Dear. Eugenia Wu
Salam sukses,
Langsung ke topik aja ya, kita bicara soal keunikan Cap Gomeh,
otomatis 'sense of the event' adalah hal-hal yang menyangkut apa
adanya dari event itu. Banyaknya intervense (atas dasar apa saja),
dikhawatirkan merubah roh/nyawa dan keunikannya perayaannya. Maksud
saya, itu adalah turunan nenok moyang kita, sudah diakui pemerintah
(maksudnya=sudah lolos sensor), dan sudah dijadikan event pariwisata,
biarkanlah berlangsung apa adanya. Toh, selama perayaan, cuma beberapa
yg terkorbankan dan setahun sekali.
Nenek moyang kita tidak menggunakan anak Macan, anak Koala, atau anak
manusia sebagai bagian dari prosesi, so, jgn memcampur-adukan sesuatu
yang tidak relevan sebagai perbandingan. Juga jgn membandingkannya
dengan memakan binatang tiap bulan supaya ada acara menarik. Mohon
simak kembali, apakah perbandingan yg anda sampaikan cukup mengena
dengan kasus ini?
Mungkin kita harus menolak mentah-mentah adanya Cap Gomeh kalau sampai
terjadi 'pembantaian binatang'.
Hati nurani sayapun sebetulnya menolak adanya prosesi demikian, namun
saya takut terlalu mengikuti egonya saya (kita), sampai harus menolak
sesuatu tatanan yg sudah ada selama ratusan tahun.
Salam, Edhylius.





--- In [email protected], eugenia wu <eugeni...@...> wrote:
>
> Dear Sdr. Edhylius_sean ,
>  
> Bagaimana kalau si Puppy Hitam dan SiKukuruyuk diganti dengan Anak
Macan Sumatera, Anak Komodo, Anak Koala, Anak Panda dan atau Bayi
manusia yang dimakan hidup-hidup oleh para Tatung ? 
> Apakah masih akan ada kalimat dibawah ini :
> Untuk kategori festival tahunan, dan atas dasar prosesi, terlalu naib
> kalau kita akan memvonis sebagai kekerasan terhadap hewan.
> Biasanya masyarakat juga maklum dan menerimanya sebagai bagian dari
prosesi
> ketimbang ekspos kekerasan pada binatang.
> Bukankah:
> harus ada pengecualian untuk
> sesuatu hal, pada sesuatu kondisi, dan pada sesuatu kepentingan.
> 
> Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, di
> mana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga?
> Jadi apabila keunikan CGM Singkawang hanyalah acara makan-makan
binatang hidupnya saja yang dapat menarik wisatawan, maka mendingan
setiap bulan di Singkawang diadakan acara makan binatang hidup saja,
biar wisatawan lebih banyak lagi yg datang, kalau menunggu setahun
sekali (CGM) kayaknya kelamaan deh..... Lumayan kan kalau setiap bulan
ada rombongan wisatawan yang datang, dan Singkawang akan cepat
terkenal sampai keseluruh penjuru Dunia atas kehebatannya memakan
binatang secara hidup2.
>  
> Salam 
>  
> Eugenia





--- In [email protected], eugenia wu <eugeni...@...> wrote:
>
> Dear Sdr. Edhylius_sean ,
>  
> Bagaimana kalau si Puppy Hitam dan SiKukuruyuk diganti dengan Anak
Macan Sumatera, Anak Komodo, Anak Koala, Anak Panda dan atau Bayi
manusia yang dimakan hidup-hidup oleh para Tatung ? 
> Apakah masih akan ada kalimat dibawah ini :
> Untuk kategori festival tahunan, dan atas dasar prosesi, terlalu naib
> kalau kita akan memvonis sebagai kekerasan terhadap hewan.
> Biasanya masyarakat juga maklum dan menerimanya sebagai bagian dari
prosesi
> ketimbang ekspos kekerasan pada binatang.
> Bukankah:
> harus ada pengecualian untuk
> sesuatu hal, pada sesuatu kondisi, dan pada sesuatu kepentingan.
> 
> Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, di
> mana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga?
> Jadi apabila keunikan CGM Singkawang hanyalah acara makan-makan
binatang hidupnya saja yang dapat menarik wisatawan, maka mendingan
setiap bulan di Singkawang diadakan acara makan binatang hidup saja,
biar wisatawan lebih banyak lagi yg datang, kalau menunggu setahun
sekali (CGM) kayaknya kelamaan deh..... Lumayan kan kalau setiap bulan
ada rombongan wisatawan yang datang, dan Singkawang akan cepat
terkenal sampai keseluruh penjuru Dunia atas kehebatannya memakan
binatang secara hidup2.
>  
> Salam 
>  
> Eugenia
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: edhylius_sean <edhylius_s...@...>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, February 11, 2009 4:40:01 PM
> Subject: [Singkawang] Re: Makan Binatang
> 
> Saya setuju dengan adanya larangan makan binatang saat prosesi, namun
> kita juga harus arif dalam melihat dan memberikan kritikan/opini.
> Untuk kategori festival tahunan, dan atas dasar prosesi, terlalu naib
> kalau kita akan memvonis sebagai kekerasan terhadap hewan.Biasanya
> masyarakat juga maklum dan menerimanya sebagai bagian dari prosesi
> ketimbang ekspos kekerasan pada binatang.
> Saya malah membayangkan suatu hari orang2 akan berteriak agar para
> tatung tidak boleh menggunakan senjata tajam karena membahayakan.
> Logikanya memang membahayakan kan? Jadi, harus ada pengecualian untuk
> sesuatu hal, pada sesuatu kondisi, dan pada sesuatu kepentingan.
> Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, di
> mana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga?
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], LIU MERY <mery_vanny@> wrote:
> >
> > emang bener sih tidak baik buat ditonton para anak-anak.
> > tapi pertunjukan seperti itu mungkin lebih menarik para penonton
> > hehehe
> >  
> > --- On Tue, 2/10/09, United.Singkawang <united@> wrote:
>


Kirim email ke