Rekans ysh,

Yang ideal memang menghadapi tantangan dalam opeasional maupun realisasinya,
apalagi kalau awalnya tidak banyak yang mendukung.

Seperti isu lingkungan yang mulai digalakkan tahun 80-an, saat itu masih
banyak ditertawakan, termasuk di lingkungan kerja saya. Namun sekarang
bahkan negara-negara yang semula tidak mau mengikuti protokol Tokyo setelah
sekian waktu akhirnya mulai mempertimbangkan kesertaannya. Bahkan dalam
pertemuan tentang perubahan iklim yll para pakar mereka menerima gagasan
pemikiran "low carbon economy" sebagai pendekatan baru dari ekonomi
pembangunan, yang semula dari ekonomi pasar ke sustainomic (Munasinghe:
economy berbasis ecology dan social).

Demikian juga upaya untuk memasukkan kata "negara kepulauan" dan prinsip
kebumian (darat, laut, udara dan dalam bumi) dalam RUU penataan ruang yang
lalu juga melalui proses diskusi yang cukup panjang. Walau masuk dalam
pembukaan UU 29 2007, namun dalam pasal-pasal dan PP nya ternyata juga belum
berfungsi pula. Komentar saya yang mengaitkan penawaran properti di tepi
pantai Padang dengan faktor risiko bencana setempat ditertawakan rekan-rekan
penata ruang. Namun dalam pertemuan dalam rangka penyusunan pedoman
pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, draft pedoman tersebut
dicabut kembali dan direvisi karena belum memasukkan aspek risiko ke
dalamnya. Jadi perlu proses (waktu-ruang untuk perubahan kultural) dan
kegigihan penggagas untuk memperkenalkan suatu "konsep kebenaran
(paradigma?)" baru, bukan saja kepada masayarakat awam, bahkan kepada para
elit dan pakar yang seharusnya justru sebagai penggagas & pejuang utamanya.


Salah satu pendekatan penting adalah penyebaran informasi yang lebih
mendasar, sehingga berkembang kepedulian, pemahaman dan kehendak untuk
bertindak, bukan hanya dalam ruang tertutup atau secara sektoral namun lebih
terbuka, sistematis dan terprogram. Diikuti dengan kegiatan pembelajaran
bersama, termasuk peralihan materi dan program belajar di sekolah penataan
ruang tentunya. Saya yakin di masa datang, dalam waktu pendek atau jangka
panjang, konsep keberlanjutan tersebut dapat semakin mantap.

Pendekatan lain adalah pendekatan pasar (konsumen mengetahui informasi
sepenuhnya mengenai produk yang akan dikonsumsinya), seperti pencantuman
label pada obat dan makanan, harus tercantum kandungan unsur campuran yang
digunakan, misalnya mengandung MSG ...%, kafeine...%, dsb. Juga peringatan
bahwa "tidak boleh digunakan bagi wanita hamil,...cara penggunaan,...rokok
dapat menyebabkan....dsb". Label,  index kandungan atau peringatan tersebut
merupakan referensi konsumen untuk memilih seberapa besar risiko yang mereka
hendak pilih ("willingness to accept the risk"). Jadi, kalau anda membeli
suatu properti dalam kawasan permukiman di pegunungan, pantai atau daerah
banjir, anda memang memilih risiko bencana (musiman, tak terduga, dsb)
tertentu di lokasi tersebut. Sama seperti risiko pembeli makanan, obat atau
rokok. Dalam hal ini si penata ruang bertanggung jawab terhadap kejujuran
sejauh mana aspek risiko tersebut telah dikaji sebelumnya atau memang
"rencana kawasan ini belum mempertimbangkan aspek-aspek....dsb".

Mari kita belajar bekerja untuk peningkatan kualitas hidup generasi
mendatang. Mari kota berupaya untuk lebih jujur menyampaikan kekuatan dan
kelemahan produk kita kepada konsumen. Mari kita susun sistem dan mekanisme
pembangunan yang membuat produsen yang lebih baik akan lebih beruntung
daripada yang kurang berkualitas.

