Pak BTS dan Pak Nuzul ysh,

Saya kira kita sudah sampai pada `kunci permasalahan'
pengembangan wilayah khususnya untuk Indonesia Timur, yaitu
`stabilisasi harga'. Di KTI harga-harga berfluktuasi sangat
tinggi, jauh melebihi KBI. Sebagai contoh tarif penginapan
`standar' sudah Rp 400.000. Harga BBM di Wamena Rp 15.000 /
liter, dst. Dulu bersama Pak Wawo dan 5 rekan lainnya sempat makan di
resto Padang di Tobelo, kena Rp 1,5 juta sekali makan. Sehingga dari hal
ini sudah dapat dilihat, siapapun investor-nya pasti akan ngeri untuk
men-`start up' industri (apalagi manufaktur) di KTI. Kecuali
tentunya pengusaha yang mengandalkan komoditi setempat; atau hanya yang
bermain di `ekonomi hulu'.



Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi nasional, yang hingga saat ini
belum tersedia teorinya dan juga kebijakannya. Saya teringat sedikit
pelajaran teori lokasi Pak Widiarto, yang menentukan harga produk
berdasarkan biaya produksi dan biaya transport. Biaya produksi bersifat
fixed cost dan biaya transport bersifat variable cost. Untuk harga satu
saset Rinso di Jakarta harganya Rp 2.000 misalnya, maka harga yang sama
juga berlaku di Medan, hingga mungkin sampai ke Makasar; walau produk
itu diproduksi di Tangerang. Berdasarkan nilai jarak seharusnya harga di
Jakarta lebih rendah dan di Makasar lebih tinggi. Namun dari aspek
transport cost dan pertimbangan pengusaha, ada perhitungan
`subsidi'.



Masalah `subsidi' ini yang belum terlalu terolah dalam kebijakan
kita, sehingga masih ada diferensiasi harga di berbagai wilayah. Sebagai
contoh misalnya, kebijakan penetapan harga BBM secara nasional
seharusnya juga berlaku untuk Wamena. Demikian juga biaya start-up
industri (manufaktur) dll.



Sewaktu di Asmat dulu sempat diskusi dengan teman-teman PDT, Bappenas,
dan Cifor, yang waktu itu kami mengeluhkan biaya transport Timika-Agats.
Sempat kami toleh kebijakan DAU dan dana Otsus, yang dirasa masih kurang
tepat sasaran, khususnya untuk KTI. Mungkin sedikit saran untuk otoritas
keuangan kita agar sebagian dana itu dapat diarahkan untuk subsidi
beberapa produk tertentu, misalnya BBM dan barang-barang produksi yang
dapat membangkitkan ekonomi lokal.



Demikian dulu pak, mohon pencerahannya. Salam.



-ekadj


--- In [email protected], Bambang Tata Samiadji <btsamia...@...>
wrote:
>
>
> Halo Bung Dwiagus,..salut buat Om Paul yang membudidayakan strawberry.
Tapi kayaknya tidak bisa di"ekspor" ke Jawa. Soalnya harga strawberry di
Ciwidey (Jawa Barat) yang segede buah salak itu sekilonya cuma Rp 35000
(tiga puluh lima ribu), sedangkan di Lembang agak mahal yaitu Rp 50000
(lima puluh ribu). Jauh lebih murah daripada straberry-nya Om Paul
seharga Rp 70000 (tujuh puluh ribu) sekilonya. Memang Jawa ini tanahnya
lebih produktif dan petani-petaninya bekerja efisien.
>
> Thanks. CU. BTS.


Kirim email ke