wassalam; Onnos
To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Tue, 23 Sep 2008 01:06:28 +0700Subject: Re: [referensi] Re: neraca ruang Pak Risfan ysh, Sebenarnya istilah ini muncul kemarin di Yogya sewaktu kita mencoba mengelaborasi beberapa istilah UU26, yaitu neraca penatagunaan tanah, air, udara, dan sda lainnya. Ketika harus dijabarkan, terlihat overlap lingkup yang sulit dipisahkan satu sama lain, sehingga dipertimbangkan suatu istilah generik yang memungkinkan untuk merepresentasikan istilah-istilah tersebut. Walaupun disadari dalam pendalaman masing-masing masih terasa sulit menggunakan metode tunggal yang dapat digunakan untuk menyigi setiap persoalan sda tersebut. Sebagai contoh misalnya kkop (udara) yang mensyaratkan arahan di darat (tanah), dst. Dan hal ini telah saya lemparkan sebagai masalah dalam diskusi awal kita: mengenai suatu batas dari neraca ruang. Saya sebenarnya tidak terlalu pusing menyikapi hal ini, karena penerapan neraca suatu sda dalam suatu ruang dapat menggunakan 'pendekatan strategis', yang tentunya bermula dari suatu 'permasalahan strategis'. Sehingga ini sebenarnya merupakan 'pilihan strategis'. Sebagai contoh, penilaian kkop belum perlu dilakukan pada suatu kota kecil yang memiliki bandara kecil dengan intensitas penerbangan yang rendah. Atau dengan kata lain: perencanaan tidak melulu komprehensif. Kita memang telah mencoba meng-exercise salah satunya, yaitu neraca lahan di milis Perkotaan, dan ternyata memiliki dimensi dan lingkup yang luas dan ruwet. Lahan sendiri masih perlu pendefinisian menyangkut konten vertikal ke bawah (ruang bawah tanah) dan ke atas (bangunan dll). Saya lampirkan suatu perbandingan dari sistem hukum pertanahan di Jepang, yang telah dapat memisahkan hal tersebut sehingga menjadi acuan dalam perhitungan neraca. Dalam perspektif lebih lanjut, sebenarnya kita telah masuk dalam 'perhitungan neraca ruang'. Memang dalam kasus neraca lahan alat ukurnya adalah '(land) value'; dan bagaimana ini diperbandingkan misalnya dengan neraca air yang menggunakan alat ukur 'stock' dan 'distribusi'? Saya mengharapkan berbagai rekan berkenan untuk kontribusi tentang beraneka ragam neraca ini, dan apakah benar titik temunya akan sampai kepada neraca ruang? Namun untuk saya, bapak, dan rekan yang berminat diharapkan dapat meneruskan diskusi 'neraca lahan' ini di milis Perkotaan/Futurologi. Begitu pak. Salam. -ekadj 2008/9/22 risfano [EMAIL PROTECTED] Bang Eka dan rekans ysh,Neraca lahan = neraca ruang?Kalau lahan, tanah, apakah tidak lebih konkret. Kalau 'ruang' sepertinyakan intangible. Orang memiliki atau membeli x ha lahan, bukan ruang kan?Nilai lahan/tanah, land value, land rent.Sementara kalau ruang konotasinya lebih abstract, konsep, "peruntukan"atas sebidang lahan/tanah.Bukan begitu? Jadi yang mana yang ada kita bahas?Salam,Risfan Munir --- In [email protected], "ekadj08" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:>>> Pak Risfan ysh,>> Sepertinya bapak telah membuka pintu kepada pemikiran neraca yanglebih> implementatif. Sebenarnya ada contoh yang lebih populer dan dikenal> selama ini, yaitu: neraca air. Manajemen sumber daya air berlandaspada> beberapa prinsip, di antaranya bagaimana bila air itu ditahan selama> mungkin di daratan, tersimpan (stock) di hulu, dan didistribusikan> penggunaannya secara efisien, apakah melalui pipa, saluran, bendungan,> dst. Jenis penggunaannya pun beragam, mulai dari penggunaan domestik> rumah tangga, pertanian, perikanan, industri, dst. Jadi pengelolaan> sumber daya air memerlukan manajemen mulai dari hulu hingga ke hilir.> Untuk itu dibutuhkan neraca, yang mengimbangkan penyediaan dan> penggunaan, supaya pemanfaatannya menjadi sustain. Namun permasalahan> kita selama ini hanya bermain di tataran teoritik dan filosofik, belum> sampai kepada perhitungan yang lebih terukur. Atau kalaupun ada, belum> populer.> . _________________________________________________________________ Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly. http://www.get.live.com/wl/all