Sekian dulu,
ATA


2010/3/25 risfano <[email protected]>

>
>
> Rekans ysh,
>
> Terima kasih atas partisipasinya. Kalau boleh saya simpulkan, sementara
> ini: Masalah teknis tata ruang untuk mengakomodir kriteria risiko bencana
> hanya soal teknis, yang bisa dilakukan. Asal ada kebijakan dan anggaran yang
> mendukung.
>
> Namun soal penegakan dan pelaksanaan, kiranya seperti disampaikan Pak Roos,
> masih jauh panggang dari api. Ada masalah ketidak pedulian, bahkan dari
> instansi Pemda sendiri, swasta dan masyarakat. Masalah koordinasi dalam
> Pengurangan Risiko Bencana (BKPRND, dst) dan saat sekitar kejadian (BPBD,
> dll) yang masih belum jelas atau belum efektif SOP nya.
>
> Dalam era governance (pemerintah-masyarakat-swasta) saat ini masalah
> "pengarus-utamaan" (mainstreaming) dapat melibatkan masyarakat (dan CBO/NGO)
> lebih luas. Ini antara lain perlu keterbukaan informasi. Misalnya kalau
> perlu dipublish peta risiko bencana, peta (pelestarian hulu) penyebab
> bencana. Dipublis lewat media cetak, elektronik, poster/billboard di
> lokasi-likasi rawan bencana dan pelestarian. Juga kriteria
> "land-suitability" disebar ke masyarakat. Sehingga masyarakat akan atahu
> "mana2/siapa2" yang membangun di kawasan rawan, bahkan terlarang. Dengan
> demikian semua "pembangun" juga tahu kalau mereka juga diawasi oleh
> masyarakat, supaya mereka berhati-hati. Mungkin ini salah satu alternatif.
>
> Momentum rangkaian banjir (di DAS Ciliwung, Citarum, Bengawan Solo, di
> beberapa daerah datar di Kalimantan, Sumatera dan daerah lain luar Jawa)
> sebaiknya dimanfaatkan untuk mainstreaming isu Pengurangan Risiko Bencana
> ini dalam perencanaan, penganggaran, manajemen operasi (pelaksanaan) dan
> mengundang partisipasi semua pihak dari berbagai kepentingan.
>
> Besarnya kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir, longsor, rob,
> longsor yang terjadi mestinya juga bisa menginspirasi bahwa Pengurangan
> Risiko Bencana adalah bagian dari Investasi. Ibaratnya, kalau kita punya
> mobil baru, maka kerusakan bisa dianggap "bencana" tak terduga. Tapi, kalau
> mobil kita tua/bobrok, maka menganggarkan Rp 5-10juta/tahun adalah angaran
> "pengurangan risiko" yang sangat wajar. Saya kira paradigma ini yang perlu
> diterapkan dalam kebijakan penganggaran. Begitukah?
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, "Roos
> Akbar" <rak...@...> wrote:
> >
> > Yah itulah masalahnya pak.
> > Ketidakpedulian pada hampir semua pihak.
> >
> > Salam,
> > Roos Akbar
> > Send on Wed, Mar 24, 2010 at 16:53:13
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: "Ferrianto Djais " <eidj...@...>
> > Date: Wed, 24 Mar 2010 08:37:43
> > To: Roos Akbar<rak...@...>; 
> > [email protected]<referensi%40yahoogroups.com>
> <[email protected] <referensi%40yahoogroups.com>>
> > Subject: Re: [referensi] Mainstreaming Mitigasi Bencana
> >
> > Pak Roos A ysh: saya yakin sebagian aturan sdh ada - tapi apakah itu
> digunakan atau tidak mau digunakan atau dgn berbagai alasan itu jangan dulu
> digunakan. Kalau exercise perencanaan banyak dilakukan ( spt apa yg pak Roos
> A kerjakan), saya rasa akan sangat banyak manfaatnya. Waktu saya buat
> perencanaan permukiman di Calang setelah tsunami - saya banyak ditentang
> oleh masyarakat lokal - mereka bilang sudahlah pak, bisul itu tidak akan
> pernah timbul pada tempat yg sama, maka biarkanlah kami tinggal di tempat yg
> sama, walaupun mereka tau bhw hampir 90 persen keluarganya jadi korban.
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Roos Akbar <rak...@...>
> > Date: Wed, 24 Mar 2010 07:22:26
> > To: <[email protected] <referensi%40yahoogroups.com>>
> > Subject: Re: [referensi] Mainstreaming Mitigasi Bencana
> >
> > Pak Ferri dkk ysh,
> > Rasanya beberapa peraturan sudah sangat memperhitungkan persoalan
> > kebencanaan ini.
> > Misalnya dulu ketika saya ikutan menjadi site planner perumnas Antapani,
> > ada aturan bahwa setiap 100 m rumah/kapling harus diselingi areal kosong
> > selebar 2 m. Ini untuk hindari agar kalau kebakaran tidak merembet ke
> > semua. Ada aturan sempadan yang mengatur juga sudut pandang pengemudi
> > dsb. Ada aturan tentang dimana jalan boleh "lewat" diatara 2 tower
> > tegangan tinggi dsb.
> >
> > Apakah semua itu masih ada? Atau masihkan dipergunakan?
> > Saya ingat sekali dulu bersama pak Suwardjoko menghadapi konsultan asing
> > yang mengabaikan aturan itu karena prinsip dia harus sebanyak  mungkin
> > rumah dibangun wah.....
> >
