Seorang Tatung Sesalkan Panitia Robek Kartu Anggota MTI SINGKAWANG -- Polemik Cap Go Meh sudah merambah kepada para tatung yang akan beratraksi pada perhelatan akbar hari kelimabelas imlek tersebut, 9 Februari 2009 mendatang. Rabu (3/3) kemarin, dua orang yang mengaku tatung dari Majelis Tao Indonesia Resort Kota Singkawang, secara terpisah melakukan dua hal yang kontras. Yang satu Liu Sin Fui kecewa karena menganggap panitia ingkar janji. Dan satu lagi, Li Tjun merobek kartu keanggotaannya dari MTI (Majelis Tao Indonesia) dan menyatakan keluar.
Liu Sun Fui kepada Pontianak Post mengaku, pagi itu dia datang untuk mengambil bantuan dari panitia untuk tatung yang akan beratraksi. Tapi, apa yang didapatnya tidak sesuai harapan. "Saya diintervensi. Janji panitia untuk mengambil uang Rp2,5 juta (untuk yang ada tandu) tanggal empat. Rupanya panitia tidak tepat janji. Sampai disana, saya disuruh tandatangan untuk tidak setuju pembangunan tiga altar, seperti yang sudah disepakati dalam rapat di Polres Singkawang (Selasa 3/2) dan harus mengikuti keinginan panitia membangun satu altar. Kalau tidak tandatangan, uang tidak diberikan," kata Liu Sin Fui kemarin sepulang dari Sekretariat Panitia CGM Jalan Kepol Mahmud Singkawang. "Jangan intervensi para tatung. Kan sudah ditetapkan satu lokasi tiga altar. Seharusnya satu orang tatung yang pakai tandu mendapat bantuan Rp2,5 juta. Kalau tidak pakai tandu Rp250 ribu. Rp250 ribu, bikin pakaian saja tidak cukup, beli gaharu dan beli obat-obatan mana bisa," tegasnya. Ia mengatakan, banyak juga tatung yang terpaksa menandatangani karena sudah terlanjur didaftarkan. Oleh karena itu, ia meminta panitia komitmen dengan keputusan. "Itu pembohongan publik. Kami tidak mau tahu soal altar. Panitia boleh minta sumbangan di depan umum. Kok tatung tidak boleh. Kami bisa jalankan buku paramitha. Kasih dana secukupnya, agar tatung tidak minta sumbangan," katanya berang. "Tanggal 6 mendatang para tatung akan unjuk rasa di depan DPRD dan Wali Kota. Kami siap menunggu," tambahnya menegaskan. Sementara itu, siang harinya di Sekretariat Panitia Cap Go Meh, Li Tjun atau Acun yang juga seorang tatung merobek-robek kartu keanggotaannya dari MTI. Alasannya? "Selama ini tidak ada santunan apa-apa dari MTI. Saya sebagai anggota jadi kecewa. Tidak ada kompromi dengan anggota untuk membangun altar. Saya menyatakan keluar dari keanggotaan. Saya merobek kartu sebagai bentuk protes," kata Li Tjundi depan wartawan. Menurutnya, banyak juga para tatung yang kecewa dengan MTI. Akan tetapi, kata dia lagi, belum berani mengambil sikap tegas seperti dirinya. Aksi ini mendapat perhatian banyak orang yang ada di sekretariat tersebut dan disela-sela kesibukan panitia menyiapkan even Cap Go Meh tahun 2009 nanti. Menurutnya, aksi yang dilakukannya tersebut, mewakili ratusan dari tatung MTI lain yang merasa dikecewakan. "Kami tatung bingung terjadi masalah seperti ini. Kami setuju satu altar saja," tegasnya. Tanggapan Iwan Gunawan mantan Ketua Panitia Induk Cap Go Meh tahun 2007 dan sekarang menjabat sebagai Koordinator Sub Kegiatan Malam Hiburan Imlek dalam susunan kepanitiaan Imlek dan Cap Go Meh 2560 Kota Singkawang tahun 2009, membenarkan apabila panitia menunda sampai tanggal enam bagi tatung yang tidak menandatangani. "Benar. Alasannya kegiatan ini butuh dana milyaran. Sumber dari APBD dan donatur. Kita akan melakukan rapat internal menyikapi kondisi yang kacau seperti ini. Kalau seandainya ngotot tiga altar, ada konsekwensinya. Kalau Tao dan KBUT (Keluarga Besar Umat Tri Dharma), santuni