Halo Bung Dwiagus,..salut buat Om Paul yang membudidayakan strawberry. Tapi 
kayaknya tidak bisa di"ekspor" ke Jawa. Soalnya harga strawberry di Ciwidey 
(Jawa Barat) yang segede buah salak itu sekilonya cuma Rp 35000 (tiga puluh 
lima ribu), sedangkan di Lembang agak mahal yaitu Rp 50000 (lima puluh ribu). 
Jauh lebih murah daripada straberry-nya Om Paul seharga Rp 70000 (tujuh puluh 
ribu) sekilonya. Memang Jawa ini tanahnya lebih produktif dan petani-petaninya 
bekerja efisien.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 1/29/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote:

From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: (6) Menyemai Industri Manufaktur di KTI
To: [email protected]
Date: Thursday, January 29, 2009, 6:51 AM








Pak Aby , dan rekan sekalian,.. 
 
Menanggapi paragraph pak aby yang ini: 
Kalau kita ingin kembangkan sektor pertanian modern skala besar secara luas 
tapi tak bisa …… sudah ajak2 orang lain tapi tak ada yang mau dengar…... kita 
bisa langsung kembangkan pertanian sendirian dengan mulai dikebun sendiri 
membuat rumah kaca mini misalnya…….. menanam 5 batang pohon duren, 5 batang 
pisang, 10 ekor ayam plus 100 ekor ikan lele…. dan ‘sektor kita’ sudah bisa 
mulai ’jalan’ dan ‘berkembang’ (sendirian)……… 
Saya jadi ingat cerita di mailing list sebelah,… 
Berikut saya copy pastekan di  bwh ini,….. 
 
------------ --------- --------- --------- --------- --------- ---
Kawan-kawan semua tidak bermaksud untuk mengiklan….

Tapi hanya sekedar rasa kagum pada Om Paul Halek yang adalah seorang Hamba 
Tuhan yang sudah memberikan pelayanan di mana-mana bahkan sampai ke LN, dan 
juga yang masih muda dan tamatan Sekolah Menengah Pertanian SoE, yang tinggal 
di kampung Kesetnana, pinggir barat kota SoE…..

Saya yakin ada sekian banyak orang-orang seperti om Paul ini tinggal di 
berbagai pelosok NTT, yang mampu memberikan inspirasi….

Saat ini memang om Paul baru memiliki 600 polyback besar berisi strawberry…150 
di antaranya sudah menghasilkan buah strawberry ranum dan ini akan berlangsung 
sampai dua tahun ke depan untuk setiap pohon strawberry-nya….pengembang- biakan 
masih terus dan akan terus dilakukan sampai seluruh lahan bercorak lereng dan 
bukit batu di sekitar rumah tinggal orang tuanya, dengan luas sekitar setengah 
hektar akan penuh dengan undak-undakan kayu berisi polyback strawberry….

Kegiatan ini berawal sejak Desember 2007 yang lalu dengan hanya satu anakan 
strawberry dalam satu polyback….Empat bulan kemudian berbuah, lalu terus 
menerus dikembangkan jumlahnya sampai seperti saat ini dengan cara membenamkan 
stolon-stolon yang menjulur dari strawberry pertama tersebut ke 
polyback-polyback lainnya….

Lambat tapi pasti strawberry om Paul yang buahnya ranum-ranum, besar, memiliki 
wangi khas (SoE) karena pake pupuk organic dikenal oleh beberapa warga SoE, dan 
satu dua dari Kupang. Dari waktu ke waktu berita baik ini tersiar melalui 
‘radio mulut’ dari orang yang satu ke orang yang lainnya. Karena “tidak ada 
makan siang gratis”, om Paul men-charge satu buah strawberry dengan harga Rp. 
1500 - 2000 dan satu kilogram Rp. 70.000,-

Tantangan ke depan sudah terbayang di mata om Paul, seluas peluang yang bakal 
dia nikmati….Pemasaran mungkin tidak akan susah, karena strawberry-nya om Paul 
ini bisa memasarkan dirinya sendiri, karena keberadaan mereka cukup massif dan 
tentu saja produksinya bisa massal dalam tenggat waktu yang cukup lama (2 
tahun)…..Hanya pengelolaan setelah panen yang harus dia pikirkan matang, agar 
lebih tahan lama…..apalagi barang ini agak manja dan boleh dibilang elit…Lalu 
soal permodalan, kalau skala kegiatan ingin lebih besar lagi? Saya sangat yakin 
sekali “semut akan datang mendekati gula”…. 

Dan sebelum lupa, om Paul ini bukan warga binaan sebuah LSM atau Pemerintah dan 
semacamnya. Dia hanya seorang “Pelayan” yang mempunyai inisiatif dan berani 
ambil sikap saat ini juga…..!

