Pak Aby , dan rekan sekalian,..
Menanggapi paragraph pak aby yang ini: Kalau kita ingin kembangkan sektor pertanian modern skala besar secara luas tapi tak bisa .. sudah ajak2 orang lain tapi tak ada yang mau dengar.... kita bisa langsung kembangkan pertanian sendirian dengan mulai dikebun sendiri membuat rumah kaca mini misalnya.... menanam 5 batang pohon duren, 5 batang pisang, 10 ekor ayam plus 100 ekor ikan lele.. dan 'sektor kita' sudah bisa mulai 'jalan' dan 'berkembang' (sendirian)... Saya jadi ingat cerita di mailing list sebelah,. Berikut saya copy pastekan di bwh ini,... ------------------------------------------------------------ Kawan-kawan semua tidak bermaksud untuk mengiklan.. Tapi hanya sekedar rasa kagum pada Om Paul Halek yang adalah seorang Hamba Tuhan yang sudah memberikan pelayanan di mana-mana bahkan sampai ke LN, dan juga yang masih muda dan tamatan Sekolah Menengah Pertanian SoE, yang tinggal di kampung Kesetnana, pinggir barat kota SoE... Saya yakin ada sekian banyak orang-orang seperti om Paul ini tinggal di berbagai pelosok NTT, yang mampu memberikan inspirasi.. Saat ini memang om Paul baru memiliki 600 polyback besar berisi strawberry.150 di antaranya sudah menghasilkan buah strawberry ranum dan ini akan berlangsung sampai dua tahun ke depan untuk setiap pohon strawberry-nya..pengembang-biakan masih terus dan akan terus dilakukan sampai seluruh lahan bercorak lereng dan bukit batu di sekitar rumah tinggal orang tuanya, dengan luas sekitar setengah hektar akan penuh dengan undak-undakan kayu berisi polyback strawberry.. Kegiatan ini berawal sejak Desember 2007 yang lalu dengan hanya satu anakan strawberry dalam satu polyback..Empat bulan kemudian berbuah, lalu terus menerus dikembangkan jumlahnya sampai seperti saat ini dengan cara membenamkan stolon-stolon yang menjulur dari strawberry pertama tersebut ke polyback-polyback lainnya.. Lambat tapi pasti strawberry om Paul yang buahnya ranum-ranum, besar, memiliki wangi khas (SoE) karena pake pupuk organic dikenal oleh beberapa warga SoE, dan satu dua dari Kupang. Dari waktu ke waktu berita baik ini tersiar melalui 'radio mulut' dari orang yang satu ke orang yang lainnya. Karena "tidak ada makan siang gratis", om Paul men-charge satu buah strawberry dengan harga Rp. 1500 - 2000 dan satu kilogram Rp. 70.000,- Tantangan ke depan sudah terbayang di mata om Paul, seluas peluang yang bakal dia nikmati..Pemasaran mungkin tidak akan susah, karena strawberry-nya om Paul ini bisa memasarkan dirinya sendiri, karena keberadaan mereka cukup massif dan tentu saja produksinya bisa massal dalam tenggat waktu yang cukup lama (2 tahun)...Hanya pengelolaan setelah panen yang harus dia pikirkan matang, agar lebih tahan lama...apalagi barang ini agak manja dan boleh dibilang elit.Lalu soal permodalan, kalau skala kegiatan ingin lebih besar lagi? Saya sangat yakin sekali "semut akan datang mendekati gula".. Dan sebelum lupa, om Paul ini bukan warga binaan sebuah LSM atau Pemerintah dan semacamnya. Dia hanya seorang "Pelayan" yang mempunyai inisiatif dan berani ambil sikap saat ini juga...! Hidup om Paul Halek dan orang-orang seperti itu! Kawan-kawan itu saja Salam dan terima kasih Vincent ----------------- Best Regards, Benedictus Dwiagus S. http://bdwiagus.blogspot.com http://bdwiagus.multiply.com "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White :::... Indo-MONEV ...::: Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on monitoring and evaluation and other related development issues including development aid works, particularly in Indonesia. Join in by sending an email to: [email