sendiri anggotanya. Jangan dibebankan kepada panitia," tegas Iwan. Ia kemudian menjelaskan, bahwa susunan kepanitiaan imlek dan Cap Go Meh 2560 tahun 2009 kota Singkawang sudah berdasarkan SK Walikota nomor 178 tahun 2008. Juga, ada izin dari kepolisian No.Pol: SI/18/II/2009. "Altar seutuhnya kewenangan panitia sebagaimana diatur dalam SK pada huruf I, yang menyebutkan ritual keagamaan hanya boleh dilakukan di lingkungan kelenteng atau tempat yang ditentukan panitia," katanya. Dia menambahkan lagi, "Satu Altar terdiri dari delapan tenda. Menggunakan lahan 8x24 meter. Kemudian altar tiga tingkat, meja persembahan dan meja pendupaan. Pada tahun 2008 lalu, konsepnya, dalam satu altar dibangun tiga meja pendupaan. Jadi tidak mungkin membangun tiga altar dalam satu lokasi. Kalau satu altar tapi tiga meja pendupaan iya." Apa kata Ketua MTI Resor Kota Singkawang? Chai Ket Khiong dihubungi mengatakan, tetap meminta pertanggungjawaban dalam keputusan rapat muspida yang dipimpin oleh Kapolres Singkawang AKBP Subnedih Selasa (3/2) kemarin. Dalam rapat itu, kata dia, sudah diputuskan untuk membangun tiga altar. "Hasil rapat yang dipimpin oleh Kapolres dan dihadairi muspida serta para perwira polisi, jangan dilecehkan," kata Akiong. "MTI juga sudah menyewa pengacara untuk melakukan gugatan kepada panitia dan memPTUN-kan Wali Kota," tambahnya. Ia mengharapkan, terkait masalah ritual jangan ada siapapun mencoba melakukan intervensi terhadap Agama Tao. "Karena kita punya ritual pada Yang Maha Kuasa. Ritual ini sudah dijamin UUD 1945 jadi jangan dilecehkan. Tolong ketua umum, jangan biarkan anak buahnya memprovokator umat kami. Kalau tidak mampu bubar saja panitia itu. Mentang-mentang punya duit dan punya kekuasaan. Ini bukan zaman oprde baru. Saya tetap tiga altar sesuai kesepatakan muspida dibawah pimpinan rapat kapolres dan perwiranya dan muspida," tegas Akiong. Menanggapi adanya anggota MTI yang merobek-robek dan menyatakan diri keluar, Akiong mengatakan, akan segera melapor ke kepolisian, jika memang benar itu terjadi. "Nanti saya dengan pengacara saya akan bikin laporan. Saya berharap polisi mengusut tuntas kasus ini, dan siapa di balik ini semua," kata Akiong. Akiong mengatakan, tatung di bawah MTI tidak bisa terpisah dan diadu domba. "Memang umat Tao tidak diberikan santunan apapun. Yang ada setiap tahun memberikan buku paramitha, untuk minta sumbangan masyarakat. Itu sudah peraturan Tao. Kita berikan buku paramitha grastis tanpa pungut biaya. Kita juga tidak pernah memaksakan kehendak seseorang untuk masuk agama Tao. Mereka datang sendiri ke kantor sekretariat, kita tidak memungut bayaran. Silahkan saja keluar, kita tidak memaksa kehendak," kata Akiong. "Jangan selalu memprovokator masyarakat. Kalau ketua umum tidak bertanggungjawab, kami akan demonstrasi Wali Kota, tidak ada terkecuali," tegas Akiong. Menanggapi masalah pembangunan altar untuk cap go meh yang berpolemik, Rudi Harjana tokoh masyarakat Singkawang mengatakan, sebaiknya dibangun dua altar saja. "Kalau tiga altar takutnya susah menjaga keamanannya. Kalau satupun diributkan. Lebih baik dua saja, kalau diizinkan, daripada ribut semua," ungkapnya. "Berhubung ini even nasional, semua pihak harus menahan diri. Takutnya nanti menggangu kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Singkawang. Panitiapun, harus menonjolkan sisi kemanusiaan, kalau nanti pada hari-H tatung ada accident, harus diperhatikan, jangan seperti tahun sebelumnya," tambahnya. (ody) Sumber : http://pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=14264