Hidup om Paul Halek dan orang-orang seperti itu!

Kawan-kawan itu saja

Salam dan terima kasih
Vincent
 
------------ -----
 

Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
http://bdwiagus. blogspot. com
http://bdwiagus. multiply. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 
Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts 
 


From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of hengky abiyoso
Sent: 29 January 2009 13:10
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: [referensi] Re: (6) Menyemai Industri Manufaktur di KTI
 








Milisters ysh,
  
Kalau saya nyaris bicara hanya KTI melulu….. mohon dimaafkan oleh enthusiaster 
pembangunan KBI dan Jabodetabek ya?.......  Saya kira wacana pembangunan KTI, 
KBI, Jabodetabek, desa, kota, multisektoral  dsb… sangat baik kalau dilakukan 
bareng2 secara paralel……masing2  tidak saling menolak… tapi dapat saling 
memperkaya…….. 
Membangun wilayah (regional development) pada dasarnya sama artinya dengan 
membangun multisektoralnya yg luas……… 
Ya membangun desanya (rural development) … ya membangun kotanya (urban 
development)……. ya membangun pertaniannya (agriculture)…. ya membangun 
industrinya (industries)……. Ya membangun industri jasanya (service 
industries)….. ya membangun industri manufakturnya (manufacturing 
industries)…….ya membangun tak hanya konstruksi sipilnya yg kokoh dan dingin 
tapi juga arsitekturnya yg indah dan menawan………. ya mengisinya dengan SDM 
berkualitas…. Ya mengisinya dengan SDM penghasilan tinggi…..dsb….. 
Pokoknya diperlukan membangun multisektornya yang luas……. dan bukan hanya 
membangun mono-mono egosektornya yang sempit…… seperti hanya membangun desa 
tertinggalnya saja…..… membangun hanya  industri perikanan dan kelautannya 
saja….... 
Pembangunan  mono egosektoral pasti jalannya terseok2…… dan bukan tak mungkin 
akan kandas ditengah jalan…….. 
Diwilayah tertinggal seperti KTI yg luasnya separuh wilayah Indonesia atau 
separuh Eropa …….. ada sektor2 yang dapat seketika langsung dibangun tanpa ia 
rewel banyak meminta persyaratan yg aneh2…. Tapi sektor yg begini juga suka 
punya ‘kelemahannya’ pula……. seperti bahwa ia tak mampu membangkitkan munculnya 
dampak ganda multisektoral lainnya yg luas……… 
Satu contohnya adalah spt bidang pertanian…. 
Kalau kita ingin kembangkan sektor pertanian modern skala besar secara luas 
tapi tak bisa …… sudah ajak2 orang lain tapi tak ada yang mau dengar…... kita 
bisa langsung kembangkan pertanian sendirian dengan mulai dikebun sendiri 
membuat rumah kaca mini misalnya…….. menanam 5 batang pohon duren, 5 batang 
pisang, 10 ekor ayam plus 100 ekor ikan lele…. dan ‘sektor kita’ sudah bisa 
mulai ’jalan’ dan ‘berkembang’ (sendirian)……… 
Kita juga bisa mulai dengan sektor ‘hukum’ misalnya…  dan seorang pengacara 
cukup memulainya dengan  mencari seorang klien dan membela perkaranya yang 
unik……. dan esok sorenya mungkin saja wajahnya sang pengacara bahkan  sudah 
langsung muncul diberita tv sore…… 
Atau dibidang kedokteran seorang dokter bisa mulai dengan kelompok kecilnya 
untuk buka praktek pada hari tertentu ditempat tertentu dengan tarif periksa 
5ribu rp. misalnya……atau sekelompok aktivis pendidikan mulai dengan sekolah SD 
gratis disebuah garasi rumah misalnya……… 
Semuanya mudah dimulai dengan sektor sendiri dan skala berapa saja… tapi apa 
dampak gandanya dalam menggerakkan banyak multisektor lainnya yg luas?........ 
... 
Membangun itu saya tahu…  idealnya harus  bottom-up (dimulai dari daerah) 
….idealnya harus swadaya (dimulai dari daerah juga)….. tapi apa daya...... 
membangun multisektoral yg luas di KTI tak bisa dilakukan hanya dengan 
idealisme seperti itu saja…….. 
Membangun multisektoral yg luas di KTI, yg strateginya  telah disepakati  bisa 
dilakukan bareng2 dari berbagai lini : atas/bawah, nasional/wilayah/ desa……. 
