Pak Ferri dkk ysh, Rasanya beberapa peraturan sudah sangat memperhitungkan persoalan kebencanaan ini. Misalnya dulu ketika saya ikutan menjadi site planner perumnas Antapani, ada aturan bahwa setiap 100 m rumah/kapling harus diselingi areal kosong selebar 2 m. Ini untuk hindari agar kalau kebakaran tidak merembet ke semua. Ada aturan sempadan yang mengatur juga sudut pandang pengemudi dsb. Ada aturan tentang dimana jalan boleh "lewat" diatara 2 tower tegangan tinggi dsb.
Apakah semua itu masih ada? Atau masihkan dipergunakan? Saya ingat sekali dulu bersama pak Suwardjoko menghadapi konsultan asing yang mengabaikan aturan itu karena prinsip dia harus sebanyak mungkin rumah dibangun wah..... Saya juga sedang bertanya pada teman-teman yang sedang menyusun peta kegempaan. Saya "menuntut" Agar ada peta pada skala rinci.....jangan hanya pada skala 1:250.000. Tapi belum/tidak (?) ada yang menjawab/menjelakan pak hehehe..... Saya rasa semua orang tahu bahwa janganlah memberi ijin/ membangun pada kawasan rawan bencana (logsor, banjir, dsb). Tapi adakah data/peta yang menunjukkan itu? Restoran the Peak di Bdg malaha cukup terkenal padahal ada di patahan Lembang. Perumahan Dago Pakar laku juga tuh padahal ada pada areal rawan longsor hehehe.... Mungkin kita percaya umur ditangan Tuhan. Sehingga mau mati kapanpun tidak masalah...hanya tinggal caranya... Salam, Roos Akbar On 3/24/10 10:02 AM, Ferrianto Djais wrote: > Yth Pak Adjie dkk, buat saya mengembangkan pendekatan perencanaan yg terkait > dgn bencana sangat2 menarik dan memang ini blm banyak berkembang. Namun > kiranya kita perlu angkat ke permukaan. Saya cukup lama bermain-main di > perencanaan pesisir dan sangat2 membutuhkan spesific planning approached. > Kita punya 95.000 km pantai dan sebagian besar berada dlm ring of fire. > Investasi yg katakanlah milyar2 dlm waktu 1 menit bisa porak poranda. Semoga > sukses > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: adjie pamungkas<[email protected]> > Date: Tue, 23 Mar 2010 23:09:38 > To:<[email protected]> > Subject: Re: [referensi] Mainstreaming Mitigasi Bencana > > > > > > > > Ysh milisters, > > keliatannya topik ini tidak terlalu hangat di milist ini yg notabene para > planning mania berkumpul.. apa ini indikasi bahwa bencana belum menjadi isu > sentral dalam konteks perencanaan di indonesia. sebagai catatan, tahun lalu > survey di salah satu bagian dari DAS bengawan solo yg tiap tahun kebanjiran, > salah satu hasilnya: tidak ada dokumen spatial plan yg menyinggung isu > tersebut. semoga tidak berkepanjangan indikasi ini karena UUPR sudah > mengamanatkan pengaturan ini. > > salam, > adjie PAMUNGKAS > Lecturer of Regional and City Planning Department > ITS - Indonesia > + 61 4 2561 7575 > > http://www.facebook.com/people/Adjie-Pamungkas/745520653? > > > > --- On Mon, 22/3/10, anin dito<[email protected]> wrote: > From: anin dito<[email protected]>Subject: Re: [referensi] > Mainstreaming Mitigasi BencanaTo: [email protected]: Monday, > 22 March, 2010, 3:28 AM > > > > > Pak Risfan Ysh, > Saya tertarik dengan topik diskusi anda. Sebagian bersar bencana terjadi > karena kelalaian dalam proses pembangunan. Bencana terjadi karena > pembangunan yang tidak memperhatikan ancaman bencana dilokasi > itu. Pengurangan resiko bencana melalui penataan ruang merupakan > cara yang paling efisien dan efektif untuk menghindari jatuhnya > korban. Tapi sekarang ini belum banyak pengalaman kita untuk > mengintegrasikan pengurangan resiko bencana kedalam penataan ruang. > Apakah sudah ada tools untuk melakukan hal ini? > > Salam, > Anindito > > > > From: Risfan Munir<risf...@yahoo. com>To: refere...@yahoogrou > ps.comSent: Thu, March 18, 2010 4:17:17 AMSubject: [referensi] Mainstreaming > Mitigasi Bencana > > Rekans ysh,Masih menjadi bagian dari Sustainable Development, selain Green n > Blue corncern, barangkali bagaimana mengarus-utamakan corncern kepada > kebencanaan. Ini mengingat kepulauan nusantara ini terletak pada ring of > volcano yang sering batuk2. Banyak wilayah/kota rawan banjir, tsunami, serta > kebakaran (hutan). Belum lagi pulau-pulau kecil yang rawan pula.Ini tentu > memerlukan concern, strategi, advokasi agar menjadi bagian dari agenda semua > pihak, pemerintah pusat, daerah, swasta, masyarakat. Masuk ke RTRW, RPJM, > APBM/D, Renstra, juga manajemen operasional. Bagaimana prepareness, SOP > danfacilities nya. Begitukah?Salam,Risfan Munir > > > > > > > > > > > > > ------------------------------------ > > Komunitas Referensi > http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links > > > > > ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

