Pak BTS

Kadang malah jadi tantangannya, gemanah sebuah pikir dan rasa itu dicarikan
ukurannya,. paling gak ada proxy-nya,.. 

Bahkan ada orang yang nyari model empiris untuk kualitas hidup dan sebuah
kebahagian,. 

 

Mungkin saja nanti ada model empiris untuk sistem pengamatan spiritual,.. 

Tapi ya mungkin konsumsinya terbatas,.. Dan memang bukan untuk solusi secara
langsung,... tapi mungkin bisa menawarkan inspirasi yang membangun jalan
setapak menuju solusi,.

Seperti pengalaman spiritual Mbah Surip (alm.) yang menawarkan inspirasi
untuk orang lain mencari solusinya masing-masing dalam mencari arti sebuah
ketulusan,kepolosan, dan keriangan,. 

Ha,.. ha,.. ha,. 

 

 

Regards,

 B.Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of Btatas
Sent: 04 August 2009 22:38
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ?

 

  

Ysh Pak Djarot dan rekan sekalian.

 

Saya sebenarnya tidak tertarik mengikuti soal-soal yang keramat. Tapi
tulisan Pak Djarot menggelitik saya untuk ikut bertanggap. Karena yang saya
tanggapi bukan soal keramat, maka subjek keramat  saya ganti (sorry buat
yang menginisiasi subjek  keramat).

 

Dikatakan oleh Pak Djarot bahwa bahwa menata ruang dengan logika akal
(deposit pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka
perlu dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang
sehingga fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. 

 

Yang saya garis bawahi bahwa logika akal dan empiris tidak memadai sehingga
diperlukan peran aktif kesadaran. Dikatakan sebelumnya bahwa yang dimaksud
dengan aktif kesadaran itu suatu fenomenologi, yaitu dimensi supranatural
dengan logika tersendiri. Dikatakan juga bahwa supranatural itu semacam
meditasi atau refleksi. 

 

Bagi saya yang berfilsafat sederhana, logika akal dan empiris sudah memadai
untuk menemukan solusi. Kalaupun sering logika akal dan empiris itu kurang
lengkap atau ternyata hasilnya kurang memadai, bukan karena pendekatan yang
dilakukan salah, tapi mungkin informasinya tidak lengkap dan sahih, atau
deposit pengetahuannya masih kurang tajam, atau mungkin dialektika yang
digunakan kurang tepat. Toh seandainya hasil  logika pikir dan empiris itu
tidak sempurna, kurang memadai, atau bahkan belakangan baru diketahui
sebagai salah, itu tidak fatal atau kesalahan karena kebenaran itu sering
muncul dari kesalahan-kesalahan. Jadi semua hasil logika pikir dan empiris
tidak langsung jadi, harus melalui proses uji coba, terus menerus diperbaiki
menuju presisi kesempurnaan yang tak pernah sempurna. Contohnya dulu
komputer menggunakan punch-card dengan mesin segede gajah, melalui proses
perbaikan, sekarang hanya segede notebook. Toh proses ini tidak perlu ada
unsur supranatural ataupun meditasi, tapi hasil logika akal dan empiris yang
menerus.

 

Dimensi lain yaitu supranatural/fenomenologi walaupun katanya punya logika
sendiri, menurut saya itu bukan logika atau alat pikir, karena sulit mencari
ukurannya. Menurut saya itu rasa, bukan pikir. Rasa itu relatif dan setiap
orang bisa berbeda. Kalau dimensi supranatural didiskusikan dalam tataran
ilmiah, saya khawatir akan lari kemana-mana tdak karuan, karena setiap orang
punya kadar meditasi berbeda-beda, tidak ada kesepakatan, akhirnya tidak ada
solusi  praktis. Bagi insan yang punya sensitifitas tinggi karena kekuatan
supranatural yang dimiliki akan bisa menikmati perihal keindahan unik dari
objek, bisa merasakan keramatisasi mistis yang menggetarkan.... ya silakan
saja dinikmati, tapi bisakah ditularkan dalam bentuk solusi? Atau mungkin
dimensi ini hanya bisa dalam skala kecil dan produk seni, seperti yang
dicontohkan.

 

Demikian Pak Djarot logika sederhana saya.. ha...ha...ha...(ketawanya Mbah
Surip, Inalillahi wainalilahi rojiun).

 

Thanks. CU. BTS.

 

 

 

----- Original Message ----- 

From: Djarot Purbadi <mailto:[email protected]>  

To: [email protected] 

Sent: Tuesday, August 04, 2009 12:21 AM

Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

 

  

Kirim email ke