Rekans ysh,

Terima kasih atas partisipasinya. Kalau boleh saya simpulkan, sementara ini: 
Masalah teknis tata ruang untuk mengakomodir kriteria risiko bencana hanya soal 
teknis, yang bisa dilakukan. Asal ada kebijakan dan anggaran yang mendukung.

Namun soal penegakan dan pelaksanaan, kiranya seperti disampaikan Pak Roos, 
masih jauh panggang dari api. Ada masalah ketidak pedulian, bahkan dari 
instansi Pemda sendiri, swasta dan masyarakat. Masalah koordinasi dalam 
Pengurangan Risiko Bencana (BKPRND, dst) dan saat sekitar kejadian (BPBD, dll) 
yang masih belum jelas atau belum efektif SOP nya.

Dalam era governance (pemerintah-masyarakat-swasta) saat ini masalah 
"pengarus-utamaan" (mainstreaming) dapat melibatkan masyarakat (dan CBO/NGO) 
lebih luas. Ini antara lain perlu keterbukaan informasi. Misalnya kalau perlu 
dipublish peta risiko bencana, peta (pelestarian hulu) penyebab bencana. 
Dipublis lewat media cetak, elektronik, poster/billboard di lokasi-likasi rawan 
bencana dan pelestarian. Juga kriteria "land-suitability" disebar ke 
masyarakat. Sehingga masyarakat akan atahu "mana2/siapa2" yang membangun di 
kawasan rawan, bahkan terlarang. Dengan demikian semua "pembangun" juga tahu 
kalau mereka juga diawasi oleh masyarakat, supaya mereka berhati-hati. Mungkin 
ini salah satu alternatif.

Momentum rangkaian banjir (di DAS Ciliwung, Citarum, Bengawan Solo, di beberapa 
daerah datar di Kalimantan, Sumatera dan daerah lain luar Jawa) sebaiknya 
dimanfaatkan untuk mainstreaming isu Pengurangan Risiko Bencana ini dalam 
perencanaan, penganggaran, manajemen operasi (pelaksanaan) dan mengundang 
partisipasi semua pihak dari berbagai kepentingan.

Besarnya kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir, longsor, rob, longsor 
yang terjadi mestinya juga bisa menginspirasi bahwa Pengurangan Risiko Bencana 
adalah bagian dari Investasi. Ibaratnya, kalau kita punya mobil baru, maka 
kerusakan bisa dianggap "bencana" tak terduga. Tapi, kalau mobil kita 
tua/bobrok, maka menganggarkan Rp 5-10juta/tahun adalah angaran "pengurangan 
risiko" yang sangat wajar. Saya kira paradigma ini yang perlu diterapkan dalam 
kebijakan penganggaran. Begitukah?

