Ikut berpendapat,,
Pa Tobeno itu penggalan kata hny perumpamaan pikiran dr pa Michel. (Cmiww)
Bukan pemahaman bang IAN, coba baca lagi dr email awal pa Michel.
Bang IAN juga tidak setuju jika IHSG hny dipengaruhi volume.
Maka itu bang IAN memberi contoh IHSG01 dan IHSG 02..
Intinya dari bang IAN sama dgn pa Tobeno, jangan hny melihat volume saja yg 
besar tanpa melihat value dan saham yg beredar.
Value x jmlh saham = mar cap
Semakin besar mar cap, semakin besar pula pengaruhnya ke IHSG.




Powered by AT&T™

-----Original Message-----
From: "tobeno" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 30 Apr 2011 16:03:32 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Beware! Ada indikasi Bandar Sudah Open Sale!



Dari penjelasan Bang IAN ini seolah-olah volume baru akan mempengaruhi IHSG 
apabila nilai yang dihasilkannya besar.

Saya kutip apa pendapat Bang IAN:

"Bila kita paham bagaimana angka IHSG berasal, maka saya yakin kita tidak akan 
berpendapat seperti di bawah walaupun hanya untuk membandingkan antar periode 
di IHSG itu sendiri. Volume tinggi di IHSG tidak bisa otomatis menggambarkan 
ada perubahan penting yg bisa menggerakan IHSG sedang terjadi."

Kelihatannya pemahaman Bang IAN tentang angka IHSG berbeda dengan saya.  
Menurut saya keliru jika dikatakan IHSG dipengaruhi oleh volume.  IHSG hanya 
dipengaruhi oleh harga saham dan jumlah saham beredar.  Karena jumlah saham 
beredar sudah fixed maka ia menjadi konstanta.  Konstanta ini baru akan berubah 
bila ada emiten baru, atau CA seperti split, right, dividen saham, saham bonus, 
dan semacamnya.  Jadi satu-satunya unsur yang mempengaruhi IHSG adalah harga 
saham individu.

Demikian pendapat saya.




"The more quantitative a model, the better the valuation."

-----Original Message-----
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 29 Apr 2011 13:04:25 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Beware! Ada indikasi Bandar Sudah Open Sale!

Tetap tidak bisa, Pak Michel. Bila kita paham bagaimana angka IHSG berasal,
maka saya yakin kita tidak akan berpendapat seperti di bawah walaupun hanya
untuk membandingkan antar periode di IHSG itu sendiri. Volume tinggi di IHSG
tidak bisa otomatis menggambarkan ada perubahan penting yg bisa menggerakan
IHSG sedang terjadi. Beda dengan di saham, dimana peningkatan volume bisa
langsung diartikan sebagai kemungkinan adanya perubahan penting yg sedang
terjadi di saham tersebut.

Saya berikan data volume dan value transaksi IHSG yg bisa dilihat di gambar
yg saya kirim, IHSG01 dan IHSG02.
Di tulisan awal, Pak Michel mencoba mengambil kesimpulan sbb:

"Upaya indeks untuk menembus ke atas *resistance* pun gagal. Ini menunjukkan
ada kekuatan jual yang cukup besar. Ini diteguhkan lagi oleh volume
transaksi yang besar." (saya kutip dari tulisan Pak Michel di awal posting)

Kalau kita mengikuti pasar 3 hari belakangan ini, volume transaksi jadi
tinggi, karena ada saham2 murah seperti ENRG, BIPI, TRUB, dan saham2 dengan
harga murah secara nominal lainnya yg ditransaksikan dengan volume transaksi
yang besar tapi dengan value transaksi yg cenderung biasa2 saja.

Itu sebabnya, kenapa terlihat 3 hari belakangan ini (26-28 April) volume
transaksi tinggi, tapi value transaksinya hanya antara 3-4 triliun saja.
Sementara pada tanggal 11-15 April, volume transaksi jauh di bawah volume
26-28 April, tapi value transaksinya lebih besar dari periode 26-28 April
tersebut dimana rata2 di atas 4 T.

