Dear rekans,

Masalah tidak berlakunya invisible hand ubkan hanya informasi yang tidak
sama dan fairness dalam perilaku ekonomi terjadi karena kekhasan waktu-ruang
kultural tempat atau antar tempat terjadinya transaksi tidak masuk dalam
perhitungan.
Yang ada cuma bidang datar (asumtif), aspek lokasi cuma faktor jarak dan
transport yang digunakan dalam bidang datar tersebut.
Padahal aspek waktu-ruang kultural suatu tempat sangat dominan terhadap
dampak ekonomi di kepulauan dengan beragam etnik (termasuk "etik" pelaku
ekonomi) di lingkungan hidup kita ini.

Salam,
Abimanyu


2009/1/30 Nuzul Achjar <[email protected]>

>
> Datuk, Mamak, Uda Eka: "Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi nasional,
> yang hingga saat ini belum tersedia teorinya dan juga kebijakannya"...
>
> NA: Fenomena tentang tingginya harga serta implikasi kebijakan yang datuk
> sebutkan itu mungkin dapat dijelaskan melalui ilustrasi sederhana. Point
> utama ilustrasi ini: solusi yang ditawarkan tergantung "paham", "ideologi
> ekonomi" dan atau "ideologi politik" yang dianut. Tentu banyak teori dan
> argumentasi dibalik paham-paham ataupun ideologi.
>
> Mengenai soal harga makanan yang begitu tinggi seperti contoh yang
> diberikan pak Eka, penganut paham neoliberal akan mengatakan bahwa tidak
> perlulah campur tangan  pemerintah terlalu besar. Harga makanan di Tobelo
> pasti akan turun melalui mekanisme yang diatur oleh "invisible hand" nya
> Adam Smith.
>
> Kalau harga makanan di warung Tobelo masih tetap tinggi juga, ya prasyarat
> agar  "invisible hand" dapat bekerja belum dipenuhi, antara lain masih
> terhambatnya mobilitas faktor-faktor produksi. Bagaimana mau murah, lha
> nggak ada akses pelabuhan yang memadai, jalannya rusak berat, nggak ada
> warung lain yang buka agar dapat bersaing dengan warung sebelumnya.  Mungkin
> sederhanyanya kira-kira gitu barangkali
> .
>
> Penganut paham "institusional" akan berpendapat lain, wah tingginya harga
> itu kan karena masyarakatnya sudah "nggak bener", tukang tipu, camatnya
> korup, banyak pungli, sehingga "transaction cost" nya tinggi. Walaupun
> sumber alamnya melimpah, tetap saja daerahnya terkebelakang. Biar Kata
> jalannya udah bagus, tetap saja harga di warung mahal.
>
> Pendekatan welfare state mungkin akan memberikan arah: karena kegagalan
> pasar, pemerintah harus disediakan infrastruktur agar makin banyak warung
> yang buka. Pajak perlu dinaikkan, siapkan kebijakan public service
> obligation (PSO). Pemerintah memberi  subsidi  untuk kompensasi biaya,
> tidak secara universal sama (seperti USO),  tetapi tergantung dari
> kemampuan masyarakatnya (willingness to pay).
> Penganut paham sosialis yang sangat sentralistik mungkin lain lagi
> ceritanya. Harga di Warung di Tobelo itu adalah akibat dari penguasaan oleh
> private sector, oleh karena itu warung itu harus dikuasai oleh negara,
> minimal harganya harus diatur oleh negara.
> Wassalam,
>
> Nuzul Achjar
>
>
>  
>

Kirim email ke