Dear Bapak Edhylius, Dari semula saya sudah mengatakan saya bukan pihak yg menyetujui adanya prosesi makan hewan, hanya saja saya khawatirkan, tentangan keras anda akan mereferensi kepada hal yg lebih jauh. Semua orang akan setuju dgn yg anda sampaikan karena memang tidak sesuai dgn adat timur dan prike'hewan'an. Iya Pak, pada awalnya Bapak memang mengatakan tidak setuju dengan aksi makan binatang hidup tersebut, tetapi dalam kalimat Bapak sepertinya tidaklah terlalu tidak setuju karena masih ada pengecualian, gitu loh. Soalnya kalau menurut saya pribadi, apabila tidak setuju ya tidak setuju gitu, dan kalau tidak setuju maka kita tidak akan mengiyakan, jadi mungkin kalimat Bapak yang membuat kesalahpahaman sehingga saya menganggap Bapak setuju . Kadang2 egonya kita karena merasa kita pintar dan punya jaringan yg luas harus mengorbankan apa yg sudah ada selama ratusan tahun. Wah mungkin "kita" yang Bapak maksudkan disini tidak termasuk saya, mungkin Bapak masih ingat Bapak Jusuf Djamaluddin pernah mengatakan bahwa "IQ saya (eugenia)Jongkok" , dan saya juga tidak memiliki jaringan-jaringan seperti yang Bapak maksudkan, karena saya hanya memiliki jaringan Telephone dan Internet. Ingin sih memiliki jaringan-jaringan lain seperti yang Bapak maksudkan, kan lumayan kalau bisa membantu pembangunan di Singkawang, tapi sayang sekali saya tidak memilikinya. Kalau bicara soal CGM di sini menurut etika dan norma, sebenarnya tidak ada satu hal pun yg pantas dipertontonkan (ekspos makan binatang dan kekerasan). Perkiraan saya, anda pasti setuju kalau CGM tanpa menggunakan senjata tajam, karena saya yakin anda adalah pihak yang anti kekerasan apalagi dipertontonkan di depan umum. Begini Pak.... Saya memang tidak suka dengan kekerasan, tetapi pandangan saya pribadi, untuk perayaan Cgm dengan membawa senjata tajam itu Ok ok saja selagi senjata tajam itu tidak dipergunakan untuk melukai orang atau makhluk lain. Salam Eugenia
--- On Thu, 2/12/09, edhylius_sean <[email protected]> wrote: From: edhylius_sean <[email protected]> Subject: [Singkawang] Re: Makan Binatang To: [email protected] Date: Thursday, February 12, 2009, 6:03 PM Dear Ibu Eugenia, Dari semula saya sudah mengatakan saya bukan pihak yg menyetujui adanya prosesi makan hewan, hanya saja saya khawatirkan, tentangan keras anda akan mereferensi kepada hal yg lebih jauh. Semua orang akan setuju dgn yg anda sampaikan karena memang tidak sesuai dgn adat timur dan prike'hewan'an. Nanti kalau orang lain protes tentang penggunaan senjata tajam, menampilkan kekerasan di depan umum dsb, itu juga logis. Semua alasan yg akan mereka sampaikan pasti masuk akal, karena hal tersebut memang dilarang. Kalau tentangan berlebihan dari anda didukung juga oleh pihak yg memprotes penggunaan senjata tajam dan menampilkan kekerasan di depan umum, mungkin saatnya nanti pemerintah harus melarang perayaannya. Kadang2 egonya kita karena merasa kita pintar dan punya jaringan yg luas harus mengorbankan apa yg sudah ada selama ratusan tahun. Kalau bicara soal CGM di sini menurut etika dan norma, sebenarnya tidak ada satu hal pun yg pantas dipertontonkan (ekspos makan binatang dan kekerasan). Perkiraan saya, anda pasti setuju kalau CGM tanpa menggunakan senjata tajam, karena saya yakin anda adalah pihak yang anti kekerasan apalagi dipertontonkan di depan umum. Salam lagi, Edhylius. --- In [email protected], eugenia wu <eugeni...@...> wrote: > > Dear Edhylius_Sean, > > Salam Persatuan dan Kedamaian ya…. > Langsung ke topik aja ya, > Iya Pak tanpa mengurangi rasa hormat saya, kita langsung masuk topik aja :) > > Kita bicara soal keunikan Cap Gomeh, otomatis 'sense of the event' adalah hal-hal yang menyangkut apa adanya dari event itu. Banyaknya intervense (atas dasar apa saja), dikhawatirkan merubah roh/nyawa dan keunikannya perayaannya. Maksud saya, itu adalah turunan nenok moyang kita, sudah diakui pemerintah (maksudnya=sudah lolos sensor), dan sudah dijadikan event pariwisata, biarkanlah berlangsung apa adanya. > >> > Sebenarnya yang Bapak Edhylius maksudkan lolos sensor adalah perayaan Cgm tersebut, tetapi bukan atraksi makan binatang hidupnya tersebut, buktinya pada tahun kemarin masih ada himbauan untuk tidak melakukan aksi memakan binatang hidup lagi didepan umum, dan karena himbauan tersebut maka Alhamdullilah, Puji Tuhan, Kan Hsie Fo Cu aksi tersebut menjadi berkurang, dari situ kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa aksi memakan binatang hidup tersebut sebenarnya bisa dihindari dan para Roh2 pun bersedia mendengarkan (saya tidak tahu apakah Roh-nya atau Manusia yg tubuhnya dirasuki tsb yg mendengar sehingga aksi tersebut menjadi berkurang. > Dan seingat saya, sewaktu kecil disaat menyaksikan atraksi Tatung, saya tidak melihat atraksi tersebut, ntah kapan dimulainya saya lupa, akhirnya atraksi memakan binatang hidup tersebut mulai ada, dan tradisi itu menjadi ngetrend sampai sekarang (sungguh tidak ingin memakai kata ngetrend untuk hal ini). > Kembali ke pembicaraan Dewa atau Roh, saya yakin seyakin yakinnya, bahwa apabila itu adalah Roh Dewa Dewi yang benar (sesuai dg Agama dan Kepercayaan), maka mereka tidak akan melakukan hal tersebut. > > Toh, selama perayaan, cuma beberapa yg terkorbankan dan setahun sekali. > >> > apapun itu dan berapapun jumlahnya tetap saja disebut korban yang tentunya tdk seirama dgn konteks roh atau dewa yg berhati baik kalau roh / dewa meminta korban apa itu bener2 roh / dewa yg masuk ketubuhnya? > Nah bagaimana dg kejadian 2 tahun yang lalu, disaat ada bbrp Tatung yang terluka, mengapa banyak yang protes kenapa panitia tidak memberikan perhatiannya? Nah apakah kita boleh berkata, "toh hanya bbrp saja yg terluka dan hanya setahun sekali"? itukan untuk kepentingan Cgm juga kan? > Kita sama-sama adalah mahkluk hidup yang bernyawa, yang punya perasaan takut saat akan dilukai apalagi dibunuh dengan cara yang begitu sadis. Jadi yang sedang kita usahakan dan perjuangkan adalah kesuksesan Cgm yang tanpa menjatuhkan korban-korban apapun dan siapapun dan berapapun jumlahnya. Karena tujuan awal dari perayaan Cgm (Dewa Dewi) adalah untuk mendatangkan kesehatan, kebahagian, kedamaian, dan hal-hal baik lainnya kepada manusia, jadi apabila Dewa/Roh yang bersangkutan sudah sampai meminta korban, maka perlu kita pertanyakan Identitas peminta korban tersebut. > Akan lebih bijaksana kalau Tatung yang memakan binatang / meminta korban itu tidak di ijinkan oleh pihak Panitia CGM untuk melakukan pawai dijalan2. Anggap aja itu sanksi yang harus mereka terima :) > > Nenek moyang kita tidak menggunakan anak Macan, anak Koala, atau anak manusia sebagai bagian dari prosesi, so, jgn memcampur-adukan sesuatu yang tidak relevan sebagai perbandingan. Juga jgn membandingkannya dengan memakan binatang tiap bulan supaya ada acara menarik. Mohon simak kembali, apakah perbandingan yg anda sampaikan cukup mengena dengan kasus ini? > >> > Iya Pak, makanya yg pantas kita pertanyakan kenapa Nenek Moyang kita tidak menggunakan anak macan, anak koala, anak panda ataupun anak manusia? Karena binatang2 tersebut adalah binatang2 yang dilindungi, termasuk manusia, karena ada HAM.. Jadi itu bertanda mereka hanya berani sama yang lemah dan tidak berdaya. Dan mereka bisa memilih yang lemah, jadi itu tandanya semua itu bisa diatur oleh manusia, karena seandainya itu kemauannya roh maka peduli amat dia dengan hukum yang dibuat oleh manusia. > Memang sih saya juga mendengar bhw ada kepercayaan bahwa darah anjing hitam bisa untuk mengusir hal-hal yg tidak baik atau roh2 jahat, tetapi semua itu dilakukan dengan menyemburkan atau menyemprotkan darah tersebut kesuatu tempat, tetapi bukan untuk diminum atau dimakan. Jadi untuk hal ini sudah melenceng, keluar dari aturan mainnya. > Mengapa saya mengatakan supaya mengadakan acara memangsa binatang hidup di Singkawang, semua ini berawal dari kalimat Bpk yang berbunyi : Kalo mau lihat Capgomeh tanpa senjata tajam, tanpa makan binatang, dimana-mana juga ada, ga perlu ke singkawang, tul ga? Nah jadi itu terkesan bahwa sebenarnya aksi senjata tajam dan makan binatangnya itulah yang bisa menarik wisatawan. Jadi mengapa harus cape2 menunggu setahun sekali, ya lakukan saja aksi senjata tajam dan makan binatangnya tiap bulan biar Singkawang dibanjiri wisatawan sepanjang tahun. Yang diperlukan kan bukan Atraksi tatung yang lain, hanya aksi makan binatang dan senjata tajamnya saja kan? Ya sesuai dengan saran Bapak saya sudah menyimak kembali perkataan saya dengan sebaik-baiknya, dan ternyata hasilnya ya tetap menuju kepada kesimpulan tersebut. > > Mungkin kita harus menolak mentah-mentah adanya Cap Gomeh kalau sampai terjadi 'pembantaian binatang'. Hati nurani sayapun sebetulnya menolak adanya prosesi demikian, namun saya takut terlalu mengikuti egonya saya (kita), sampai harus menolak sesuatu tatanan yg sudah ada selama ratusan tahun. > >> > Pak Edhylius, seandainya kita tidak bisa menerima aksi yang sadis tersebut maka sebaiknya kita berusaha menghentikannya sebelum aksi tersebut menjadi semakin besar dan susah untuk dikendalikan. Seperti dengan suatu Organisasi yang tidak baik, maka sebelum organisasi tersebut menjadi besar dan susah dikendalikan maka seharusnya sejak dia mulai berdiri dan masih kecil maka harus dibubarkan, Dan seperti anak kecil juga, saat dia masih kecil maka sudah harus dididik kejalan yg benar, tunggu udah gede dan udah jadi brandalan udah susah, ya ibaratnya api, masih kecil harus dipadamkan, tunggu udah gede ya repot deh, gitu loh Pak Edhylius… > Jadi sebagai bagian dari akulturasi kebudayaan yang berjalan seiring bergulirnya jaman, mungkin kebiasaan memakan binatang ini harus dikikis, salah satunya yach mungkin dgn pembatasan2 yang mungkin harus dibatasi sesuai dgn kaidah dan budaya yang berlaku skrg, mungkin pada jaman dahulu budaya memakan binatang dianggao sebagai sesuatu yang lumrah, namun tidak untuk jaman skr ini. > Lagian apabila kita mau melakukan survey, maka saya percaya akan lebih banyak orang yg tidak menyukai atraksi tersebut daripada yg menyukainya. > > Salam > Eugenia
