Milisters ysh, Kalau saya nyaris bicara hanya KTI melulu….. mohon dimaafkan oleh enthusiaster pembangunan KBI dan Jabodetabek ya?....... Saya kira wacana pembangunan KTI, KBI, Jabodetabek, desa, kota, multisektoral dsb… sangat baik kalau dilakukan bareng2 secara paralel……masing2 tidak saling menolak… tapi dapat saling memperkaya…….. Membangun wilayah (regional development) pada dasarnya sama artinya dengan membangun multisektoralnya yg luas……… Ya membangun desanya (rural development) … ya membangun kotanya (urban development)……. ya membangun pertaniannya (agriculture)…. ya membangun industrinya (industries)……. Ya membangun industri jasanya (service industries)….. ya membangun industri manufakturnya (manufacturing industries)…….ya membangun tak hanya konstruksi sipilnya yg kokoh dan dingin tapi juga arsitekturnya yg indah dan menawan………. ya mengisinya dengan SDM berkualitas…. Ya mengisinya dengan SDM penghasilan tinggi…..dsb….. Pokoknya diperlukan membangun multisektornya yang luas……. dan bukan hanya membangun mono-mono egosektornya yang sempit…… seperti hanya membangun desa tertinggalnya saja…..… membangun hanya industri perikanan dan kelautannya saja….... Pembangunan mono egosektoral pasti jalannya terseok2…… dan bukan tak mungkin akan kandas ditengah jalan…….. Diwilayah tertinggal seperti KTI yg luasnya separuh wilayah Indonesia atau separuh Eropa …….. ada sektor2 yang dapat seketika langsung dibangun tanpa ia rewel banyak meminta persyaratan yg aneh2…. Tapi sektor yg begini juga suka punya ‘kelemahannya’ pula……. seperti bahwa ia tak mampu membangkitkan munculnya dampak ganda multisektoral lainnya yg luas……… Satu contohnya adalah spt bidang pertanian…. Kalau kita ingin kembangkan sektor pertanian modern skala besar secara luas tapi tak bisa …… sudah ajak2 orang lain tapi tak ada yang mau dengar…... kita bisa langsung kembangkan pertanian sendirian dengan mulai dikebun sendiri membuat rumah kaca mini misalnya…….. menanam 5 batang pohon duren, 5 batang pisang, 10 ekor ayam plus 100 ekor ikan lele…. dan ‘sektor kita’ sudah bisa mulai ’jalan’ dan ‘berkembang’ (sendirian)……… Kita juga bisa mulai dengan sektor ‘hukum’ misalnya… dan seorang pengacara cukup memulainya dengan mencari seorang klien dan membela perkaranya yang unik……. dan esok sorenya mungkin saja wajahnya sang pengacara bahkan sudah langsung muncul diberita tv sore…… Atau dibidang kedokteran seorang dokter bisa mulai dengan kelompok kecilnya untuk buka praktek pada hari tertentu ditempat tertentu dengan tarif periksa 5ribu rp. misalnya……atau sekelompok aktivis pendidikan mulai dengan sekolah SD gratis disebuah garasi rumah misalnya……… Semuanya mudah dimulai dengan sektor sendiri dan skala berapa saja… tapi apa dampak gandanya dalam menggerakkan banyak multisektor lainnya yg luas?.......... Membangun itu saya tahu… idealnya harus bottom-up (dimulai dari daerah) ….idealnya harus swadaya (dimulai dari daerah juga)….. tapi apa daya...... membangun multisektoral yg luas di KTI tak bisa dilakukan hanya dengan idealisme seperti itu saja…….. Membangun multisektoral yg luas di KTI, yg strateginya telah disepakati bisa dilakukan bareng2 dari berbagai lini : atas/bawah, nasional/wilayah/ desa……. itu menunjukkan bahwa ia a.l. harus dilakukan mutlak secara “top-down” pula… atau “dari pusat ke daerah”pula …… atau harus dimulai dgn “membangun kota besarnya dulu didaerah”….