SINGKAWANG-Akhirnya, rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Kapolres Singkawang, AKBP Subnedih memutuskan hanya satu lokasi untuk membangun tiga altar. Pertimbangan satu lokasi itu demi keamanan dan kelancaran lalu lintas. Sebelumnya, saling ngotot bahwa aliran Tri Dharma yang dipimpin oleh Bong Wui Khong membangun altar di Jalan Budi Utomo. Sedangkan, pimpinan Majelis Tao Indonesia, Chai Khiat Khiong berkeinginan untuk membangun altar di Jalan Niaga (Sindo Agung). Setelah diambil sikap dan diberikan penjelasan soal pengamanan dan hak warga sipil lainnya juga harus diperhatikan, kedua pimpinan aliran ini sepakat untuk satu lokasi dengan tiga altar.
Hal itu juga diungkapkan oleh Ketua Umum Imlek dan Cap Go Meh 2009, Suhadi Abdullani, menerima untuk mendirikan tiga altar di satu lokasi. Kemudian, rapat yang juga dihadiri oleh Kepala Kejaksaan Negeri Singkawang, Samsuri, Kasbrig 19 Khatulistiwa, Letkol Inf Bambang AP, dan Kasdim 1202 Singkawang, Mayor Bambang dan seluruh perwira yang ada di Polres Singkawang, mempersilahkan para pihak untuk melihat lokasi dalam pembangunan altar ini. "Demi keamanan, maka kita terima apa yang diungkapkan muspida. Kita hanya minta ditentukan lokasi altar itu dimana, supaya memudahkan untuk membangunnya," kata Bong Wui Khong. Pernyataan Bong Wui hong ini langsung disambut tepuk tangan dari hadirin. Kemudian, panitia, Tri Dharma dan MTI pun sepakat pergi ke tugu naga tempat lokasi akan dibangunnya altar. Berkumpulnya sejumlah tokoh Tionghoa yang sering berpolemik dan sejumlah perwira ini, membuat geger warga yang sedang melintas. Mereka bertanya-tanya apakah kasus penolakan pembangunan tugun naga terulang kembali. Setelah dijelaskan dan polisi lalu lintas minta untuk tidak berhenti, akhirnya warga pun pergi. Namun, warga terus berkumpul di sekitar patung naga yang kini sedang dikerjakan oleh pekerja seni, untuk mencari tahu gerangan yang terjadi. Di lokasi patung naga tersebut, tidak diperoleh dimana titik pembangunan altar yang diperuntukkan bagi panitia, Tri Dharma dan MTI. Mereka saling ngotot dan bahkan hampir membuyarkan kesepakatan yang telah ditempuh di Mapolres Singkawang sebelumnya. Polisi melihat situasi yang memanas dan berkumpulnya sejumlah warga, akhirnya digiring lagi ke Mapolres Singkawang. Di polres, langsung dipimpin oleh Waka Polres, Kompol Ridwansyah, Kasat Lantas, AKP Rahmat Tri Haryadi dan Kasat Intelkam, AKP Suwarta. Menurut polisi, semua pihak harus menerima apa yang sudah dijadikan sebuah kesepakatan. Soal lainnya misalnya soal uang dan teknis lainnya, polisi tidak mau mengaturnya. Polisi juga hanya berkoordinasi dengan panitia dan siap mengamankan jalannya ritual cap go meh yang sudah masuk dalam kalender event nasional yang tinggal beberapa hari lagi. Sekretaris Panitia Harian Imlek dan Cap Go Meh 2009, Bong Cin Nen di depan sejumlah perwira polisi memaparkan soal dana yang ada dan berapa santuan yang diberikan oleh panitia kepada tatung yang akan menggelar ritual keagamaan ini. Selain menyantuni para tatung, permainan naga dan sebagainya, panitia juga memberikan santunan kepada group kesenian yang akan ditampilkan secara bertutut-turut mulai tadi malam. Kata Bong Cin Nen, mereka akan memperoleh satu juta rupiah pergroup, sedangkan yang terdaftar di MABT yakni, wayang gantung, musik kecapi dan lainnya memperoleh 2,6 juta perkelompok. Bong Cin Nen juga menyebutkan, dana pengamanan yang diajukan Polres sebesar Rp200 juta. Diakui Bong Cin Nen, bila ada kelebihan dana setelah usai cap go meh, maka sebesar 40 persen sebagai dana kas untuk perayaan cap go meh tahun berikutnya, dan 60 persen akan disimpan di pemkot dan kelola dengan sebaik mungkin. (zrf) Sumber : http://pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=14211
