Kang Ibn,
saya menganalogikan bahwa RTRW itu dengan keputusan strategis yang
memang harus diterjemahkan.
Sangat tidak mungkin RTRW itu bisa operasional tanpa "perangkat" lainnya
(kalau sistemnya discretionary) seperti antara lain: zoning fegulation,
gazzette dsb. Kalau dia regulatory, maka analog dengan tingkat keputusan
yang strategis --> taktis --> teknis, maka RTRW --> RDTR --> RTR.
Salam,
Roos Akbar
On 2/1/10 5:36 PM, Ibnu Taufan wrote:
mBangTS,
SETUJU sekali .. RTRW itu memang harus di breakdown agar bisa "lebih
operasional" setidaknya SKPD bisa menyusun RKPD-nya ..dan pemangku
kepentingan "lain" juga merasa punya kepentingan untuk mewujudkan
tujuan/sasaran RTRW ..
Pada era UUPR 1992, seingat saya BKTRN pernah menugaskan Ditjen Bangda
bersama Bappenas untuk mengelobarasikan RTRW Kabupaten menjadi RPJM
melengkapi Repelitada (yg waktu itu hampir sekarat juga, atau juga
pengganti Poldas-nya) .... kenapa usaha bagus seperti itu kok berhenti
dan tidak pernah kedengaran lagi ...
Jangan sampai sudah banyak RTR malah hutan produksi dilibas, kantor
bupati ada di dalam kawasan hutan lindung, KP dikeluarkan bupati di
kawasan lindung.... hayaaa ..
Wassalam,
IBNU TAUFAN
APPMI I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I
0816-940978 I Planner & Community Development
2010/2/1 Bambang Tata Samiadji <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
He--he-he..betul juga sih. Ngeri ya... Itu bisa terjadi kalau
manusia tidak mau belajar, tidak mau kerja sama, maunya sendiri,
dan tidak ngikuti aturan.
Sebetulnya ada RTR yang bisa mengelola untuk menghindarkan hal
demikian. Tapi karena RTR itu berjangka panjang, tidak di "break
down" ke jangka menengah, sehingga pemangku kepentingan merasa
kurang andil...kalaupun punya andil...toh tidak bisa menikmati
karena keburu mati. Usul saya perlu dibuat RTRJM (Rencana Tata
Ruang Menengah). Yang dimaksud dengan jangka menegah adalah lebih
1 tahun dan tidak melebihi masa jabatan kepala daerah.
Thanks. CU. BTS.
--- On *Mon, 2/1/10, [email protected]
<mailto:[email protected]> /<[email protected]
<mailto:[email protected]>>/* wrote:
From: [email protected] <mailto:[email protected]>
<[email protected] <mailto:[email protected]>>
Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia
To: [email protected] <mailto:[email protected]>
Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM
Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa
Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota.
Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar
rumah udah macet.
Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan
udah diklakson.
Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi
Subuh, pulang Isya.
Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan
Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN
diintip orang.
Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh
banjir dimana mana.
Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak
harum mewangi.
Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah.
Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua.
Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu
(baca pake Dialek Roma Irama)
Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi
beda hargenye.
Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar.
Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua..
Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma
bisa bikin PNPM busway, eh Suramadu bisa deng.
Iman tea.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
------------------------------------
Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo>! Groups Links
(Yahoo! ID required)
[email protected]
<http://us.mc462.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>