Rekan Moris Nuaimi ysh,
++++: Membangun perkotaan tanpa membangun perdasaan saya kira tidak akan membantu menjaga keberlangsungan kota-desa secara berkesinambungan. memang diperlukan sebagai alat. Tetapi hanya sebagai syarat perlu saja. Syarat cukupnya cukup banyak.. Dan kita harus memikirkan tantangan perkembangan kota ini secara bersama. Tanpa memperkuat sektor primer, perkembangan kota (dan desa) hanya semu semata. >>>>: setuju….. ++++: Secara seyektif saya melihat kota2 kecil menjadi tidak berkembang (mungkin sekali malah menurun) akibat menurunnya kapasitas sektor primer. >>>>: trend diseluruh dunia bahklan di ASpun demikian, ada kota2 (mungkin jg >>>>negara bagian) yg jumlah penduduknya berkurang krn kepindahan kekota2 >>>>besar…. Secara lokal/ regional mungkin kita melihatnya sbg sesuatu yg >>>>kurang sehat … namun dari kacamata nasional mungkin ini mrpkan adjustment >>>>menuju efisiensi …..krn nyatanya perekonomian dikota2 besar sbg ‘mesin >>>>kehidupan’ nyatanya bisa bekerja jauh lbh efisien dibanding kota2 kecil dan >>>>desa ……..kepadatan penduduk yg meminimumkan jarak ++++: Sebagai contoh, kota2 antara Purwokerto-Jogja (kebetulan saya bisa melihat perkembangannya dalam 10-20 tahun ini). Kota2 seperti Gombong, Karanganyar, Kutowinangun, Kutoarjo terlihat makin sepi. Mungkin yang agak menggeliat di ibukota kabupaten, itu juga hanya pada tanggal muda saja. Kota2 kecil ini sekarang menjadi sangat tergantung pada kota, khususnya Jakarta. Tenaga kerja yg bekerja di perkotaan menjadi penolong kehidupan kota2 kecil ini. >>>>: Secara tak lsg pd dasarnya rekan Mori telah atau sedang berbicara ttg >>>>sistem kota2 kita (secara nasional/ regional) dan jg ttg hirarkhinya >>>>pula…….. hanya saja roman2nya rekan Mori lupa bhw kota2 spt Gombong, >>>>Karanganyar, Kutowinangun, Kutoarjo itu dari sejak kapanpun pada dasarnya >>>>tidak pernah bersikap lantang menuntut hak demokrasi utk diurus sama spt >>>>bgmn kota2 besar dgn jumlah2 penduduk yg lbh besar spt Yogya, Solo atau >>>>Purwokerto menerima prioritas pembangunan yg lbh besar……. Kita tak boleh >>>>lupa bhw sebelum Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan membuka alas >>>>Mentaok dan mendirikan kerajaan lalu kini jadi kota Yogyakarta …..para >>>>deretan kota2 tsb diatas belumlah lahir … dan kalaupun mereka akhirnya >>>>lahir awalnya tetap saja mulai dari embrio berupa dukuh dgn bberapa KK >>>>pionir pemukiman pertanian …..dimana mrk merasa membutuhkan perlindungan >>>>Yogya, maka mengakui berada dibawah kekuasaan Yogya ….lalu seiring >>>>berkembangnya Mataram maka bbrp dukuh itu naik ranknya menjadi desa yg dikepalai oleh lurah …. Lalu bbrp buah desa lambat laun menjadi kota kecamatan yg mungkin dikepalai oleh akuwu atau tumenggung atau entah apa namanya ….lalu pd tahap berikutnya lagi bbrp desa lain naik statusnya menjadi kota kecamatan dan kota2 kecamatan generasi pertama tadi naik ranknya menjadi kota2 kabupaten …dan hal yg l/k. sama kiranya banyak berlaku dibanyak tempat diseluruh dunia….. Pernyataan ini setengahnya menunjukkan bhw scr tak sadar anda sesungguhnya percaya ttg adanya ‘hirarkhi kota’ juga … sesuatu yg bbrp hari lalu Dr. Djarot dari Yogya sempat tak mempercayai hal itu (entahlah sekarang) krn akibat berita yg dibawa oleh musafir ahli planologi dari AS yg kebetulan berkenan berkunjung kenegeri kita yg l/k menurut Dr. Djarot dikatakan bhw budaya hirarkhi kota itu bukanlah bagian dari budaya habitat kita, dan asalnya adlh dari Chicago dan Los Angeles sana, sesuatu yg menurut beliau amat tidak cocok dan hanya dicoba dipaksakan saja (termasuk menurutnya oleh saya) disini……. ++++: Setalah praktis sektor primer (pertanian) tidak bisa lagi menopang kehidupan kota2 kecil ini. >>>>: Tentu saja bisa laah…. Dulu saja dizaman Panembahan Senopati bisa kok, >>>>apalagi sekarang ……jangan lupa bhw dizaman Mataram tak ada yg namanya APBD, >>>>sekarang ada lho ….baru dari sini saja dampak gandanya sdh luar biasa… bl >>>>dari sektor lainnya….. ++++: Di sisi lain sektor manufaktur di perkotaan tren-nya tidak hanya mengalami pelambatan, tapi juga penurunan kapasitas. Khususnya pada industri manufaktur padat karya. >>>>: Walau lambat, namun trend industri manufaktur kita terus meningkat…. >>>>Bgmnpun upah lbh murah dibanding dinegara maju membuat perusahaan >>>>transnasional memfilialkan (menyemai) industri manufakturnya kenegara2 >>>>sedang berkembang…….. ++++: Pada gilirannya 'injeksi ekonomi'' kota besar ke kota kecil lewat tenaga kerjanya tidak dapat diharapkan lagi. >>>>: Akh ya tetap saja bisa dong asalkan pertumbuhan ekonomi terus baik ……spt >>>>dgn angka diatas 4.5% misalnya………. ++++: Membangun kota tidak hanya membangun kota2 besar, tapi juga membangun kota2 kecil seperti saya sebutkan di atas. >>>>: Sebenarnya yg namanya membangun kota2 kecil –dan bukan kota besar—itu sdh >>>>sejak lama dicanangkan …. setidaknya dimasa sekian lama orde baru, dan >>>>pernah diucapkan oleh Hariry Hadi Deputi Bappenas …….sesuatu yg kala itu >>>>dipercaya sbg kebenaran krn berita yg disampaikan oleh Friedman dan >>>>Douglass (1976) yg mengatakan bhw negara2 Asia tak pantas mengembangkan >>>>kota2 (besar) dan hanya pantas mengembangkan kota2 (kecil) diladang >>>>(agropolitan) saja ……sesuatu yg F&D harus menjilat ludah mereka sendiri krn >>>>ternyata kota2 di Asia berkembang pesat menjadi metropolitan bahkan >>>>megapolitan …… Pd dasarnya kota2 kecil bukanlah disiksa atau dihisap oleh kota2 besar lalu merana….. itu adlh pandangan2 yg rasanya tdk tepat ….. yg sepertinya terjadi adlh bhw kota2 kecil dan desa itu baik sesudah atau sebelum LA dan Chicago school memang secara historik dan secara damai menjadi kota2 bawahan dari kota besar terdekatnya, yg semuanya saling terpadu berbagi fungsi …….tak ubahnya pd sebuah rumah besar ……yg namanya kamar pembantu, wc atau gudang bukanlah ruang yg dihinakan oleh kamar utama/ oleh ruang tamu yg mewah…… ruang2 itu semuanya secara terpadu saling bekerjasama mengemban fungsi masing2 ……bayangkan kalau tidak ada kamar pembantu, masak iya nyonya rumah mau pembantunya tidur bertiga bersama suaminya?...... kota2 besar dgn multifungsinya yg luas memang hanya akan ideal dan efisien bila semua unit2 ekonomi dan pekerja dapat saling berdekatan…. Agar muncul efisiensi biaya dan waktu perjalanan…. Lagipula kota2 besar hrs berinteraksi dgn kota2 negara lain diantaranya utk soal impor hp utk mbak Parti dan mas Bejo dikampung…. Juga utk ekspor, utk menyambut kedatangan wisatawan dsb….. apa yg sering dikeluhkan oleh smntr pihak bhw kota2 kecil tak berdaya dihisap oleh kota besar, pdhal itu adlh bentuk dari spesialisasi….. bagi migran kota besr adlh tempat mencari nafkah dan kampung serta kota kecil bisa saja adlh tempat utk melahirkan n membesarkan anak2 serta utk tmpt istirahat hari tua para orangtua……. Pemda dgn para staf dan keluarganya jg selalu akan menghidupkan perekonomian daerah…..sekali lagi ini adlh masalah spesialisasi dan efisiensi fungsi2 wilayah, kota dan desa……. ++++: Kota2 kecil tidak akan bisa bertahan tanpa adanya dukungan dari sektor primer/pertanian. >>>>: ini saya kira adlh pernyataan yg terlampau umum dan terlampau luas dan >>>>kurang menjelaskan apa yg sesungguhnya secara fair sdg terjadi….. selepas >>>>revolusi industri ….kita semua melihat bhw semakin banyak dan semakin >>>>beragam saja