Pak Eka, jika membicarakan ruang dan kekuasaan saya teringat Parangtritis, yang 
menunjukkan fenomena bagaimana terjadi powerplay di kawasan itu dan 
menghasilkan bentukan ruang yang kita saksikan sampai saat itu (2003). Apakah 
powerplay masih berjalan dan mendinamiskan keruangan Parangtritis, saya kira 
masih terjadi deh.

Menurut Guru saya, power yang ada di Parangtritis cenderung kepada konsep power 
yang dirumuskan oleh Focault. Power bukan lagi terakumulasi ke dalam sebuah 
institusi yang masif dan solid, melainkan sudah terbagi-bagi dan terpecah-pecah 
menjadi banyak, kecil-kecil namun militan !!!! Fenomena power yang seperti itu 
memang sungguh ada di Parangtritis dan menjadi penciri utama karakter ruang 
yang terbentuk. Power itu bahkan saling berinteraksi dan membentuk anyaman yang 
dinamis, maka bentuk keruangannya juga dinamis.

Jika kita belajar dari Parangtritis kemudian kita transfer ke fenomena lain, 
kota kecil misalnya, saya kira teori ini masih relevan. Artinya, power semacam 
itu perlu dipertimbangkan ketika kita membicarakan bagaimana mem-planningnya, 
yang memahami karakter lokalitas sebagai basis yang tidak bisa diabaikan !!!!

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 3/4/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Gagalnya Politik Tata Ruang
To: [email protected]
Date: Thursday, March 4, 2010, 7:07 PM







 



  


    
      
      
      

Pak ATA dan rekan2 ysh,



Sebenarnya ada hal yang kurang kita sadari selama ini kalau setiap

membicarakan 'ruang' sebenarnya kita sedang membicarakan 'kekuasaan'.

Seperti contoh bapak, ruang seseorang dalam rumah adalah 15 m2, saya

kira maksudnya adalah kekuasaan seseorang untuk bergerak leluasa di

dalam rumah adalah berbasis minimal 15 m2, apakah demikian pak? Termasuk

juga penzonaan, adalah menentukan zona kekuasaan pada individu/kelompok

untuk melakukan aktivitas tertentu pada ruang tersebut. Bila membaca Il

Prince kesan ini kuat sekali. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, abimanyu takdir alamsyah

<takdi...@.. .> wrote:

>

> Pak Yayat ysh,

>

> Mungkin perlu juga dicermati, apakah produk tata ruang yang berlaku

(ataupun

> dilanggar) sudah cukup diberikan informasi memadai dan acuan sebagai

bagian

> dari "early warning system" dan "fire (disaster) escape system" oleh

penentu

> kebijakan, penyusun dan ahlinya.

> Kalau tidak, berarti sistem tata ruang lama ternyata termasuk salah

satu

> bencananya.. ..

>

> Salam,

> ATA

>

> 2010/3/1 Andi Plano andipl...@.. .





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke