Pak Michel, yg saya kritisi disini adalah penggunaan data volume untuk
mencoba memperkirakan pergerakan IHSG yang saya katakan bisa menyesatkan
alias kurang cocok bila data volume yang dipakai. Lebih tepat jika data
value yang dipakai ketimbang volume untuk memperkirakan pergerakan IHSG.
Tidak peduli apakah untuk jangka pendek atau jangka panjang, karena kalau
pemahaman sudah salah, mau jangka pendek atau jangka panjang, tetap akan
jadi salah pemahamannya. Pada akhirnya nanti jadi lebih bergantung dengan
faktor keberuntungan saja, dimana berharap moga2 volume yg besar diikuti
dengan value yg besar pula. Atau, kalau tidak ingin bergantung pada faktor
keberuntungan tersebut, setiap saat jadi suka cek value transaksinya, apakah
besar atau kecil juga seperti volumenya atau tidak. Ketimbang dua kali
kerja, mending sekalian saja fokus dengan value transaksi bila ingin
analisanya terhadap IHSG lebih menggambarkan situasi lapangan. Saya tidak
memperdebatkan untuk masalah penggunaan volume di analisa pergerakan harga
saham.

Jadi, kalau Pak Michel tetap berpendapat tidak masalah memakai volume untuk
analisa pergerakan IHSG, walau sudah saya tunjukan dimana letak kelemahan
dari penggunaan volume di IHSG dan dimana letak potensi bisa menyesatkannya,
silakan saja Pak Michel. Saya hanya dalam kapasitas sharing saja kepada yang
lain, dan tidak ingin memperdebatkan keyakinan Pak Michel atas penggunaan
volume pada analisa IHSG :)

Sekedar ralat dari pernyataan Pak Michel dibawah terkait IHSG setelah
tanggal 13 April yang dikatakan tidak pernah lagi ditutup di bawah 13 April,
tanggal 14 April, IHSG ditutup di bawah tanggal 13 April. Koreksi saya ini
untuk meluruskan pernyataan Pak Michel di paragraf berikut:

"Sebenarnya prinsipnya sama dengan apa yang terjadi di tanggal 13 April
dimana harga mengalami pullback (penurunan tertahan) tentu karena ada
kekuatan beli masuk dengan value sebesar hampir 80%. Setelah itu Indeks
tidak pernah close di bawah itu. Selalu di-pullback ke atas yang akhirnya
menghasilkan rebound tanggal 20 April." (kutipan tulisan Pak Michel).

Sekedar penutup, IHSG tanggal 29 April 2011 ditutup di level tertingginya
dalam sejarah IHSG di 3819 dengan volume lebih rendah dari volume transaksi
tanggal  26, 27, 28 April yang Pak Michel indikasikan sebagai adanya
indikasi bandar open sale hanya karena volumenya terlihat melonjak dari
hari2 sebelumnya.  Sementara disisi lain, value transaksi di tanggal 29
April tersebut lebih tinggi dari value transaksi tanggal 26,27,28 April.

Jadi, kalau mengacu ke analisa Pak Michel, maka situasinya adalah:
1. IHSG ditutup di atas resistance dengan volume transaksi lebih rendah.
2. IHSG ditutup di atas resistance dengan value transaksi lebih tinggi.

Dua kondisi yg saya perkirakan akan bisa memberikan prediksi yang tidak sama
(bertolak belakang) kalau mengacu ke aturan main PVA :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


2011/4/29 Angelo Michel <[email protected]>

>
>
> Setuju Bang. mungkin saya perlu tonjolkan bagian kutipan saya yang ini:
> "*Jadi, kalau volume IHSG murni dari papan Reguler pasti akan cukup
> bermanfaat untuk analisa jangka pendek.* "
>
> Untuk penggunaan data volume IHSG yang sudah terlalu jauh di masa lalu akan
> sulit diandalkan karena sudah ada perubahan signifikan saham2 yang mengalami
> adjustement. Semakin jauh ke  belakang akan semakin irrelevan. Ini berlaku
> juga untuk data value ya.
>
> Tapi kalau untuk jangka pendek, data volume masih bisa releven *walaupun
> yang terbaik* *adalah data **value*. Saya tidak pernah menyangkal ini.
> Jika kita berpaut erat pada data value tentu kita akan mengurangi keyakinan
> kita akan data volume.
> Namun, jika yang kita punya ada adalah data volume, menurut saya sudah
> cukup untuk menggambarkan kondisi market, again... untuk jangka pendek pada
> indeks.
> Ini kan kita sedang bicara TA dengan data volume dan umum digunakan di
> seluruh dunia. Bagaimana pun volume tetap digunakan sebagai indikator juga.
> Meskipun tidak sebaik value, tidak berarti tidak ada gunanya sama sekali. 
> Hanya
> saja, kalau toh mau menggunakan volume, gunakanlah volume yang berasal dari
> transaksi di papan reguler. Itu saja Pak.
> He he he kalau kita menyatakan data volume tidak ada gunanya berarti kita
> menyalahkan metastock dan amibroker yang menyediakan data untuk volume.
> ....Canda Bang...;D
>
> Kembali ke laptop, kasus IHSG sekarang ini, kita coba lihat dengan data
> value.
> Di bawah ini adalah grafik histogram hasil data value (bukan volume). Saya
> gunakan value tgl 20 April sebagai skala 100%.
>
>
> Dalam kasus ini, (mungkin kebetulan) malah kekuatan jual yang besar lebih
> terlihat di tanggal 21 April 2011, dimana indeks bergerak sempit (spinning
> top), gagal melanjutkan kenaikan sehingga membentuk *resistance* untuk
> periode berikutnya. Jika value sedemikian besar (75% dari value tgl 20
> April) menggambarkan kekuatan beli yang sepenuhnya, seharusnya ia sudah
> terbang kemana-mana, yes?
> Dikhawatirkan kekuatan yang masuk disitu adalah kekuatan jual. Malah bisa
> jadi kekuatan jual sudah masuk pada sessi dua 20 April 2011.
>
> Sebenarnya prinsipnya sama dengan apa yang terjadi di tanggal 13 April
> dimana harga mengalami pullback (penurunan tertahan) tentu karena ada
> kekuatan beli masuk dengan value sebesar hampir 80%. Setelah itu Indeks
> tidak pernah close di bawah itu. Selalu di-pullback ke atas yang akhirnya
> menghasilkan rebound tanggal 20 April.
>
> Yang terjadi sejak 21 April 2011 sampai kemarin adalah kebalikannya.
> Kekuatan jual di sekitar level 3814 terlihat cukup kuat sehingga ini
> menggambarkan Bandar yang open sale. Hanya saja masih ada kekuatan beli di
> hammer tanggal 26 April (58.6%) yang menurut saya belum cukup kuat untuk
> mendorong kenaikan menembus resistancenya. Saya sedang mengharapkan masuknya
> kekuatan beli yang baru yang menambahkan kekuatan beli di 26 April. Selama
> ini belum masuk ya, resistance tidak akan tembus.
>
> Jadi dengan menggunakan data value pun, may point of view still remain at
> is, Sir.
>
> Best regards,
> Angelo
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ----- Original Message -----
> *From:* Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Friday, April 29, 2011 1:04 PM
> *Subject:* Re: [saham] Beware! Ada indikasi Bandar Sudah Open Sale!
>
>
>
> Tetap tidak bisa, Pak Michel. Bila kita paham bagaimana angka IHSG berasal,
> maka saya yakin kita tidak akan berpendapat seperti di bawah walaupun hanya
> untuk membandingkan antar periode di IHSG itu sendiri. Volume tinggi di IHSG
> tidak bisa otomatis menggambarkan ada perubahan penting yg bisa menggerakan
> IHSG sedang terjadi. Beda dengan di saham, dimana peningkatan volume bisa
> langsung diartikan sebagai kemungkinan adanya perubahan penting yg sedang
> terjadi di saham tersebut.
>
> Saya berikan data volume dan value transaksi IHSG yg bisa dilihat di gambar
> yg saya kirim, IHSG01 dan IHSG02.
> Di tulisan awal, Pak Michel mencoba mengambil kesimpulan sbb:
>
> "Upaya indeks untuk menembus ke atas *resistance* pun gagal. Ini
> menunjukkan ada kekuatan jual yang cukup besar. Ini diteguhkan lagi oleh
> volume transaksi yang besar." (saya kutip dari tulisan Pak Michel di awal
> posting)
>
> Kalau kita mengikuti pasar 3 hari belakangan ini, volume transaksi jadi
> tinggi, karena ada saham2 murah seperti ENRG, BIPI, TRUB, dan saham2 dengan
> harga murah secara nominal lainnya yg ditransaksikan dengan volume transaksi
> yang besar tapi dengan value transaksi yg cenderung biasa2 saja.
>
> Itu sebabnya, kenapa terlihat 3 hari belakangan ini (26-28 April) volume
