SINGKAWANG -- Situasi keamanan pada saat perayaan Cap Go Meh patut disyukuri. Hal ini tak lepas dari kinerja aparat kepolisian dan peran serta masyarakat. Atraksi tatung tersebut, menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat. “Atraksi ini tidak ada di tempat lain, hanya ada di Singkawang. Saya berharap bisa kembali datang lagi kesini tahun depan,” kata Dina yang datang dari Pontianak ke Singkawang untuk menyaksikan Cap Go Meh, kepada koran ini kemarin. Ia sejak pagi sudah berada di Pekong Tua untuk menyaksikan tatung menjalankan ritual. Dari tempatnya menginap di kawasan Jalan Firdaus, ia memilih untuk berjalan kaki bersama keempat rekannya. “Kalau pakai mobil, susah keluarnya. Pasti macet. Saya sudah memprediksikan,” jelasnya.
Dan ternyata benar. Sekitar pukul 09.30 WIB, tatung mulai bergerak, jalan yang dilalui para tatung penuh sesak manusia. Berbaur dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Polisi juga sibuk mengatur lalu lintas dan para pengguna jalan, serta penonton yang membludak tersebut. “Saya asli Medan dan baru kali ini datang menonton Cap Go Meh. Sudah dua hari saya berada disini, beserta suami, anak dan menantu saya,” kata seorang ibu yang mengaku berasal Medan Sumatera Utara kepada Pontianak Post ketika menunggu pelepasan arakan tatung di Stadion Kridasana Singkawang kemarin pagi. Ia mengatakan, di Medan tidak ada atraksi tatung seperti di Kota Singkawang. Sebab, kata dia, di sana hal itu dilarang. “Yang ada cuma disini saja, di Medan tidak diperbolehkan,” kata ibu tersebut. Dia mengaku mengetahui adanya Cap Go Meh dari berita di koran. Lalu hal itu membuatnya tertarik, untuk mendatangi kota dengan julukan seribu kuil ini. “Saya tahunya dari koran, lihat berita, kalau ada Cap Go Meh,” katanya. Menurutnya, situasi keamanan kota Singkawang juga patut diacungi jempol. Ia menambahkan, kota ini juga nyaman untuk dikunjungi sebagai kota wisata. “Disini kalau barang diletakkan di luar rumah, mungkin tidak hilang. Coba kalau di Medan, jangan tanya kemana rimbanya,” ungkapnya. Wijaya Kurniawan, ketua Majelis Adat dan Budaya Tionghua Singkawang juga membenarkan, kalau Kota Singkawang memang kota yang nyaman dan aman kepada keluarga tersebut. “Singkawang ini kota yang aman dan nyaman. Masyarakatnya hidup berdampingan,” jelasnya. Sementara itu, pantauan koran ini di lapangan, sore hari suasana kota kembali lengang. Tidak ada lagi aktifitas yang menonjol. Kota kembali bersih, setelah pada puncak Cap Go Meh, banyak sampah makanan dan minuman di jalanan. Hal ini tak lepas dari peran pasukan kuning dari UPT Dinas Kebersihan Kota Singkawang, yang langsung terjun ke lapangan, setelah para tatung kembali ke tempat mereka masing-masing. Aktifitas ekonomi pun berjalan seperti biasanya. Gerobak-gerobak yang menjual makanan dan minuman sehari-hari, berjualan sejak pagi, hingga malam hari. (ody) Sumber : http://pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=14480