……. Agar daerah dapat memiliki ”pusat layannya yg benar2 dinamis dan lebih mandiri”….. Sambil pada saat yg sama “pembangunan swadaya dari bawah” juga bisa dimulai dengan pengembangan ruko desa berlantai tanah dan beratap ilalang misalnya……. Dimana kedua arah ini justru saling bersinergi dan bukannya bertabrakan…….. Itu semua samasekali tidak boleh diartikan sebagai “pusat selalu mendikte daerah”… atau “pusat melecehkan otonomi daerah”……..karena khususnya dalam pembangunan ekonomi….. pada umumnya aktivitas memang mengalir secara alamiah dan manusiawi dalam geraknya yg sentripetal dari pusat keperiferi……. Yg sederhana saja…. lihatlah bgmn wabah demam main Play Station atau pemakaian Blackberry misalnya…… tak mungkin ia dimulai langsung ‘di daerah’…. Tapi nyatanya mengalir deras dari ‘pusat’ ke ‘daerah’….. Namun begitu otonomi daerah tak pernah merasa dilecehkan sedikitpun karenanya…… dan malah manggut2 gembira ketika barang aneh baru itu mengalir dari pusat kedaerah….. dan malah daerah merasa ‘gairah hidup bertambah’ karenanya……… Berpikir multisektoral sangatlah mutlak perlu… karena banyak sektor2 pembangunan atau sub-sub-sektor pembangunan khususnya jasa tingkat tinggi yg ia hanya dapat dimulai setelah ‘infrastruktur awal’nya dipersiapkan terlebih dahulu…….. lalu keberadaannya kemudian sangatlah memberi warna pada “mutu kemajuan wilayah”….. Jasa dokter spesialis misalnya baru bisa muncul…….... kalau sebelumnya telah ada praktek dokter umum lebih dulu (artinya apresiasi terhadap metoda pengobatan kedokteran telah duluan berkembang)…… praktek dokter umum akan ‘jalan’ … kalau pada saat yang sama sektor ‘farmasi’ juga ‘jalan’….. seperti bahwa disekitar praktek dokter itu sudah terdapat toko ‘obat’……. Sektor ‘toko obat’ akan jalan.. kalau jumlah penduduk minimum disatu daerah memenuhi syarat population thresholdnya (satu desa yg hanya dihuni kurang dari 40KK…… akan sulit membangkitkan berbagai macam usaha jasa layanan)……..dst….. Dengan kata lain…… jasa rumah sakit besar dan aneka jasa dokter spesialis serta banyak jasa tingkat tinggi lainnya baru akan muncul….. kalau jumlah population tresholdnya telah memenuhi syarat……… Adalah tugas ahli kesehatan bgmn memberantas penyakit dan memajukan kesehatan masyarakat diwilayah…… sebaliknya adalah tugas plannerlah bgmn memikirkan skenario kemungkinan berdirinya jasa layanan strategis tingkat tinggi seperti a.l. rumah sakit besar dan dokter spesialis disatu kawasan tertinggal yg luas dengan jumlah penduduk sedikit dan terserak…….. Tugas plannerlah memikirkan skenario keruangan ttg bgmn seorang dokter spesialis dapat berpraktek dan hidup layak bersama keluarganya dikawasan tertinggal….. tanpa sidokter harus tersiksa krn pasien hanya mampu membayar biaya konsultasi dan pengobatan kesehatannya dengan ayam dan bbrp tandan pisang….. atau bgmn agar notaris tak mengeluh…. tarip jasa umum resmi kok ditawar-tawar seperti laiknya orang mau naik becak dari Kwitang mau ke Kota…….. Membangun multisektor dikawasan tertinggal sering tak selalu dapat dilakukan dengan langkah2 lurus eksplisit dan sederhana…… Tak jarang diperlukan langkah2 dan arah2 serba belak-belok tak langsung seperti laiknya seni orang bermain bilyar atau karambol….. Ingin memasukkan bola “A” kelubang….. sering tak ada cara lain kecuali harus menyodok bola “B” dulu… dimana “B” akan menghantam “C” dan barulah hasil sodokan “C” membuat “A” masuk kelubang target……… Rumit…… tapi mulia….. dan insyaallah planners akan dielu2kan oleh bangsa ini sebagai pahlawan pembangunan wilayah yg sejati..……… Salam, aby

