Mas Djarot ysh, saya kira Maslow tidak membicarakan standar tetapi lebih merupakan konseptualisasi kebutuhan individu berdasarkan kriteria tertentu yang cenderung sangat subyektif dan kualitatif. Kalau dijadikan dasar standar ya perlu tahu dulu dikawasan tersebut apa kaitannya antara pengertian savety atau security antar warga komunitasnya dengan luasan yang dibutuhlkan. Apalagi kalau individunya memiliki multi status...
Salam, ATA 2010/3/15 - ekadj <[email protected]> > > > Pak Djarot ysh, saya kurang tahu bila ada yang mengkaji standar ini > menggunakan Maslow, dari kenyang sampai mejeng. Saya kira mungkin maksudnya > dari 'keluarga' berpenghasilan sangat-rendah sampai super-tinggi. > Klasifikasi standar perumahan dulu yang saya ketahui : permanen, > semi-permanen, dan sederhana; tapi kan ada kelas lain lagi: > sangat-sederhana, s/d RS7 (rumah sangat sederhana sangkin sederhananya > semakin sumpek saja). Lain dengan standar penghasilan, ada ukuran > minimalnya: UMR. > Namun 'fatwa' Pak ATA cukup menarik, bisa menjadi pegangan awal. Pengertian > 15 m2 bisa berarti totalitas ruang 2 dimensi untuk ukuran minimal > penghasilan. Jadi untuk rumah tipe 45 m2 bisa menampung 3 orang, misalnya. > Namun perlu juga standar 'sangat minimal'. Untuk kasus perkotaan, 'standar > kuasa-orang' ini bisa diterjemahkan ke dalam 3 dimensi, jadi satu orang > butuh 15 m3 untuk 'bermukim', misalnya. > Di beberapa negara sudah digunakan standar ruang untuk penggunaan lahan > tertentu, dan berguna dalam traffic impact analysis dan spatial > controlling. Seperti misalnya pusat perbelanjaan dengan ukuran luas lantai, > rumah sakit dengan jumlah tempat tidur rawat inap, bioskop dengan jumlah > kursi, dst. > Siapa tahu Pak Suwardjoko, Pak Idjaz dkk ada menyimpan standar seperti ini. > Salam. > > -ekadj > > > 2010/3/15 Djarot Purbadi <[email protected]> > >> >> >> Pak Eka, apakah pernah ada kajian tentang standar ruang yang >> mendasarkan kajiannya pada teori kebutuhan dari Maslow ? Saya kira bicara >> standar ruang banyak pendekatannya, juga misalnya menggunakan kategori >> seperti di ekonomi: primer, sekunder, tersier, dsb. Letak kearifan lokal >> dalam standar juga bisa dicari, sebaiknya dimana dan kemudian standarnya >> bagaimana. Sementara begiru, modem di rumah ngadat, jadi sedang jarang >> online...maaf >> >> >> Salam, >> >> Djarot Purbadi >> >> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] >> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] >> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com >> >> --- On *Fri, 3/12/10, ffekadj <[email protected]>* wrote: >> >> >> From: ffekadj <[email protected]> >> Subject: [referensi] standar ruang >> To: [email protected] >> Date: Friday, March 12, 2010, 8:33 AM >> >> >> >> >> Pak ATA yth, dari pembahasan ini saya kira sudah kita temukan sesuatu >> yang mendasari kebutuhan standar ruang yang terukur sesuai amanat >> undang-undang, dari 3 komponen : >> >> 1 standar pelayanan minimal >> >> 2 standar kualitas lingkungan >> >> 3 daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. >> >> Unit analisisnya adalah 'kuasa-orang' , dalam fokus individu maupun >> kelompok. Kalau ukuran kelompok dulu pernah dikembangkan almarhum >> Soefaat dan DPMB, dan belum ada pengembangan lain setelah itu, kecuali >> secara informal dan nonformal. Untuk ukuran individu, sebenarnya ini >> dapat mengarah pada kepentingan politik dan penegakan hukum. >> Mudah-mudahan ada yang mengembangkan di masa depan. >> >> Hal yang menarik adalah diberikannya keleluasaan untuk membangun >> 'standar' ini dalam berbagai skala pemerintahan, mulai nasional hingga >> lokal, sehingga sebenarnya dapat juga menjangkau 'kearifan lokal'. >> Salam. >> >> -ekadj >> >> --- In refere...