> transaksi tinggi, tapi value transaksinya hanya antara 3-4 triliun saja.
> Sementara pada tanggal 11-15 April, volume transaksi jauh di bawah volume
> 26-28 April, tapi value transaksinya lebih besar dari periode 26-28 April
> tersebut dimana rata2 di atas 4 T.
>
> Jadi, bisa disimpulkan sementara bahwa volume besar yg terjadi 3 hari
> belakangan ini lebih disebabkan karena ada saham2 2nd dan 3rd liner (bukan
> motor penggerak IHSG) yg harga sahamnya di bawah 200 perak ditransaksikan
> dengan volume yang jauh lebih besar dari rata2 biasanya, dan bukan karena
> adanya saham2 big cap (motor penggerak IHSG) yang ditransaksikan dengan
> volume besar. Kalau dibahas dan dianalisa lebih lanjut, buntutnya bisa
> mengarah ke membaca peta pergerakan perbandaran, yang saya rasa nantinya
> malah jadi menyimpang dari topik awal :)
>
> Dengan kata lain, kesimpulan Pak Michel yang mengatakan adanya kekuatan
> jual yang cukup besar hanya karena volume transaksi yang besar di IHSG,
> menjadi diragukan dan kalau boleh saya simpulkan dari data yang saya lihat
> dan tunjukan menjadi tidak mencerminkan kondisi di lapangan.
>
> Hal ini tentu saja berbeda bila volume dibahas untuk saham yang sama. Itu
> pun sebenarnya masih harus dengan catatan memperhatikan periode nya. Volume
> transaksi ketika saham itu berada di harga sekitar 500 perak seperti BUMI
> dulu di tahun 2009, dan volume ketika saham itu sudah berada di 3400 perak
> seperti sekarang, tentunya sudah tidak pas untuk dibandingkan.
>
> Sekedar sharing saja, dan semoga hal ini bisa bermanfaat.
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
>
>
> 2011/4/29 Angelo Michel <[email protected]>
>
>>
>>
>> Setuju, kalau volume IHSG digunakan untuk dibandingkan dengan saham.
>> Tapi kalau digunakan untuk dibandingkan dengan volume IHSG sendiri di
>> periode yang berbeda, tentu akan releven.
>>
>> Tapi problemnya sekarang, masih banyak pihak yang data volumenya
>> memasukkan volume di luar papan reguler, seperti papan nego. Seharusnya
>> volume papan nego yang dimasukkan ke dalam chart TA. Krn transaksi di papan
>> nego tidak melalui lelang market. Itu hanya internal. Dengan masuknya volume
>> di papan nego, dipastikan akan menyesatkan.
>> Makanya saya suka geleng2 kalau ada yang menggunakan analisa volume yang
>> ada transaksi papan nego disana sehingga volume suatu hari bisa melonjak
>> tinggi banget padahal tidak mewakili market.
>> Jadi, kalau volume IHSG murni dari papan Reguler pasti akan cukup
>> bermanfaat untuk analisa jangka pendek.
>>
>> Demikian pula halnya dengan volume saham. Jika digunakan untuk
>> membandingkan antar saham, akan menyesatkan. Misalnya volume ASII mau
>> dibandingkan dengan volume MIRA. Tentu akan menyesatkan, dikira ASII kalah
>> liquid. Gunakan volume hanya untuk perbandingan dengan saham yang sama pada
>> periode berbeda. Misalnya volume ASII hari ini dengan kemarin atau minggu
>> lalu, dst.
>>
>> Nah kalau mau mengadakan perbandingan antar saham, wajib menggunakan
>> value. Secara sederhana ya, value = volume x price. Dengan demikian lebih
>> mencerminkan besarnya uang yang mengalir di saham-saham masing2 sehingga
>> relevan untuk diadakan perbandingan.
>>
>> Best regards,
>> Angelo
>>
>>
>>
>>  ----- Original Message -----
>> *From:* Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>> *To:* [email protected]
>>  *Sent:* Friday, April 29, 2011 7:34 AM
>> *Subject:* Re: [saham] Beware! Ada indikasi Bandar Sudah Open Sale!
>>
>>
>>
>> Hati2 dengan volume transaksi di IHSG, karena bisa menyesatkan/menjebak
>> dalam pengambilang kesimpulan akhir. Lebih baik lihat value transaksi (nilai
>> perdagangan) ketimbang volume transaksi.
>>
>> Sekedar sharing saja :)
>>
>> jabat erat,
>> Irwan Ariston Napitupulu
>>
>> 2011/4/28 Angelo Michel <[email protected]>
>>
>>>
>>>
>>> Setelah *Bullish Cage* gagal meneruskan kenaikan Indeks, *Red 
>>> Arrow*memberikan sinyal jual. Upaya indeks untuk menembus ke atas
>>> *resistance* pun gagal. Ini menunjukkan ada kekuatan jual yang cukup
>>> besar. Ini diteguhkan lagi oleh volume transaksi yang besar. Jika ini benar
>>> berarti Bandar sudah Open Sale!
>>> Dibutuhkan kekuatan beli yang mampu mendorong indeks menembus *
>>> resistance* di *3815* agar kekuatan jual ini dapat dipatahkan.
>>> Maka, ini adalah pengingat agar berhati-hati karena jika tidak ada
>>> kekuatan beli yang bisa memenuhi syarat di atas, koreksi dengan penurunan
>>> akan cukup dalam.
>>>
>>>  *DISCLAIMER ON*
>>>
>>> Grafik di atas adalah hasil AMTACharts (http://id.amtacharts.com)
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>>
>>
>>
>
> 
>

Kirim email ke