itu menunjukkan bahwa ia  a.l. harus dilakukan mutlak secara “top-down” pula… 
atau “dari  pusat ke daerah”pula …… atau harus dimulai dgn “membangun kota 
besarnya dulu didaerah”….……. Agar daerah dapat memiliki ”pusat layannya yg 
benar2 dinamis dan lebih mandiri”….. Sambil pada saat yg sama “pembangunan 
swadaya dari bawah” juga bisa dimulai dengan pengembangan ruko desa berlantai 
tanah dan beratap ilalang misalnya……. Dimana kedua arah ini justru saling  
bersinergi dan bukannya bertabrakan…….. 
Itu semua samasekali  tidak boleh diartikan sebagai “pusat  selalu mendikte 
daerah”… atau “pusat melecehkan otonomi daerah”……..karena khususnya dalam 
pembangunan ekonomi….. pada umumnya aktivitas memang mengalir secara alamiah 
dan manusiawi dalam geraknya yg sentripetal dari pusat keperiferi……. 
Yg sederhana saja…. lihatlah bgmn wabah demam main Play Station atau pemakaian 
Blackberry misalnya…… tak mungkin ia dimulai  langsung ‘di daerah’…. Tapi 
nyatanya mengalir deras dari ‘pusat’ ke  ‘daerah’….. Namun begitu  otonomi 
daerah tak pernah merasa dilecehkan sedikitpun karenanya…… dan malah manggut2 
gembira ketika barang aneh baru itu mengalir dari pusat kedaerah….. dan malah 
daerah merasa ‘gairah hidup bertambah’ karenanya……… 
Berpikir multisektoral sangatlah mutlak perlu… karena banyak sektor2 
pembangunan atau sub-sub-sektor pembangunan khususnya jasa tingkat tinggi yg ia 
hanya dapat dimulai setelah ‘infrastruktur awal’nya dipersiapkan terlebih 
dahulu…….. lalu  keberadaannya kemudian sangatlah memberi warna pada “mutu 
kemajuan wilayah”….. 
Jasa dokter spesialis  misalnya baru bisa muncul…….... kalau sebelumnya telah 
ada praktek dokter umum lebih dulu (artinya apresiasi terhadap  metoda 
pengobatan kedokteran telah duluan berkembang)…… praktek dokter umum akan 
‘jalan’ … kalau pada saat yang sama sektor ‘farmasi’ juga ‘jalan’….. seperti 
bahwa disekitar praktek dokter itu sudah terdapat toko ‘obat’……. 
Sektor ‘toko obat’ akan jalan.. kalau jumlah penduduk minimum disatu daerah 
memenuhi syarat population thresholdnya (satu desa yg hanya dihuni kurang dari 
40KK…… akan sulit membangkitkan berbagai macam usaha jasa layanan)……..dst….. 
Dengan kata lain…… jasa  rumah sakit besar dan aneka jasa dokter spesialis 
serta banyak jasa tingkat tinggi lainnya baru akan muncul….. kalau jumlah 
population tresholdnya telah memenuhi syarat……… 
Adalah tugas ahli kesehatan bgmn memberantas penyakit dan memajukan kesehatan 
masyarakat diwilayah…… sebaliknya adalah tugas plannerlah bgmn memikirkan 
skenario kemungkinan berdirinya jasa layanan strategis tingkat tinggi seperti 
a.l. rumah sakit besar dan dokter spesialis disatu kawasan tertinggal yg luas 
dengan jumlah penduduk sedikit dan terserak…….. 
Tugas plannerlah memikirkan skenario keruangan ttg bgmn seorang dokter 
spesialis dapat berpraktek dan hidup layak bersama keluarganya dikawasan 
tertinggal….. tanpa sidokter harus tersiksa krn  pasien hanya mampu membayar 
biaya konsultasi dan  pengobatan  kesehatannya dengan ayam dan bbrp tandan 
pisang….. atau bgmn agar notaris tak mengeluh….  tarip jasa umum resmi kok 
ditawar-tawar seperti laiknya  orang mau naik becak dari Kwitang mau ke 
Kota…….. 
Membangun multisektor dikawasan tertinggal sering tak selalu dapat dilakukan 
dengan langkah2 lurus eksplisit dan sederhana…… 
Tak jarang diperlukan langkah2 dan arah2 serba belak-belok tak langsung seperti 
laiknya seni orang bermain bilyar atau karambol….. 
Ingin memasukkan bola “A” kelubang….. sering tak ada cara lain kecuali harus 
menyodok bola “B” dulu… dimana “B” akan menghantam “C” dan barulah hasil 
sodokan “C” membuat “A” masuk kelubang target……… 
Rumit…… tapi mulia….. dan insyaallah planners akan dielu2kan oleh bangsa ini 
sebagai pahlawan pembangunan wilayah yg sejati..……… 
  
Salam, 
aby 

 
 














      

Kirim email ke