@yahoogrou >> ps.com<http://mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>, >> abimanyu takdir alamsyah >> >> <takdi...@.. .> wrote: >> > >> > Pak Ekadj dan rekans ysh, >> > >> > Banyak sudut pandang maupun dimensi yang dapat kita gunakan dalam >> menilai >> > esensi suatu ruang. >> > Sudut pandang teknis (PU misalnya) menghitung volume minimal tertentu >> untuk >> > ketersediaan O2 atau berfungsinya sirkulasi udara dalam satu ruang >> dalam >> > waktu tertentu, dari segi policy atau politik mungkin cenderung >> menggunakan >> > ukuran hak atau kuasa sebagai ukurannya, sudut pandang sosial-ekonomi >> > menimbang aspek efisiensi biaya pengadaan, operasional maupun sumber >> daya >> > yang digunakan hingga efektifitas pengelolaannya, pertimbangan >> sosial-budaya >> > menuntut kesesuaiannya dengan harkat kemanusiaan dan nilai kultural >> yang >> > diwakilinya, sedangkan dari sudut lingkungan mempertimbangkan berapa >> besaran >> > suatu tempat hidup dapat mendukung bekerjanya sistem eko yang sehat >> secara >> > biogeofisik maupun antropogebik bagi yang menempatinya dalam suatu >> periode >> > tertentu. >> > Saya sendiri belum sempat menguji berapa sesungguhnya waktu-ruang >> minimal >> > yang layak sebagai unit terkecil tempat berhuni bagi suatu anggota >> kultur >> > tertentu. Juga belum ada informasi lengkap mengenai apakah angka 15 m2 >> > tersebut telah melalui kajian dari berbagai sudut pendang tersebut. >> > Yang dikhawatirkan adalah apabila tanpa pertimbangan mendalam suatu >> standar >> > langsung digunakan karena faktor keterdesakan waktu proyek atau >> pengaruh >> > "kekuasaan" pemodal... >> > >> > Salam, >> > ATA >> > >> > 2010/3/4 ffekadj 4ek...@... >> > >> > > Pak ATA dan rekan2 ysh, >> > > >> > > Sebenarnya ada hal yang kurang kita sadari selama ini kalau setiap >> > > membicarakan 'ruang' sebenarnya kita sedang membicarakan >> 'kekuasaan'. >> > > Seperti contoh bapak, ruang seseorang dalam rumah adalah 15 m2, saya >> > > kira maksudnya adalah kekuasaan seseorang untuk bergerak leluasa di >> > > dalam rumah adalah berbasis minimal 15 m2, apakah demikian pak? >> Termasuk >> > > juga penzonaan, adalah menentukan zona kekuasaan pada >> individu/kelompok >> > > untuk melakukan aktivitas tertentu pada ruang tersebut. Bila membaca >> Il >> > > Prince kesan ini kuat sekali. Salam. >> > > >> > > -ekadj >> > > >> > > --- In refere...@yahoogrou >> > > ps.com<http://mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com><referensi%40yahoog >> roups.com> , >> >> abimanyu >> > > takdir alamsyah >> > > >> > > takdir65@ wrote: >> > > > >> > > > Pak Yayat ysh, >> > > > >> > > > Mungkin perlu juga dicermati, apakah produk tata ruang yang >> berlaku >> > > (ataupun >> > > > dilanggar) sudah cukup diberikan informasi memadai dan acuan >> sebagai >> > > bagian >> > > > dari "early warning system" dan "fire (disaster) escape system" >> oleh >> > > penentu >> > > > kebijakan, penyusun dan ahlinya. >> > > > Kalau tidak, berarti sistem tata ruang lama ternyata termasuk >> salah >> > > satu >> > > > bencananya.. .. >> > > > >> > > > Salam, >> > > > ATA >> > > > >> > > > 2010/3/1 Andi Plano andiplano@ >> >> >

