JAKARTA -- Meskipun alokasi APBN tahun 2009 untuk Badan Koordinasi Keluarga 
Berencana Nasional (BKKBN) mengalami penurunan, tetapi gerakan Keluarga 
Berencana (KB) tetap dilaksanakan secara maksimal."Kita memang menghadapi 
keterbatasan-keterbatasan, tetapi kita tidak hanya terpaku pada keterbatasan 
itu," kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan 
Komisi IX DPR di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin, yang dipimpin Hasanuddin 
(Partai Demokrat).

Dia menjelaskan, dibanding tahun 2008, alokasi APBN untuk BKKBN mengalami 
penurunan. Jika tahun 2008 sebesar Rp1,2 triliun, menurun menjadi Rp1,19 
triliun untuk tahun 2009. Sedangkan tahun 2006 sebesar 700 miliar dan tahun 
2007 sebesar Rp1,04 triliun.Idealnya, kata Sugiri, alokasi APBN untuk program 
KB berkisar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun. Dengan menurunnya aggaran untuk 
tahun 2009, sejumlah program BKKBN dikurangi."Kegiatan operasional memang tidak 
optimal, tetapi kita tetap berusaha agar tidak hanya terpaku pada 
keterbatasan," katanya.


Sugiri mengemukakan, kampanye-kampanye yang diselenggarakan BKKBN di media 
memang agar berkurang. Tetapi BKKBN kerjasama dengan pihak lain, tetap bisa 
menyelenggarakan kampanye di media, walaupun tidak gratis tetapi biaya kampanye 
dapat ditekan. "Misalnya, dengan pengelola Empat Mata kemarin," katanya. 


Meskipun ada keterbatasan anggaran, dia optimistis, program KB tidak mengendur. 
BKKBN bekerjasam dengan intansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta 
kelompok-kelompok masyarakat tetap melaksanakan kegiatan untuk pemasyarakatan 
KB dengan menciptakan penyuluh atau petugas lapangan. Jumlah Petugas Lapangan 
KB (PLKB) pada era sebelum refeormasi sebanyak 26 ribu orang, mengalami 
penurunan pada beberapa tahun setelah reformasi dengan jumlah PLKB sebanyak 19 
ribu orang. saat ini, jumlah PLKB sudah mengalami kenaikan hingga mencapai 22 
ribu orang.


Salah satu kelompok masyarakat yang aktif menyosialisasikan program KB adalah 
Masyarakat Adat dan Budaya Tionghoa dari Singkawang. Kelompok yang dipimpin 
Rudi Wijaya ini aktif melakukan kampanye KB di amsyarakat Tionghoa di 
Singkawang dan sekitarnya.Kelompok ini juga sedang berusaha menyadarkan 
persepsi yang salah di sebagian masyarakat Tionghoa yang ada di Singkawang di 
sekitarnya. Sebagian masyarakat Tionghoa di daerah ini menganggap bahwa banyak 
anak banyak rezeki.


Padahal mereka pendapatannya kecil. Anak yang banyak mengakibatkan keluarga 
mereka miskin. "Kita berusaha mengubah persepsi itu," kata Rudi 
Wijaya.Penyebaran KB di masyarakat Tionghoa yang ada di Singkawang dilakukan 
dengan bahasa setempat (Tionghoa). "Kelemahan program KB selama ini karena 
persoalan bahasa. Tetapi kami berusaha mengubah persepsi mereka dengan bahasa 
mereka, meski keterbatasan juga dihadapi kami yang ada di lapangan," katanya. 
ant/kpo.

Sumber : 
http://republika.co.id/berita/31883/Anggaran_Turun_Program_KB_Tetap_Maksimal

Kirim email ke