Kalau dalam aspek ruang geografisnya masih pak.
Hanya aja dalam pengamatan saya (bisa jadi saya salah), kita "agak 
lemah" dalam hal detail pertanahan (land use). Real estate pernah 
terpikirkan untuk dikembangkan dalam kerangka s2, tetapi belum 
dilaksanakan karena memang banyak yang harus dipertimbangkan (antara 
lain: kapasitas sumberdaya).

Mungkin akan menarik sebagai bahan renungan untuk PLANO 50 pak hehehe.....

Salam,
Roos Akbar


risfano wrote:
>
> Pak Roos dan Rekans ysh,
>
> Kalau mendengar bahwa teman2 (juga mahasiswa?) planning terbawa larut 
> ke sosial, ekonomi, kalau terlalu jauh sebetulnya menghawatirkan juga ya.
>
> Seperti saya sebenarnya banyak menyinggung aspek sosial-ekonomi dan 
> manajemen di milist ini, tentu selalu dalam kaitan ruang geografis. 
> Kalau lepas dari situ ya limbung kita, ekonom bukan, planner bukan.
>
> Kembali soal tanah, kiranya perlu disadari bahwa rencana tata ruang 
> dan pelaksanaannya punya implikasi (terkait) "hukum pertanahan" dan 
> "harga/ ekonomi tanah".
>
> Sebetulnya kalau ini dikembangkan menjadi minat land development akan 
> bisa menarik. Yang dekat dengan ini adalah bidang real estate.
> Real estate, yang saya maksud bukan 'kerjaan developer bangun 
> perumahan', tapi bidang menyangkut "tanah dan man-made di atasnya" 
> termasuk aspek hukum, finance dan ekonominya.
>
> Saya bayangkan ini akan menarik. Sehingga planner tidak hanya menyusun 
> rencana. Tapi juga tahu soal hukum/kebijakan pertanahan, ekonomi 
> tanah. New blend of the old knowledges. Ini akan membuka kesempatan 
> kerja lebih luas. Tentu bisa kerja dengan realtors/swasta, juga dengan 
> sektor publik. Sehingga sektor publik juga aware dengan misalnya: 
> naiknya harga tanah, kerjasama pengembangan lahan pemda-swasta, akses 
> lahan bagi si miskin, dst.
>
> Untuk hobi ini saya buat weblog:
> www.urbaneconomic.blogspot.com
>
> Semoga manfaat,
> Risfan Munir
>
> --- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com>, 
> Roos Akbar <rak...@...> wrote:
> >
> > risfano wrote:
> > >
> > > Pak Roos dan rekans ysh,
> > >
> > > Sebetulnya kalau ijin lokasi, saya dulu pernah mengurus, ada batas
> > > waktunya kok. Kalau dalam waktu tertentu tidak dibangun sesuai yang
> > > diusulkan ya tidak berlaku lagi.
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Benar sekali pak.
> > Saya tahunya ada masa berlakunya.
> > Tapi di Bandung Utara yang penelitian saya menunjukkan hanya 15% ijin
> > lokasi (dari sekitar hampir 3000an HA) yang sesuai dengan kaidah
> > penataan ruang. Dan ketika checking lapangan (karena ijin kan belum
> > tentu dilaksanakan) ternyata ada beberapa yang ijin lokasinya sudah
> > dikeluarkan sejak akhir tahun 80an dan mereka melaksanakan kegiatan
> > konstruksi pada tahun 90an akhir. Ketika saya tanyakan, mereka hanya
> > menjawab bahwa mereka punya ijin lokasi sejak tahun 80an.
> >
> >
> > >
> > > Tapi soal penelantaran ini mungkin lebih tepat dalam kaitan
> > > dengan "kepemilikannya". Ijin lokasi belum tentu seluruh tanahnya
> > > sudah diakuisisi. Persoalannya dalam kasus kebun, itu tanah
> > > perkebunan atau tanah rakyat? Kalau rakyat penggarap biasanya juga
> > > ada batasan perjanjian kalau sewaktu-waktu dipakai kebun, mesti
> > > pindah. Tapi harus ada tenggang waktu sampai panen, kalau tidak ya
> > > diganti rugi.
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Betul juga pak. Setelah ada ijin lokasi, baru mereka melakukan
> > pembebasan tanah. Dan area yang dibebaskan, belum tentu bisa sama 
> dengan
> > ijin lokasi yang diajukan. Tapi masalahnya pemegang ijin lokasi selalu
> > beranggapan bahwa mereka mendapat monopoli dalam pembebasan tanah
> > tersebut. Hal ini jelas tidak benar. Sebailknya ada saja developer
> > "nakal" yang begitu tahu temannya dapat ijin lokasi, langsung dia
> > bergerak lebih cepat membeli tanah disana sehingga kemudian pemegang
> > ijin tidak dapat lagi membebaskan tanah. Akibatnya developer nakal ini
> > juga "dibalas" oleh developer lainnya.
> >
> > Angka ijin lokasi yang sudah dikeluarkan besar sekali. Tapi karena
> > dianggap hak monopoli dan tidak ada mekanisme kontrol maka tanah ini
> > kemudian "mati" (blighted land). Entah sekarang bagaimana pengawasannya.
> > >
> > >
> > > Kelihatannya hukum pertanahan memang perlu diangkat Pak Roos, karena
> > > kita bisa antisipasi kalau ada sengketa dalam penerapan rencana tata
> > > ruang, planner mesti siap juga.
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Saya sangat setuju pak.
> > Masalahnya masih banyak celah-celah kosong dalam hukum pertanahan.
> > Saya sendiri tidak memperdalam aspek ini. Minimal yang saya amati
> > seperti yang saya sampaikan di email sebelumnya. Yang saya persoalkan
> > adalah mengapa planner (punten ya self evaluation) enggan masuk ke area
> > detail/teknis begini?
> >
> > >
> > > Seperti amanat UUPR, tampaknya penerapan rencana akan banyak
> > > mengandalkan "police power" penegakan hukum. Dulu waktu pemerintah
> > > banyak uang, implementasi rencana banyak mengandalkan pembangunan
> > > infrastruktur, sekarang mengandalkan inisiatif masyarakat,
> > > pemerintah mengawasi. Beberapa pihak dan kepentingan bisa saja
> > > berkonflik dalam mengimplementasikan rencana yang sama.
> > >
> > > Salam,
> > > Risfan Munir
> > >
> > > --
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Ya itulah salah satu yang saya maksudkan.
> > Tidak/belum ada definisi legal tentang statement SESUAI/TIDAK SESUAI
> > DENGAN TATA RUANG. Yang akan terjadi adalah perdebatan akademik/teknis
> > dan bukannya legal.
> >
> > Salam,
> > Roos Akbar
> >
>
>  

Kirim email ke