produk2 yg diciptakan oleh manusia dan itu tiba2 diklaim sbg >>>>‘kebutuhan mutlak’ dari manusia …..seorang ibu dari wonogiri yg menjadi >>>>penjaja pecel di jkt mengaku ingin hasilnya utk membelikan sepeda mini utk >>>>anaknya ……dikampung hanya anaknya yg belum memilikinya ….dan ia merasa >>>>sulit mendapatkan nilai tambah dikampung utk membeli keperluannya itu….. >>>>yg lain mengaku ingin membeli spd motor baru (istri jual pecel, suami >>>>ngojek), membangun rumah dikampung dsb….. jadi desa dan kota kecil malah >>>>sebenarnya ‘surga’ utk orang kota dpt berlibur, hidup santai tanpa hrs >>>>berhadapan dgn ketergesa2an, gelayutan dan berdesakan diangkutan umum, >>>>kemacetan sehari2 dan polusi…… tentu saja desa dan kota kecil oleh mereka yg berjiwa wiraswasta dpt dibuat peluang menjadi ruang yg murah utk usaha2 pertanian dan industri kecil……. ++++: Sementara revitalisasi pertanian (dan juga program2 lainnya) itu sendiri tidak pernah jelas ke mana arahnya. >>>>: Semuanya walau merangkak tentu trendnya semakin membaik ……beras nampak >>>>mulai sering swasembada, kadang ekspor, kadang perlu sedikit impor utk >>>>pengaman, areal kebun tebu kabarnya diperluas utk peningkatan produksi >>>>gula, demikian jg kedelai, dsb …..semuanya perlu waktu dan tak mungkin >>>>seorang presiden dari partai manapun akan mampu mengubah keadaan dalam >>>>sekejap…….. ++++: Mohon maaf sebelumnya >>>>: Sayapun mohon maafnya juga, namun amat berterimakasih anda telah berkenan >>>>mengeluarkan posting anda sehingga ini membuka kesempatan diskusi kita >>>>…..mohon anda berkenan lbh sering lagi mengeluarkan pendapat ttg >>>>ketidakpuasan yg nampak, sehingga kita dpt mendiskusikannya lagi pd >>>>kesempatan berikut……mohon koreksinya juga dan salam, aby --- On Mon, 2/1/10, Moris Nuaimi <[email protected]> wrote: From: Moris Nuaimi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia To: [email protected] Date: Monday, February 1, 2010, 9:06 PM Bapak/Ibu ysh, Membangun perkotaan tanpa membangun perdasaan saya kira tidak akan membantu menjaga keberlangsungan kota-desa secara berkesinambungan. RTR memang diperlukan sebagai alat. Tetapi hanya sebagai syarat perlu saja. Syarat cukupnya cukup banyak.. Dan kita harus memikirkan tantangan perkembangan kota ini secara bersama. Tanpa memperkuat sektor primer, perkembangan kota (dan desa) hanya semu semata. Secara seyektif saya melihat kota2 kecil menjadi tidak berkembang (mungkin sekali malah menurun) akibat menurunnya kapasitas sektor primer. Sebagai contoh, kota2 antara Purwokerto-Jogja (kebetulan saya bisa melihat perkembangannya dalam 10-20 tahun ini). Kota2 seperti Gombong, Karanganyar, Kutowinangun, Kutoarjo terlihat makin sepi. Mungkin yang agak menggeliat di ibukota kabupaten, itu juga hanya pada tanggal muda saja. Kota2 kecil ini sekarang menjadi sangat tergantung pada kota, khususnya Jakarta. Tenaga kerja yg bekerja di perkotaan menjadi penolong kehidupan kota2 kecil ini. Setalah praktis sektor primer (pertanian) tidak bisa lagi menopang kehidupan kota2 kecil ini. Di sisi lain sektor manufaktur di perkotaan tren-nya tidak hanya mengalami pelambatan, tapi juga penurunan kapasitas. Khususnya pada industri manufaktur padat karya. Pada gilirannya 'injeksi ekonomi'' kota besar ke kota kecil lewat tenaga kerjanya tidak dapat diharapkan lagi. Membangun kota tidak hanya membangun kota2 besar, tapi juga membangun kota2 kecil seperti saya sebutkan di atas. Kota2 kecil tidak akan bisa bertahan tanpa adanya dukungan dari sektor primer/pertanian. Sementara revitalisasi pertanian (dan juga program2 lainnya) itu sendiri tidak pernah jelas ke mana arahnya. Mohon maaf sebelumnya Salam, Moris