> > Saya juga sedang bertanya pada teman-teman yang sedang menyusun peta
> > kegempaan. Saya "menuntut" Agar ada peta pada skala rinci.....jangan
> > hanya pada skala 1:250.000. Tapi belum/tidak (?) ada yang
> > menjawab/menjelakan pak hehehe.....
> >
> > Saya rasa semua orang tahu bahwa janganlah memberi ijin/ membangun pada
> > kawasan rawan bencana (logsor, banjir, dsb). Tapi adakah data/peta yang
> > menunjukkan itu? Restoran the Peak di Bdg malaha cukup terkenal padahal
> > ada di patahan Lembang. Perumahan Dago Pakar laku juga tuh padahal ada
> > pada areal rawan longsor hehehe....
> >
> > Mungkin kita percaya umur ditangan Tuhan. Sehingga mau mati kapanpun
> > tidak masalah...hanya tinggal caranya...
> >
> > Salam,
> > Roos Akbar
> > On 3/24/10 10:02 AM, Ferrianto Djais wrote:
> > > Yth Pak Adjie dkk, buat saya mengembangkan pendekatan perencanaan yg
> terkait dgn bencana sangat2 menarik dan memang ini blm banyak berkembang.
> Namun kiranya kita perlu angkat ke permukaan. Saya cukup lama bermain-main
> di perencanaan pesisir dan sangat2 membutuhkan spesific planning approached.
> Kita punya 95.000 km pantai dan sebagian besar berada dlm ring of fire.
> Investasi yg katakanlah milyar2 dlm waktu 1 menit bisa porak poranda. Semoga
> sukses
> > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > >
> > > -----Original Message-----
> > > From: adjie pamungkas<a_pamungkas2...@...>
> > > Date: Tue, 23 Mar 2010 23:09:38
> > > To:<[email protected] <referensi%40yahoogroups.com>>
> > > Subject: Re: [referensi] Mainstreaming Mitigasi Bencana
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Ysh milisters,
> > >
> > > keliatannya topik ini tidak terlalu hangat di milist ini yg notabene
> para planning mania berkumpul.. apa ini indikasi bahwa bencana belum menjadi
> isu sentral dalam konteks perencanaan di indonesia. sebagai catatan, tahun
> lalu survey di salah satu bagian dari DAS bengawan solo yg tiap tahun
> kebanjiran, salah satu hasilnya: tidak ada dokumen spatial plan yg
> menyinggung isu tersebut.  semoga tidak berkepanjangan indikasi ini karena
> UUPR sudah mengamanatkan pengaturan ini.
> > >
> > > salam,
> > > adjie PAMUNGKAS
> > > Lecturer of Regional and City Planning Department
> > > ITS - Indonesia
> > > + 61 4 2561 7575
> > >
> > > http://www.facebook.com/people/Adjie-Pamungkas/745520653?
> > > &nbsp;
> > > &nbsp;
> > > &nbsp;
> > > &nbsp;--- On Mon, 22/3/10, anin ditoanindito...@... wrote:
> > > From: anin [email protected]: Re: [referensi] Mainstreaming
> Mitigasi BencanaTo: refere...@...: Monday, 22 March, 2010, 3:28 AM
>
> > > &nbsp;
> > >
> > >
> > >
> > > Pak&nbsp;Risfan Ysh,
> > > Saya tertarik dengan&nbsp;topik diskusi anda. Sebagian bersar bencana
> terjadi karena kelalaian dalam proses pembangunan.&nbsp; Bencana terjadi
> karena pembangunan yang tidak memperhatikan ancaman bencana dilokasi
> itu.&nbsp;&nbsp; Pengurangan resiko bencana melalui penataan ruang merupakan
> cara yang paling efisien dan efektif untuk menghindari jatuhnya
> korban.&nbsp;&nbsp; Tapi sekarang ini belum banyak pengalaman kita untuk
> mengintegrasikan pengurangan resiko bencana kedalam penataan ruang.&nbsp;
> Apakah sudah ada tools untuk melakukan hal ini?
> > > &nbsp;
> > > Salam,
> > > Anindito
> > >
> > >
> > >
> > > From: Risfan munirrisf...@yahoo. com&gt;To: 
> > > [email protected]: Thu, March 18, 2010 4:17:17 AMSubject: 
> > > [referensi] Mainstreaming
> Mitigasi Bencana&nbsp;
>
> > >
> > > Rekans ysh,Masih menjadi bagian dari Sustainable Development, selain
> Green n Blue corncern, barangkali bagaimana mengarus-utamakan corncern
> kepada kebencanaan. Ini mengingat kepulauan nusantara ini terletak pada ring
> of volcano yang sering batuk2. Banyak wilayah/kota rawan banjir, tsunami,
> serta kebakaran (hutan). Belum lagi pulau-pulau kecil yang rawan pula.Ini
> tentu memerlukan concern, strategi, advokasi agar menjadi bagian dari agenda
> semua pihak, pemerintah pusat, daerah, swasta, masyarakat. Masuk ke RTRW,
> RPJM, APBM/D, Renstra, juga manajemen operasional. Bagaimana prepareness,
> SOP danfacilities nya. Begitukah?Salam,Risfan Munir
> > >
> > >
> > >
> > >        &nbsp;
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ------------------------------------
> > >
> > > Komunitas Referensi
> > > http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> >
> > ------------------------------------
> >
> > Komunitas Referensi
> > http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
> >
>
>  
>

Kirim email ke