Jadi, bisa disimpulkan sementara bahwa volume besar yg terjadi 3 hari
belakangan ini lebih disebabkan karena ada saham2 2nd dan 3rd liner (bukan
motor penggerak IHSG) yg harga sahamnya di bawah 200 perak ditransaksikan
dengan volume yang jauh lebih besar dari rata2 biasanya, dan bukan karena
adanya saham2 big cap (motor penggerak IHSG) yang ditransaksikan dengan
volume besar. Kalau dibahas dan dianalisa lebih lanjut, buntutnya bisa
mengarah ke membaca peta pergerakan perbandaran, yang saya rasa nantinya
malah jadi menyimpang dari topik awal :)

Dengan kata lain, kesimpulan Pak Michel yang mengatakan adanya kekuatan jual
yang cukup besar hanya karena volume transaksi yang besar di IHSG, menjadi
diragukan dan kalau boleh saya simpulkan dari data yang saya lihat dan
tunjukan menjadi tidak mencerminkan kondisi di lapangan.

Hal ini tentu saja berbeda bila volume dibahas untuk saham yang sama. Itu
pun sebenarnya masih harus dengan catatan memperhatikan periode nya. Volume
transaksi ketika saham itu berada di harga sekitar 500 perak seperti BUMI
dulu di tahun 2009, dan volume ketika saham itu sudah berada di 3400 perak
seperti sekarang, tentunya sudah tidak pas untuk dibandingkan.

Sekedar sharing saja, dan semoga hal ini bisa bermanfaat.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu



2011/4/29 Angelo Michel <[email protected]>

>
>
> Setuju, kalau volume IHSG digunakan untuk dibandingkan dengan saham.
> Tapi kalau digunakan untuk dibandingkan dengan volume IHSG sendiri di
> periode yang berbeda, tentu akan releven.
>
> Tapi problemnya sekarang, masih banyak pihak yang data volumenya memasukkan
> volume di luar papan reguler, seperti papan nego. Seharusnya volume papan
> nego yang dimasukkan ke dalam chart TA. Krn transaksi di papan nego tidak
> melalui lelang market. Itu hanya internal. Dengan masuknya volume di papan
> nego, dipastikan akan menyesatkan.
> Makanya saya suka geleng2 kalau ada yang menggunakan analisa volume yang
> ada transaksi papan nego disana sehingga volume suatu hari bisa melonjak
> tinggi banget padahal tidak mewakili market.
> Jadi, kalau volume IHSG murni dari papan Reguler pasti akan cukup
> bermanfaat untuk analisa jangka pendek.
>
> Demikian pula halnya dengan volume saham. Jika digunakan untuk
> membandingkan antar saham, akan menyesatkan. Misalnya volume ASII mau
> dibandingkan dengan volume MIRA. Tentu akan menyesatkan, dikira ASII kalah
> liquid. Gunakan volume hanya untuk perbandingan dengan saham yang sama pada
> periode berbeda. Misalnya volume ASII hari ini dengan kemarin atau minggu
> lalu, dst.
>
> Nah kalau mau mengadakan perbandingan antar saham, wajib menggunakan value.
> Secara sederhana ya, value = volume x price. Dengan demikian lebih
> mencerminkan besarnya uang yang mengalir di saham-saham masing2 sehingga
> relevan untuk diadakan perbandingan.
>
> Best regards,
> Angelo
>
>
>
> ----- Original Message -----
> *From:* Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Friday, April 29, 2011 7:34 AM
> *Subject:* Re: [saham] Beware! Ada indikasi Bandar Sudah Open Sale!
>
>
>
> Hati2 dengan volume transaksi di IHSG, karena bisa menyesatkan/menjebak
> dalam pengambilang kesimpulan akhir. Lebih baik lihat value transaksi (nilai
> perdagangan) ketimbang volume transaksi.
>
> Sekedar sharing saja :)
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
> 2011/4/28 Angelo Michel <[email protected]>
>
>>
>>
>> Setelah *Bullish Cage* gagal meneruskan kenaikan Indeks, *Red 
>> Arrow*memberikan sinyal jual. Upaya indeks untuk menembus ke atas
>> *resistance* pun gagal. Ini menunjukkan ada kekuatan jual yang cukup
>> besar. Ini diteguhkan lagi oleh volume transaksi yang besar. Jika ini benar
>> berarti Bandar sudah Open Sale!
>> Dibutuhkan kekuatan beli yang mampu mendorong indeks menembus *resistance
>> * di *3815* agar kekuatan jual ini dapat dipatahkan.
>> Maka, ini adalah pengingat agar berhati-hati karena jika tidak ada
>> kekuatan beli yang bisa memenuhi syarat di atas, koreksi dengan penurunan
>> akan cukup dalam.
>>
>>  *DISCLAIMER ON*
>>
>> Grafik di atas adalah hasil AMTACharts (http://id.amtacharts.com)
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
> 
>

Kirim email ke