Pak Risfan ysh, saya kira maksud bapak mengenai kata kunci 'akses' (lack
of accessibility) ini adalah kunci permasalahan dalam pengembangan
wilayah. Sebelumnya kita sudah tentukan yaitu 'stabilisasi harga'. Hanya
komponen 'jarak' dalam akses ini agak sedikit rancu pak, mohon diulang
sedikit penjelasannya pak. Dulu
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2167>   kita pernah
ungkapkan justru warga yang tinggal dekat Kemayoran malah 'tidak akses'
ke pusat informasi bisnis di Kemayoran. Malah saya menemukan di puncak
pegunungan Jaya Wijaya yang dingin dan sepi itu ada sekolah pendidikan
S2 dengan fasilitas sangat lengkap.

Demikian pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Uda HEkadj,
>
> Kata kunci lain peningkatan "akses" - yang bisa berarti jarak dan
> kemudahan memperoleh.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> >
> >
> > Pak Nuzul ysh, terima kasih atas penjelasannya. Sebagai kelompok
> yang
> > masuk dalam 'mainstream pengembang wilayah' kita tentunya punya
> ideologi
> > yang lebih khas, seperti: memperpendek kesenjangan (gap) kaya-
> miskin,
> > pusat-pinggiran, agraris-industri, mampu-tidak mampu, dst. Atau
> dalam
> > bahasa yang lebih populer saat ini sering digunakan istilah
> > 'affordability', atau kesempatan yang sama oleh segenap lapisan
> > masyarakat. Kerangka kebijakan nasional seharusnya bekerja pada
> landasan
> > ini, sesuai amanat Konstitusi. Sehingga bila ada kebijakan publik
> yang
> > tidak relevan diterapkan di suatu wilayah, maka berarti masih ada
> > 'ketimpangan'; dan seharusnya program-program nasional bekerja di
> tempat
> > itu.
> >
> > Saya ingin mengajukan 2 contoh: satu, seperti yang saya ungkapkan
> adalah
> > masalah harga BBM di Wamena, atau lebih tepat lagi 'Ibukota
> Kabupaten'
> > Wamena. Terlepas dari kendala geografis dll, bukankah seharusnya
> harga
> > BBM yang ditetapkan oleh Pemerintah juga berlaku di tempat
> tersebut?
> > Karena harga seperti itu juga dinikmati oleh berbagai daerah yang
> jauh
> > dari lokasi produksi. Bila kendala infrastruktur dan geografis
> membatasi
> > hal tersebut, mungkinkah kebijakan ekonomi dapat diarahkan untuk
> > mengeliminasi hal tersebut, misalnya melalui mekanisme subsidi
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1695> ?
> >
> > Dua, ayah saya selalu mengungkapkan dua titik keberhasilan Orde
> Baru,
> > yaitu : Jatiluhur dan Bulog. Untuk Bulog dianggap berhasil menjamin
> > ketersediaan pangan nasional, sehingga pada era itu sangat sedikit
> > terdengar kasus busung lapar dll. Namun rekomendasi IMF melalui
> > structural adjustment programme-nya malah menghapuskan keberadaan
> Bulog,
> > sehingga saat ini pangan sebagai lapisan terbawah dari piramida
> Maslow
> > itu menjadi sangat tergantung dari kebijakan impor. Dengan kata
> lain
> > dalam contoh dua ini adalah : kita justru menghapus kebijakan yang
> > proven menjamin ketersediaan pangan secara nasional ini, terlepas
> bila
> > institusinya dulu merupakan biang KKN dsb.
> >
> > Mohon pencerahan pak bila kebijakan saat ini melalui alokasi DAU,
> DAK,
> > dana Otsus, dlsb telah mampu mensubstitusi kebijakan terdahulu,
> serta
> > telah mampukah menjangkau aspek-aspek pengembangan wilayah ?
> >
> > Demikian dulu pak. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [email protected], Nuzul Achjar <achjar@> wrote:
> > >
> > > Datuk, Mamak, Uda Eka: "Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi
> > nasional,
> > > yang hingga saat ini belum tersedia teorinya dan juga
> kebijakannya"...
> > >
> > > NA: Fenomena tentang tingginya harga serta implikasi kebijakan
> yang
> > datuk
> > > sebutkan itu mungkin dapat dijelaskan melalui ilustrasi
> sederhana.
> > Point
> > > utama ilustrasi ini: solusi yang ditawarkan tergantung "paham",
> > "ideologi
> > > ekonomi" dan atau "ideologi politik" yang dianut. Tentu banyak
> teori
> > dan
> > > argumentasi dibalik paham-paham ataupun ideologi.
> > >
> > > Mengenai soal harga makanan yang begitu tinggi seperti contoh
> yang
> > diberikan
> > > pak Eka, penganut paham neoliberal akan mengatakan bahwa tidak
> > perlulah
> > > campur tangan pemerintah terlalu besar. Harga makanan di Tobelo
> pasti
> > akan
> > > turun melalui mekanisme yang diatur oleh "invisible hand" nya
> Adam
> > Smith.
> > >
> > > Kalau harga makanan di warung Tobelo masih tetap tinggi juga, ya
> > prasyarat
> > > agar "invisible hand" dapat bekerja belum dipenuhi, antara lain
> masih
> > > terhambatnya mobilitas faktor-faktor produksi. Bagaimana mau
> murah,
> > lha
> > > nggak ada akses pelabuhan yang memadai, jalannya rusak berat,
> nggak
> > ada
> > > warung lain yang buka agar dapat bersaing dengan warung
> sebelumnya.
> > Mungkin
> > > sederhanyanya kira-kira gitu barangkali
> > > .
> > >
> > > Penganut paham "institusional" akan berpendapat lain, wah
> tingginya
> > harga
> > > itu kan karena masyarakatnya sudah "nggak bener", tukang tipu,
> > camatnya
> > > korup, banyak pungli, sehingga "transaction cost" nya tinggi.
> Walaupun
> > > sumber alamnya melimpah, tetap saja daerahnya terkebelakang.
> Biar Kata
> > > jalannya udah bagus, tetap saja harga di warung mahal.
> > >
> > > Pendekatan welfare state mungkin akan memberikan arah: karena
> > kegagalan
> > > pasar, pemerintah harus disediakan infrastruktur agar makin
> banyak
> > warung
> > > yang buka. Pajak perlu dinaikkan, siapkan kebijakan public
> service
> > > obligation (PSO). Pemerintah memberi subsidi untuk kompensasi
> biaya,
> > tidak
> > > secara universal sama (seperti USO), tetapi tergantung dari
> kemampuan
> > > masyarakatnya (willingness to pay).
> > > Penganut paham sosialis yang sangat sentralistik mungkin lain
> lagi
> > > ceritanya. Harga di Warung di Tobelo itu adalah akibat dari
> penguasaan
> > oleh
> > > private sector, oleh karena itu warung itu harus dikuasai oleh
> negara,
> > > minimal harganya harus diatur oleh negara.
> > > Wassalam,
> > >
> > > Nuzul Achjar
> >
>


Kirim email ke