protected] Find also Indo-MONEV in facebook: <http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts> http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of hengky abiyoso Sent: 29 January 2009 13:10 To: [email protected] Subject: [referensi] Re: (6) Menyemai Industri Manufaktur di KTI Milisters ysh, Kalau saya nyaris bicara hanya KTI melulu... mohon dimaafkan oleh enthusiaster pembangunan KBI dan Jabodetabek ya?....... Saya kira wacana pembangunan KTI, KBI, Jabodetabek, desa, kota, multisektoral dsb. sangat baik kalau dilakukan bareng2 secara paralel..masing2 tidak saling menolak. tapi dapat saling memperkaya.... Membangun wilayah (regional development) pada dasarnya sama artinya dengan membangun multisektoralnya yg luas... Ya membangun desanya (rural development) . ya membangun kotanya (urban development)... ya membangun pertaniannya (agriculture).. ya membangun industrinya (industries)... Ya membangun industri jasanya (service industries)... ya membangun industri manufakturnya (manufacturing industries)...ya membangun tak hanya konstruksi sipilnya yg kokoh dan dingin tapi juga arsitekturnya yg indah dan menawan.... ya mengisinya dengan SDM berkualitas.. Ya mengisinya dengan SDM penghasilan tinggi...dsb... Pokoknya diperlukan membangun multisektornya yang luas... dan bukan hanya membangun mono-mono egosektornya yang sempit.. seperti hanya membangun desa tertinggalnya saja.... membangun hanya industri perikanan dan kelautannya saja..... Pembangunan mono egosektoral pasti jalannya terseok2.. dan bukan tak mungkin akan kandas ditengah jalan.... Diwilayah tertinggal seperti KTI yg luasnya separuh wilayah Indonesia atau separuh Eropa .... ada sektor2 yang dapat seketika langsung dibangun tanpa ia rewel banyak meminta persyaratan yg aneh2.. Tapi sektor yg begini juga suka punya 'kelemahannya' pula... seperti bahwa ia tak mampu membangkitkan munculnya dampak ganda multisektoral lainnya yg luas... Satu contohnya adalah spt bidang pertanian.. Kalau kita ingin kembangkan sektor pertanian modern skala besar secara luas tapi tak bisa .. sudah ajak2 orang lain tapi tak ada yang mau dengar.... kita bisa langsung kembangkan pertanian sendirian dengan mulai dikebun sendiri membuat rumah kaca mini misalnya.... menanam 5 batang pohon duren, 5 batang pisang, 10 ekor ayam plus 100 ekor ikan lele.. dan 'sektor kita' sudah bisa mulai 'jalan' dan 'berkembang' (sendirian)... Kita juga bisa mulai dengan sektor 'hukum' misalnya. dan seorang pengacara cukup memulainya dengan mencari seorang klien dan membela perkaranya yang unik... dan esok sorenya mungkin saja wajahnya sang pengacara bahkan sudah langsung muncul diberita tv sore.. Atau dibidang kedokteran seorang dokter bisa mulai dengan kelompok kecilnya untuk buka praktek pada hari tertentu ditempat tertentu dengan tarif periksa 5ribu rp. misalnya..atau sekelompok aktivis pendidikan mulai dengan sekolah SD gratis disebuah garasi rumah misalnya... Semuanya mudah dimulai dengan sektor sendiri dan skala berapa saja. tapi apa dampak gandanya dalam menggerakkan banyak multisektor lainnya yg luas?.......... Membangun itu saya tahu. idealnya harus bottom-up (dimulai dari daerah) ..idealnya harus swadaya (dimulai dari daerah juga)... tapi apa daya...... membangun multisektoral yg luas di KTI tak bisa dilakukan hanya dengan idealisme seperti itu saja.... Membangun multisektoral yg luas di KTI, yg strateginya telah disepakati bisa dilakukan bareng2 dari berbagai lini : atas/bawah, nasional/wilayah/ desa... itu menunjukkan bahwa ia a.l. harus dilakukan mutlak secara "top-down" pula. atau "dari pusat ke daerah"pula .. atau