Uda HEkadj,

Kata kunci lain peningkatan "akses" - yang bisa berarti jarak dan 
kemudahan memperoleh.

Salam,
Risfan Munir 

--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> 
> Pak Nuzul ysh, terima kasih atas penjelasannya. Sebagai kelompok 
yang
> masuk dalam 'mainstream pengembang wilayah' kita tentunya punya 
ideologi
> yang lebih khas, seperti: memperpendek kesenjangan (gap) kaya-
miskin,
> pusat-pinggiran, agraris-industri, mampu-tidak mampu, dst. Atau 
dalam
> bahasa yang lebih populer saat ini sering digunakan istilah
> 'affordability', atau kesempatan yang sama oleh segenap lapisan
> masyarakat. Kerangka kebijakan nasional seharusnya bekerja pada 
landasan
> ini, sesuai amanat Konstitusi. Sehingga bila ada kebijakan publik 
yang
> tidak relevan diterapkan di suatu wilayah, maka berarti masih ada
> 'ketimpangan'; dan seharusnya program-program nasional bekerja di 
tempat
> itu.
> 
> Saya ingin mengajukan 2 contoh: satu, seperti yang saya ungkapkan 
adalah
> masalah harga BBM di Wamena, atau lebih tepat lagi 'Ibukota 
Kabupaten'
> Wamena. Terlepas dari kendala geografis dll, bukankah seharusnya 
harga
> BBM yang ditetapkan oleh Pemerintah juga berlaku di tempat 
tersebut?
> Karena harga seperti itu juga dinikmati oleh berbagai daerah yang 
jauh
> dari lokasi produksi. Bila kendala infrastruktur dan geografis 
membatasi
> hal tersebut, mungkinkah kebijakan ekonomi dapat diarahkan untuk
> mengeliminasi hal tersebut, misalnya melalui mekanisme subsidi
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1695>  ?
> 
> Dua, ayah saya selalu mengungkapkan dua titik keberhasilan Orde 
Baru,
> yaitu : Jatiluhur dan Bulog. Untuk Bulog dianggap berhasil menjamin
> ketersediaan pangan nasional, sehingga pada era itu sangat sedikit
> terdengar kasus busung lapar dll. Namun rekomendasi IMF melalui
> structural adjustment programme-nya malah menghapuskan keberadaan 
Bulog,
> sehingga saat ini pangan sebagai lapisan terbawah dari piramida 
Maslow
> itu menjadi sangat tergantung dari kebijakan impor. Dengan kata 
lain
> dalam contoh dua ini adalah : kita justru menghapus kebijakan yang
> proven menjamin ketersediaan pangan secara nasional ini, terlepas 
bila
> institusinya dulu merupakan biang KKN dsb.
> 
> Mohon pencerahan pak bila kebijakan saat ini melalui alokasi DAU, 
DAK,
> dana Otsus, dlsb telah mampu mensubstitusi kebijakan terdahulu, 
serta
> telah mampukah menjangkau aspek-aspek pengembangan wilayah ?
> 
> Demikian dulu pak. Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], Nuzul Achjar <achjar@> wrote:
> >
> > Datuk, Mamak, Uda Eka: "Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi
> nasional,
> > yang hingga saat ini belum tersedia teorinya dan juga 
kebijakannya"...
> >
> > NA: Fenomena tentang tingginya harga serta implikasi kebijakan 
yang
> datuk
> > sebutkan itu mungkin dapat dijelaskan melalui ilustrasi 
sederhana.
> Point
> > utama ilustrasi ini: solusi yang ditawarkan tergantung "paham",
> "ideologi
> > ekonomi" dan atau "ideologi politik" yang dianut. Tentu banyak 
teori
> dan
> > argumentasi dibalik paham-paham ataupun ideologi.
> >
> > Mengenai soal harga makanan yang begitu tinggi seperti contoh 
yang
> diberikan
> > pak Eka, penganut paham neoliberal akan mengatakan bahwa tidak
> perlulah
> > campur tangan pemerintah terlalu besar. Harga makanan di Tobelo 
pasti
> akan
> > turun melalui mekanisme yang diatur oleh "invisible hand" nya 
Adam
> Smith.
> >
> > Kalau harga makanan di warung Tobelo masih tetap tinggi juga, ya
> prasyarat
> > agar "invisible hand" dapat bekerja belum dipenuhi, antara lain 
masih
> > terhambatnya mobilitas faktor-faktor produksi. Bagaimana mau 
murah,
> lha
> > nggak ada akses pelabuhan yang memadai, jalannya rusak berat, 
nggak
> ada
> > warung lain yang buka agar dapat bersaing dengan warung 
sebelumnya.
> Mungkin
> > sederhanyanya kira-kira gitu barangkali
> > .
> >
> > Penganut paham "institusional" akan berpendapat lain, wah 
tingginya
> harga
> > itu kan karena masyarakatnya sudah "nggak bener", tukang tipu,
> camatnya
> > korup, banyak pungli, sehingga "transaction cost" nya tinggi. 
Walaupun
> > sumber alamnya melimpah, tetap saja daerahnya terkebelakang. 
Biar Kata
> > jalannya udah bagus, tetap saja harga di warung mahal.
> >
> > Pendekatan welfare state mungkin akan memberikan arah: karena
> kegagalan
> > pasar, pemerintah harus disediakan infrastruktur agar makin 
banyak
> warung
> > yang buka. Pajak perlu dinaikkan, siapkan kebijakan public 
service
> > obligation (PSO). Pemerintah memberi subsidi untuk kompensasi 
biaya,
> tidak
> > secara universal sama (seperti USO), tetapi tergantung dari 
kemampuan
> > masyarakatnya (willingness to pay).
> > Penganut paham sosialis yang sangat sentralistik mungkin lain 
lagi
> > ceritanya. Harga di Warung di Tobelo itu adalah akibat dari 
penguasaan
> oleh
> > private sector, oleh karena itu warung itu harus dikuasai oleh 
negara,
> > minimal harganya harus diatur oleh negara.
> > Wassalam,
> >
> > Nuzul Achjar
>


Kirim email ke