SINGKAWANG - Seperti daerah tropis lainnya di Indonesia, Bengkayang ternyata dianugerahi pesona baik alam maupun budaya serta potensi lain yang tidak kalah menarik dan dianggap mampu menarik perhatian orang banyak untuk mengunjungi daerah dengan sebutan bumi Sebalo ini. “Namun hingga sekarang masih minim pemilik modal yang berminat menanamkan modalnya dalam mengembangkan potensi yang ada menjadi objek wisata di Bengkayang,” kata Kepala Tata Usaha Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Bengkayang, Agustinus. B.D.N di ruang kerjanya, Selasa (16/9). Menurut Agus-sapaannya, masih belum tingginya kesadaran masyarakat terhadap pariwisata dan masih minimnya promosi objek wisata daerah menjadi faktor penyebab para pemilik modal (investor) belum melirik daerah yang berbatasan darat dengan Negara tetangga, Malaysia.
Agus menyebutkan, pesona wisata yang dianggap sudah mampu menarik investor hanya objek di Pantai Samudera Indah (PSI) yang berada di kecamatan Sungai Raya. Itupun karena pada awalnya masyarakat setempat telah memiliki kesadaran wisata, dimana mereka mampu memanfaatkan potensi pantai menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Oleh karena itu, upaya yang menjadi prioritas pihaknya sekarang adalah menanamkan sadar wisata pada masyarakat seperti memberi pelatihan atau lokakarya bagi mereka dan promosi ke berbagai daerah hingga luar negeri. Dalam setahun, sedikitnya ada tiga Negara yang menjadi tujuan promosi. Wisata Andalan Bengkayang Setelah dimekarkan dari kabupaten Sambas, sembilan tahun yang lalu (27 April 1999), sampai saat ini Bengkayang belum mempunyai objek wisata buatan seperti Taman Alun Kapuas (Pontianak), Taman Mini Indonesia Indah (TMII, Jakarta), Kebun Raya Bogor dan lainnya. Lagi-lagi, kendala finansial menjadi alasan utama belum adanya sarana itu. Mengatasi kekurangan tersebut, Bengkayang masih menonjolkan pesona wisata alam dan budaya sebagai objek yang dapat dikembangkan. Daerah yang menjadi target utama pengembangan terletak di wilayah kepulauan dan perbatasan. Seperti wisata bahari di kecamatan Sungai Raya Kepulauan dan wisata alam dan budaya di daerah perbatasan (dengan Malaysia). “Wisata budaya itu seperti Nyobeng, ritual adat dari Sebujit, Siding ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun dan masuk dalam kalender wisata Bengkayang,”. Agus menjelaskan, pentingnya (bukan berarti daerah lain tidak diperhatikan) pengembangan wisata didaerah perbatasan karena ianya akan menjadi cerminan Indonesia dimata Negara tetangga kita. Selain kedua potensi wisata itu tadi, Cap Go Meh dan wisata Kuliner sebagai potensi yang juga lagi dikembangkan. Sumber : www.borneo-tribune.net
