Bapak/Ibu ysh, Membangun perkotaan tanpa membangun perdasaan saya kira tidak akan membantu menjaga keberlangsungan kota-desa secara berkesinambungan. RTR memang diperlukan sebagai alat. Tetapi hanya sebagai syarat perlu saja. Syarat cukupnya cukup banyak.. Dan kita harus memikirkan tantangan perkembangan kota ini secara bersama. Tanpa memperkuat sektor primer, perkembangan kota (dan desa) hanya semu semata. Secara seyektif saya melihat kota2 kecil menjadi tidak berkembang (mungkin sekali malah menurun) akibat menurunnya kapasitas sektor primer.
Sebagai contoh, kota2 antara Purwokerto-Jogja (kebetulan saya bisa melihat perkembangannya dalam 10-20 tahun ini). Kota2 seperti Gombong, Karanganyar, Kutowinangun, Kutoarjo terlihat makin sepi. Mungkin yang agak menggeliat di ibukota kabupaten, itu juga hanya pada tanggal muda saja. Kota2 kecil ini sekarang menjadi sangat tergantung pada kota, khususnya Jakarta. Tenaga kerja yg bekerja di perkotaan menjadi penolong kehidupan kota2 kecil ini. Setalah praktis sektor primer (pertanian) tidak bisa lagi menopang kehidupan kota2 kecil ini. Di sisi lain sektor manufaktur di perkotaan tren-nya tidak hanya mengalami pelambatan, tapi juga penurunan kapasitas. Khususnya pada industri manufaktur padat karya. Pada gilirannya 'injeksi ekonomi'' kota besar ke kota kecil lewat tenaga kerjanya tidak dapat diharapkan lagi. Membangun kota tidak hanya membangun kota2 besar, tapi juga membangun kota2 kecil seperti saya sebutkan di atas. Kota2 kecil tidak akan bisa bertahan tanpa adanya dukungan dari sektor primer/pertanian. Sementara revitalisasi pertanian (dan juga program2 lainnya) itu sendiri tidak pernah jelas ke mana arahnya. Mohon maaf sebelumnya Salam, Moris

