ASISTEN II Sekda Kalimantan Barat, Drs Maryadi Msi, mewakili Gubernur Cornelis 
dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat Chistiandy Sanjaya mengatakan sudah saatnya 
meningkatkan persatuan dan kesatuan.  Sehingga masyarat diharapkan dapat 
bahu-membahu memajukan pembangunan di Kalbar ini.“Tidak ada diskriminasi 
terhadap antar warga, suku, agama dan ras termasuk masyarakat Tionghoa, kita 
semua sama. Oleh sebab itu, perbedaan yang ada harus menjadi kunci sukses 
bekerjasa membangun daerah,” ungkapnya usai menghadiri jelang perayaan Cap Go 
Me di Pemangkat, Senin (9/2) malam, kemarin.

Bahkan pemerintah telah menerbitkan UU No 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan 
Indonesia. Dia mengatakan UU tersebut menempatkan etnis Tionghoa dalam 
persamaan dan kesetaraan dengan warga negara Indonesia lain, baik kehidupan 
berbangsa dan bernegara.  “UU tersebut membuat etnis Tionghoa di Indonesia 
otomatis memperoleh status kewarganegaraan tanpa harus memiliki SBKRI surat 
bukti kewarganegaraan Republik Indonesia,” ungkapnya. Terlihat mendampingi 
Asisten II, Sekda Sambas Tufitriandi, Camat Pemangkat M Syerli Sos, Kapolsek 
Pemangkat IPTU Abilio Dos Santos, Dankie kompi senapan B Pemangkat, staf ahli 
bupati bidang pemberdayaan kemasyarakat drg Subowo, Dan Ramil Pemangkat 
Paningun. Dan jajaran muspida Sambas lainya. 
Dalam kesempatan tersebut, Asisten II bersilaturahmi dengan sejumlah tokoh 
Tionghoa baik dari Tridharma dan Makin.

Dalam kunjungannya di altar pertama panitian CGM tridharma lalu menuju altar 
kedua Panitia Makin Pemangkat, asisten II tetap menekankan bahwa tidak ada 
diskriminasi. Setiap pelayanan pemerintahan sudah sama tidak ada lagi 
perbedaan. Dia meminta kebijakan pemerintah ini untuk disosialisasikan kepada 
masyarakat luas. Sehingga mengerti bahwa agama Konghucu sudah diakui dan 
masyarakat Tionghoa dianggap sama. Bahkan pemerintah juga tahun 2007 sudah 
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007. yakni mengenai 
pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Dimana, kata dia, salah satunya 
agama Konghucu sudah ada kurikulum pengajaran di sekolah atau jalur formal. 
Sehingga masyarakat konghucu dapat mempelajari agama dan keyakinan sesuai iman 
mereka.

Sementara itu, penasehat Makin Pemangkat, Bong She Khiong atau yang diakrab 
sapa Zayadi ini sangat berbangga kedatangan tamu dari provinsi. Dari pertemuan 
dengan Asisten II, Zayadia mengatakan pesan gubernur untuk menjaga persatuan 
dan kesatuan. Dengan mengikis rasa diskriminasi baik di dalam pelayanan 
pemerintahan, maupun kehidupan masyarakat, sosial, budaya.  “Kita mewakili 
masyarakat tionghoa dan Konghuchu khusunya merasa senang, karena kami pun tidak 
lagi harus membawa SKBRI apabila berlayanan dengan pemerintah,” katannya. 
Sebelum meninggalkan Pemangkat, Asisten II dan Sekda Sambas didaulat untuk 
menghidupkan petasan dalam rangka merayakan malam jelang Cap Go Me. Sehingga 
disambut tepuk tangan masyarakat. kemudian perpisahan pun diselingi pelukan dan 
salaman hangat asisten II kepada masyarakat dan panitia Cap Go Me. (har)

Sumber : http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=14572

Kirim email ke