harus dimulai dgn "membangun kota besarnya dulu didaerah"..... Agar daerah dapat memiliki "pusat layannya yg benar2 dinamis dan lebih mandiri"... Sambil pada saat yg sama "pembangunan swadaya dari bawah" juga bisa dimulai dengan pengembangan ruko desa berlantai tanah dan beratap ilalang misalnya... Dimana kedua arah ini justru saling bersinergi dan bukannya bertabrakan.... Itu semua samasekali tidak boleh diartikan sebagai "pusat selalu mendikte daerah". atau "pusat melecehkan otonomi daerah"....karena khususnya dalam pembangunan ekonomi... pada umumnya aktivitas memang mengalir secara alamiah dan manusiawi dalam geraknya yg sentripetal dari pusat keperiferi... Yg sederhana saja.. lihatlah bgmn wabah demam main Play Station atau pemakaian Blackberry misalnya.. tak mungkin ia dimulai langsung 'di daerah'.. Tapi nyatanya mengalir deras dari 'pusat' ke 'daerah'... Namun begitu otonomi daerah tak pernah merasa dilecehkan sedikitpun karenanya.. dan malah manggut2 gembira ketika barang aneh baru itu mengalir dari pusat kedaerah... dan malah daerah merasa 'gairah hidup bertambah' karenanya... Berpikir multisektoral sangatlah mutlak perlu. karena banyak sektor2 pembangunan atau sub-sub-sektor pembangunan khususnya jasa tingkat tinggi yg ia hanya dapat dimulai setelah 'infrastruktur awal'nya dipersiapkan terlebih dahulu.... lalu keberadaannya kemudian sangatlah memberi warna pada "mutu kemajuan wilayah"... Jasa dokter spesialis misalnya baru bisa muncul...... kalau sebelumnya telah ada praktek dokter umum lebih dulu (artinya apresiasi terhadap metoda pengobatan kedokteran telah duluan berkembang).. praktek dokter umum akan 'jalan' . kalau pada saat yang sama sektor 'farmasi' juga 'jalan'... seperti bahwa disekitar praktek dokter itu sudah terdapat toko 'obat'... Sektor 'toko obat' akan jalan.. kalau jumlah penduduk minimum disatu daerah memenuhi syarat population thresholdnya (satu desa yg hanya dihuni kurang dari 40KK.. akan sulit membangkitkan berbagai macam usaha jasa layanan)....dst... Dengan kata lain.. jasa rumah sakit besar dan aneka jasa dokter spesialis serta banyak jasa tingkat tinggi lainnya baru akan muncul... kalau jumlah population tresholdnya telah memenuhi syarat... Adalah tugas ahli kesehatan bgmn memberantas penyakit dan memajukan kesehatan masyarakat diwilayah.. sebaliknya adalah tugas plannerlah bgmn memikirkan skenario kemungkinan berdirinya jasa layanan strategis tingkat tinggi seperti a.l. rumah sakit besar dan dokter spesialis disatu kawasan tertinggal yg luas dengan jumlah penduduk sedikit dan terserak.... Tugas plannerlah memikirkan skenario keruangan ttg bgmn seorang dokter spesialis dapat berpraktek dan hidup layak bersama keluarganya dikawasan tertinggal... tanpa sidokter harus tersiksa krn pasien hanya mampu membayar biaya konsultasi dan pengobatan kesehatannya dengan ayam dan bbrp tandan pisang... atau bgmn agar notaris tak mengeluh.. tarip jasa umum resmi kok ditawar-tawar seperti laiknya orang mau naik becak dari Kwitang mau ke Kota.... Membangun multisektor dikawasan tertinggal sering tak selalu dapat dilakukan dengan langkah2 lurus eksplisit dan sederhana.. Tak jarang diperlukan langkah2 dan arah2 serba belak-belok tak langsung seperti laiknya seni orang bermain bilyar atau karambol... Ingin memasukkan bola "A" kelubang... sering tak ada cara lain kecuali harus menyodok bola "B" dulu. dimana "B" akan menghantam "C" dan barulah hasil sodokan "C" membuat "A" masuk kelubang target... Rumit.. tapi mulia... dan insyaallah planners akan dielu2kan oleh bangsa ini sebagai pahlawan pembangunan wilayah yg sejati..... Salam, aby