Salam,
Risfan Munir








--- In [email protected], "Roos Akbar" <rak...@...> wrote:
>
> Yah itulah masalahnya pak. 
> Ketidakpedulian pada hampir semua pihak. 
> 
> Salam,
> Roos Akbar
> Send on Wed, Mar 24, 2010 at 16:53:13 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: "Ferrianto Djais " <eidj...@...>
> Date: Wed, 24 Mar 2010 08:37:43 
> To: Roos Akbar<rak...@...>; 
> [email protected]<[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Mainstreaming Mitigasi Bencana
> 
> Pak Roos A ysh: saya yakin sebagian aturan sdh ada - tapi apakah itu 
> digunakan atau tidak mau digunakan atau dgn berbagai alasan itu jangan dulu 
> digunakan. Kalau exercise perencanaan banyak dilakukan ( spt apa yg pak Roos 
> A kerjakan), saya rasa akan sangat banyak manfaatnya. Waktu saya buat 
> perencanaan permukiman di Calang setelah tsunami - saya banyak ditentang oleh 
> masyarakat lokal - mereka bilang sudahlah pak, bisul itu tidak akan pernah 
> timbul pada tempat yg sama, maka biarkanlah kami tinggal di tempat yg sama, 
> walaupun mereka tau bhw hampir 90 persen keluarganya jadi korban. 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> -----Original Message-----
> From: Roos Akbar <rak...@...>
> Date: Wed, 24 Mar 2010 07:22:26 
> To: <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Mainstreaming Mitigasi Bencana
> 
> Pak Ferri dkk ysh,
>  Rasanya beberapa peraturan sudah sangat memperhitungkan persoalan 
>  kebencanaan ini.
>  Misalnya dulu ketika saya ikutan menjadi site planner perumnas Antapani, 
>  ada aturan bahwa setiap 100 m rumah/kapling harus diselingi areal kosong 
>  selebar 2 m. Ini untuk hindari agar kalau kebakaran tidak merembet ke 
>  semua. Ada aturan sempadan yang mengatur juga sudut pandang pengemudi 
>  dsb. Ada aturan tentang dimana jalan boleh "lewat" diatara 2 tower 
>  tegangan tinggi dsb.
>  
>  Apakah semua itu masih ada? Atau masihkan dipergunakan?
>  Saya ingat sekali dulu bersama pak Suwardjoko menghadapi konsultan asing 
>  yang mengabaikan aturan itu karena prinsip dia harus sebanyak  mungkin 
>  rumah dibangun wah.....
>  
>  Saya juga sedang bertanya pada teman-teman yang sedang menyusun peta 
>  kegempaan. Saya "menuntut" Agar ada peta pada skala rinci.....jangan 
>  hanya pada skala 1:250.000. Tapi belum/tidak (?) ada yang 
>  menjawab/menjelakan pak hehehe.....
>  
>  Saya rasa semua orang tahu bahwa janganlah memberi ijin/ membangun pada 
>  kawasan rawan bencana (logsor, banjir, dsb). Tapi adakah data/peta yang 
>  menunjukkan itu? Restoran the Peak di Bdg malaha cukup terkenal padahal 
>  ada di patahan Lembang. Perumahan Dago Pakar laku juga tuh padahal ada 
>  pada areal rawan longsor hehehe....
>  
>  Mungkin kita percaya umur ditangan Tuhan. Sehingga mau mati kapanpun 
>  tidak masalah...hanya tinggal caranya...
>  
>  Salam,
>  Roos Akbar
>  On 3/24/10 10:02 AM, Ferrianto Djais wrote:
>  > Yth Pak Adjie dkk, buat saya mengembangkan pendekatan perencanaan yg 
> terkait dgn bencana sangat2 menarik dan memang ini blm banyak berkembang. 
> Namun kiranya kita perlu angkat ke permukaan. Saya cukup lama bermain-main di 
> perencanaan pesisir dan sangat2 membutuhkan spesific planning approached. 
> Kita punya 95.000 km pantai dan sebagian besar berada dlm ring of fire. 
> Investasi yg katakanlah milyar2 dlm waktu 1 menit bisa porak poranda. Semoga 
> sukses
>  > Powered by Telkomsel BlackBerry®
>  >
>  > -----Original Message-----
>  > From: adjie pamungkas<a_pamungkas2...@...>
>  > Date: Tue, 23 Mar 2010 23:09:38
>  > To:<[email protected]>
>  > Subject: Re: [referensi] Mainstreaming Mitigasi Bencana
>  >
>  >   
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >
>  > Ysh milisters,
>  >   
>  > keliatannya topik ini tidak terlalu hangat di milist ini yg notabene para 
> planning mania berkumpul.. apa ini indikasi bahwa bencana belum menjadi isu 
> sentral dalam konteks perencanaan di indonesia. sebagai catatan, tahun lalu 
> survey di salah satu bagian dari DAS bengawan solo yg tiap tahun kebanjiran, 
> salah satu hasilnya: tidak ada dokumen spatial plan yg menyinggung isu 
> tersebut.  semoga tidak berkepanjangan indikasi ini karena UUPR sudah 
> mengamanatkan pengaturan ini.
>  >
>  > salam,
>  > adjie PAMUNGKAS
>  > Lecturer of Regional and City Planning Department
>  > ITS - Indonesia
>  > + 61 4 2561 7575
>  >   
>  > http://www.facebook.com/people/Adjie-Pamungkas/745520653?
>  > &nbsp;
>  > &nbsp;
>  > &nbsp;
>  > &nbsp;--- On Mon, 22/3/10, anin ditoanindito...@... wrote:
>  > From: anin [email protected]: Re: [referensi] Mainstreaming 
> Mitigasi BencanaTo: refere...@...: Monday, 22 March, 2010, 3:28 AM
>  > &nbsp;
>  >
>  >
>  >
>  > Pak&nbsp;Risfan Ysh,
>  > Saya tertarik dengan&nbsp;topik diskusi anda. Sebagian bersar bencana 
> terjadi karena kelalaian dalam proses pembangunan.&nbsp; Bencana terjadi 
> karena pembangunan yang tidak memperhatikan ancaman bencana dilokasi 
> itu.&nbsp;&nbsp; Pengurangan resiko bencana melalui penataan ruang merupakan 
> cara yang paling efisien dan efektif untuk menghindari jatuhnya 
> korban.&nbsp;&nbsp; Tapi sekarang ini belum banyak pengalaman kita untuk 
> mengintegrasikan pengurangan resiko bencana kedalam penataan ruang.&nbsp; 
> Apakah sudah ada tools untuk melakukan hal ini?
>  > &nbsp;
>  > Salam,
>  > Anindito
>  >
>  >
>  >
>  > From: Risfan munirrisf...@yahoo. com&gt;To: refere...@yahoogrou 
> ps.comSent: Thu, March 18, 2010 4:17:17 AMSubject: [referensi] Mainstreaming 
> Mitigasi Bencana&nbsp;
>  >
>  > Rekans ysh,Masih menjadi bagian dari Sustainable Development, selain Green 
> n Blue corncern, barangkali bagaimana mengarus-utamakan corncern kepada 
> kebencanaan. Ini mengingat kepulauan nusantara ini terletak pada ring of 
> volcano yang sering batuk2. Banyak wilayah/kota rawan banjir, tsunami, serta 
> kebakaran (hutan). Belum lagi pulau-pulau kecil yang rawan pula.Ini tentu 
> memerlukan concern, strategi, advokasi agar menjadi bagian dari agenda semua 
> pihak, pemerintah pusat, daerah, swasta, masyarakat. Masuk ke RTRW, RPJM, 
> APBM/D, Renstra, juga manajemen operasional. Bagaimana prepareness, SOP 
> danfacilities nya. Begitukah?Salam,Risfan Munir
>  >
>  >
>  >
>  >        &nbsp;
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >
>  > ------------------------------------
>  >
>  > Komunitas Referensi
>  > http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>  >
>  >
>  >
>  >
>  >    
>  
>  
>  
>  ------------------------------------
>  
>  Komunitas Referensi
>  http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>


Kirim email ke